Pagi itu [Sabtu 2/7], kami tiba di base camp Ranupani dalam pendakian ke puncak Gunung Semeru. Masih Pukul 07.00 Wib. Kantor TNBTS belum buka. Kami mondar-mandir kedinginan sambil membaca segala macam pengumuman di dinding depan kantor. Menjelang Pukul 08.00, seorang lelaki menghampiri kami menanyakan apakah kami berencana mendaki Semeru. Serentak kami jawab: “Ya!”
“Silahkan masuk ke ruang briefing di sebelah sana ya,” katanya menunjuk tangga turun di belakang pos tiket.
Di ruang, briefing seorang voluntir sudah menunggu dengan sarung terkalung di leher dan sandal jepit. Ternyata penjelasannya canggih, jelas dan terperinci untuk menjaga keselamatan, jalur pendakian, apa yang tidak boleh, petunjuk-petunjuk yang harus diperhatikan, dlsb. Salut buat kaka voluntir yang keterangannya sangat bermanfaat dan membuka wawasan kita.

Semeru 3Salah satu penjelasannya yang menarik adalah tentang Ranu Kumbolo, danau suci umat Hindu dan Buddha. Sang Voluntir menjelaskan, di Ranu Kumbolo dilarang mandi, mencuci peralatan, berenang dan membuang sampah. Jika membutuhkan air untuk kegiatan cuci mencuci, bahkan gosok gigi, ambil airnya bawa menjauh paling tidak 10 m sebelum melakukan kegiatan mencuci.
“Air yang digunakan umat beragama untuk kegiatan upacara keagamaan sangat tidak elok kita perlakukan dengan seenaknya. Silahkan kembalikan kepada diri saudara-saudara sekalian, jika misalnya hal yang demikian dilakukan kepada anda,” katanya tegas.

Esoknya, Pukul 05.30 saya terbangun. Semalam kami mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Saya tidak menyadari kalau tenda kami dekat dengan batu prasasti Tirtahayatra. Pagi itu, saya keluar tenda menikmati cahaya matahari yang mulai bersinar lembut. Tidak jauh dari tempat saya berdiri seorang lelaki muda mengenakan sarung batik dan mulai menyalakan hio. Tanpa ragu-ragu dia duduk di atas rumput berembun, melipat tangan dan mulai mendoa. Bibirnya bergerak pelan seolah mendaraskan mantera. Saya terpukau menyaksikan kekhusukannya, tidak kurang dari 20 menit. Setelah dia berlalu, saya mendekati batu berlilit kain kuning, yang ternyata adalah prasasti Tirtahayatra.

Di depan prasasti yang dipagari kawat, saya lihat banyak sesajen yang mulai mengering. Hio anak muda tadi masih mengeluarkan asap yang wangi. Dari website Ekspedisi Cincin Api, saya mendapatkan bunyi prasasti itu: ‘Ling deva mpu Kameswara tirthayatra’ yang artinya seorang mpu yaitu bernama Kameswara pernah melakukan tirthayatra (ziarah suci) ke Gunung Semeru. Tafsir menyebutkan prasasti ini berasal dari masa kerajaan Kadiri (1182 M) karena Kameswara adalah raja di kerajaan tersebut. Namun tafsir lain mengatakan bahwa kata deva dan mpu adalah tokoh spiritual bukan raja dan dari hurup di prasasti lebih bergaya Jawa Tengah yang digunakan masa Majapahit.

Ternyata, nenek moyang kita sudah sejak lama mengenal yang namanya hiking. Hiking yang mereka lakukan bukan sekedar olahraga atau berwisata tetapi sekaligus juga dengan perjalanan ziarah.
Memang kawasan TN Bromo Tengger Semeru ini dikenal sebagai kawasan suci untuk umat Hindu khususnya suku Tengger dan Buddha. Kearifan spiritual mereka tidak hanya terkait dengan upacara keagamaan tetapi juga dengan kelestarian lingkungan. Setelah Ranu Kumbolo, ada beberapa pos yang harus dilewati sebelum sampai di Kalimati. Di setiap pos camping, ada beberapa pohon yang diikat kain putih. Kain putih ini menandakan dilarang mendirikan tenda di bawah pohon tersebut, karena mereka meyakini ada makhluk dunia lain yang berdiam di situ. Bahkan, setiap tahun ada saja kegiatan kegamaan yang dilakukan oleh Suku Tengger di beberapa titik di TNBTS.

Mestinya, dengan melihat kawasan TNBTS yang sudah merupakan kawasan suci sejak jaman dahulu, para pengunjung dapat lebih sadar diri dalam menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan. Seperti kata voluntir di sesi briefing: Semeru tidak butuh manusia, manusia yang butuh Semeru!