Lereng Gunung Sinabung jauh di sana selalu berwarna merah menyala. Kegarangan Sinabung tertutup oleh lembayung yang menyelimuti pepohonan dan rekahan di lereng gunung. Jika senja semakin gelap dan cahaya semakin merah, orang tua di desa ini selalu bergegas menyuruh anak-anak segera masuk ke dalam rumah. Katanya, jangan mencari masalah. Masalah bisa datang dalam bentuk apa saja di senja merah.

Seorang perempuan terlihat menyunggi tabung bambu berisi air dari kejauhan. Bayang-bayang tubuhnya menjadi panjang disorot cahaya surya. Dia bergegas meninggalkan rombongan perempuan di belakangnya. Hatinya panas dan sedih. Setetes air bergulir di sudut matanya, dadanya sesak menahan rasa. Langkahnya makin cepat dan panjang. Perasaannya diletupkan dengan membanting pintu rumah dan membanting pantat tabung air di lantai kayu. Nande yang sedang sibuk di depan perhatian memandanginya heran.
“Apa kamu sedemikian gusarnya sehingga mengagetkan kami?” tanya Nande pelan.
“Aku sudah tidak tahan lagi, Nande. Orang-orang desa ini semakin keterlaluan, mereka bicara tanpa pikir,” isak Rengga Kuning tertahan.
“Sedari dulu juga begitu. Mengapa harus risau?”
“Berhentilah berpura-pura, Nande, aku tahu kam juga gusar dan bingung memikirkan Abang.”
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Tunggu dan sabar, nanti Abangmu akan kembali juga. Kerjakan tugasmu, bukan tugasmu atau urusan mereka mencampuri pekerjaan lelaki,” sahut Nande dingin.
Rengga Kuning semakin kesal. Brukk.. Si Hitam anjingnya sampai mengkeret di sudut rumah. Kakinya menghentak lantai kayu, lalu menghempaskan badannya ke pembaringan. Air matanya berderai-derai. Tidak mudah baginya beradu kata dengan perempuan-perempuan di pemandian. Dia tidak biasa berdebat, mulutnya tajam, tidak bisa berbasa-basi. Mereka tahu betul itu, sehingga sering menyindir Rengga Kuning di keramaian. Ya, di keramaian, tidak hanya di pemandian juga di acara-acara kuta lainnya. Mereka akan memanfaatkan kesempatan menghempaskan Beru Rengga Kuning yang mereka anggap tingkahnya tidak lazim untuk ukuran perempuan Karo. Si Belang kucingnya seolah paham kedukaan Rengga menyusukan kepalanya ke pundak tuannya dan mengeong pelan.
Perempuan-perempuan Kuta itu juga tidak bisa disalahkan. Rengga Kuning memang suka melakukan yang aneh-aneh. Coba, mana ada perempuan di kuta mereka, bahkan di kuta lainnya yang mengendarai kuda seperti orang kesurupan. Waktu itu wari tiga di Tiga Pancur. Namanya wari tiga suasana ramai, dari jualan sayur mayur sampai emas dan perak, dari kain tenun sampai tukang obat, dari sirih pinang hingga terasi. Belum lagi orang-orang yang belanja dan yang sekedar melihat-lihat. Ramai sekali. Anak-anak sampai nenek-nenek, semua bersukaria, maklum hanya seminggu sekali.

13009711_1110823855605262_1516239466_o

Siang terik yang ramai itu tiba-tiba buyar karena suara kuda yang berderap menuju pasar. Terdengar juga gonggongan anjing mengiringi kelajuan kuda. Penunggang dengan rambut berkibar-kibar dengan saluar kuning mengkilap terlihat kewalahan mengendalikan kuda. Setiap dia menarik kekang, kuda meringkik dan penunggang itu terus berusaha mengendalikan kudanya. Kuda jantan coklat bersurai gelap itu semakin menjadi. Berputar-putar mengangkat kaki di seputaran pasar. Wajah penunggang kuda itu terlihat tegang, tetapi tegas. Dengan sekali hentakan keras, akhirnya kuda itu berhenti tepat di depan penjual ikan mas. Si penunggang menyeringai puas, senyum menghias wajahnya yang hitam karena debu. Si Hitam menyalak gembira melihat kehebatan tuannya. Ekornya tiada hentinya berkibar dan kakinya melompat-lompat riang.
Lalu, mulai terdengar teriakan protes, sebagian makian karena dagangan mereka hancur lebur. Penghulu akhirnya turun tangan sebelum si penunggang dikerumuni orang-orang sepasar. Malam itu, Nande membayar kerusakan dan kerugian yang diakibatkan Rengga Kuning dan kuda barunya. “Perempuan itu di rumah, ladang atau pemandian, bukan menunggang kuda,” gerutu mereka sambil berlalu.

Soal kuda mengacau pasar sebenarnya sudah dimaafkan sejak nande mengganti semua kerugian. Ada kejadian lain yang membuat banyak orang kuta tidak menyukai Rengga Kuning dan Abangnya. Masih soal hal-hal yang menurut mereka tidak pantas dikerjakan seorang perempuan. Waktu itu Bapa mereka masih hidup. Bapa yang hebat, yang selalu mendorong Rengga Kuning belajar dan belajar. Bapa bilang, hanya dengan belajar dapat mengikuti perubahan jaman, suatu saat engkau akan sendiri. Bapa dan Nande tidak akan selamanya bersamamu, katanya. Rengga Kuning belajar menulis pada Guru Si Meteh Wari Mehuli. Dia sangat maju dan haus ilmu. Surat-surat di kulit kayu dapat dibacanya, bahkan curahan hati para lelaki di batang bambu. Abangnya kalah jauh soal kepandaian membaca ini.

Mereka juga pergi belajar ndikkar kepada Guru Perteguhen. Sudah adatnya Rengga Kuning setiap belajar tidakpernah setengah hati. Jurus dan langkah kaki dimainkannya bak penari ulung, tetapi pukulan tangan dan tendangan kakinya mematikan. Urusan belajar ndikkar inilah yang membuat suasana di kuta berubah. Menurut Abangnya, Rengga dapat dengan mudah mematahkan lawan sekalipun lelaki. Ndaram tidak sekedar berbual, soalnya beberapa kali Rengga membuatnya terkapar dan minta ampun. Di kedai kopipun tak habis-habisnya Ndaram menceritakan kehebatan Rengga.

Lopiga yang diam-diam menaruh hati pada Rengga selalu mendengarkan bualan Ndaram. Walau tak sepatah kata terucap dari bibirnya, hati dan pikirannya mencatat baik-baik semua yang diucapkan Ndaram. Selain menaruh hati, Lopiga juga merasa pernah dipermalukan Rengga di depan sahabat-sahabatnya. Menurutnya, Rengga sangat menyepelekan perasaan suka yang ditunjukkannya. Bagaimana tidak, Rengga hanya menganggapnya anak manja yang selalu mengandalkan orang tua, mau menang sendiri dan tidak bisa menghargai perempuan. Bagi Lopiga itu bukan alas an, lelaki sudahlah seharusnya menjadi raja, dihormati dan dilayani. Apalagi dia bukan anak orang sembarangan.

Senja itu mengawali segalanya. Meski rajin belajar, Rengga tidak pernah lupa tugasnya mengambil air dengan tabung bambunya. Jalan ke pemandian tidaklah rata. Menurun, jalan setapak yang kiri kanannya ditumbuhi lalang dan hutan kuta. Lalang yang setinggi orang dewasa menjadi tempat persembunyian burung dan binatang-binatang kecil lainnya. Umumnya perempuan-perempuan kuta selalu berombongan ke tapin dan pulangnya juga demikian. Rengga yang selalu disibukkan dengan bermacam pelajaran dan pekerjaan, selalu terlihat terburu-buru dan bergegas sendiri. Kebiasaannya ini rupanya sudah diperhatikan Lopiga. Lopiga lalu merencanakan waktu yang tepat untuk menyergap Rengga dan akan memaksanya menerima cintanya. Tiga orang kawannya bersedia membantu.

Senja itu matahari merah terpancar dari lereng Sinabung. Burung-burung bernyanyi di sela-sela ilalang, angin sepoi-sepoi. Rengga bergegas menjunjung tabung bambu buluh belinnya. Suara gemerisik di sela ilalang membuatnya menelengkan kepala sejenak, tak peduli langkahnya semakin panjang. Si Hitam yang selalu setia mengiringinya terdengar menggeram. Haapp…. Tabung bambu jatuh, dunia menjadi gelap. Tidak kurang dari 3 orang menyergapnya dan menyeretnya memasuki belantara ilalang. Nafasnya sesak satu-satu, penyergap itu ketat sekali mencengkeram lehernya. Terdengar si Hitam bertarung dengan si penyergap. Ribut sekali. Tiba-tiba….LEPASKAN! Terdengar suara keras tegas, suara yang tidak asing. Pelukan di leher mengendur. Bug. Rengga menghajar perut si pemeluk dengan sikunya. Lepas. Demikian juga kain penutup kepala. Abang Ndaram!
Tidak usah diceritakan bagaimana dua bersaudara ini menghajar Lopiga dan kedua temannya. Terkapar berdarah, kecut hitam merah. Tanpa ampun. Senja jatuh ke malam ketika mereka berdua sampai di rumah. Dan sungguh, kemudaan dan semangat mereka tidak menduga pertarungan sore itu akan merubah jalan hidup mereka sekeluarga. Peristiwa ini kemudian menjadi catatan berbekas di hati dan kepala Rengga seumur hidupnya dan menjadi alasan utamanya mendahulukan keluarga kapan saja.

Jelang tengah malam, sekelompok orang berbicara pada Bapa di dalam rumah. Mereka mengatakan Lopiga terluka parah dan kakinya patah tebu di dua tempat. Belum lagi kawan-kawannya. Mereka tidak bisa bilang apa yang akan terjadi pada Ndaram. Bapa dan Ndaram diminta bersiap untuk siding di Balai 2 hari lagi. Sidang ini akan melibatkan Sibayak. Ketika para tamu sudah berlalu, Bapa tepekur bersila. Tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Wajahnya semakin legam, kerutnya seakan bertambah. Rengga meletakkan kepalanya di pangkuan Nande, buliran air mata jatuh di pipinya. Ndaram pucat, keringat dingin terbit di dahi dan punggungnya. “Sudah, sekarang semua istirahat. Besok kita bicara lagi,” Bapa bangkit sambil menepuk bahu Ndaram.

Bulan bersinar terang. Bintang-bintang masih malu berkelap-kelip. Puncak Sinabung menghembuskan asap tipis, seperti pria tua yang sedang merenung dengan rokok daunnya. Langit cerah terlihat biru gelap. Masih terngiang kata-kata Nande sebelum berangkat tidur tadi: Apapun dapat berlaku di dunia ini dan bumi tidak pernah membedakan kebaikan dan kejahatan, dimanapun engkau berdiri lakukan sebaik-baiknya. Rengga menutup jendela sambil melantunkan doa pada Sinabung.

Balai kuta entah mengapa selalu suram kalau sudah masuk perkara pertimbangan hukuman. Tiang-tiang kayunya serasa semakin hitam, kokoh menahan langit-langit. Jerjak kayu di jendelanya walau kurus tampak kuat, seolah menyedot wajah-wajah yang menempel di situ. Muka mereka seakan hendak terbelah. Bapa dan Ndaram sudah sedari tadi di dalam. Nande dan Rengga berdiri berdua di luar menanti mereka. Warga Kuta yang lain berbisik-bisik. Menanti juga, menanti kabar baik yang tak baik selalu mendebarkan mereka. Gadis-gadis berbalut kain indigo sesekali melirik kepada Rengga, tanpa pernah menyapa. Warga meramalkan Ndaram akan dijatuhi hukuman berat, karena Sibayak pasti akan membela Lopiga, bere-berenya.

Udara semakin panas. Nun jauh di sana Sinabung masih menghembus asap tipis-tipis. Sekali ini tidak seperti lelaki tua yang sedang merenung dengan rokok nipah, tetapi serupa Nande yang sedang memasak makanan kesukaan anaknya. Rengga menarik nafas tertahan, para lelaki mulai keluar dari Balai Kuta satu-persatu. Abang dan Bapa berjalan pelan, Bapa memegang bahu Ndaram. Dengan kuda-kuda yang teguh, Bapa berkata-kata di tengah halaman Balai. “Anakku Ndaram akan memikul tanggung jawabnya sebagai lelaki. Lelaki yang sudah berusaha mempertahankan kehormatan adiknya, membela keluarganya. Anakku akan menjalankan hukuman tanpa melawan, tanah tumpah darah ini menjadi saksiku dan anakku, pembelaan tidak mesti dengan melawan,” dengan kuda-kuda yang teguh Bapa mengucapkan sumpahnya. Warga menyisi memberi jalan kepada Bapa dan Abang, Rengga dan nande mengikutkan mereka dari belakang. Senyap. Angin Sinabung dingin menyapu wajah dan pundak mereka, ada yang menggigil. Senja mulai turun, walau belum merah. Esoknya, subuh jauh sebelum matahari terbit, Bapa, Nande dan Rengga menghantar Ndaram ke gerbang kuta. Bapa memberikan semua tabungannya pada anak lelaki kebanggaannya, Nande berkali-kali mengusap wajahnya yang berair. Tanpa kata, pergilah si sulung, buah cinta perdana mereka.

Begitulah hidup. Waktu dan jalan nasib seakan ingin memainkan manusia hingga peran terdalam dan tersakit. Kesusahan selalu diikuti kesusahen lainnya, masalah selalu menggandeng masalah lainnya, ada pula yang sedang berbahagia bertambah-tambah bahagiannya. Setelah Ndaram pergi, Bapa memburuk kesehatannya. Ketegaran Bapa ternyata hanya diluar saja, di dalam jiwanya remuk redam, bathinnya hancur lebur. Walau terlihat teguh kokoh menyusuri ladang dengan Nande, tetapi tubuhnya kalah dengan kegelapan hatinya. Suatu malam gembura yang dingin, Bapa berangkat tidur dan tidakpernah bangun lagi. Adakah hari-hari lebih gelap dari hari ini? Demikian bathin Rengga teremas-remas oleh duka.
****

Air matanya semakin berderai membasahi bantal. Hidungnya tersumbat. Sudah 2 tahun sejak kepergian Ndaram dan 1 tahun kepergian Bapa. Burung-burung tidak hentinya bernyanyi, tidak di pemandian tidak di kesain, semuanya berkabar hampir mirip. Akan lain rasanya jika kabar burung disampaian atau ditanyakan kepadanya. Bukan seperti beberapa bulan belakangan ini. Mereka berkabar seolah-olah Rengga dan Nandenya tidak ada. Mereka seperti sengaja menyetel suara seolah pelan tetapi tetap terdengar. Kabar burung semakin berbumbu. Tadi sore di pemandian ada burung yang bernyanyi:
Apa guna wajah cantik, tetapi lupa diri
Apa guna kaya harta, tetapi saudara terpasung

Burung itu berkali-kali bernyanyi. Rengga tidak berani mendekati kawanan burung, tidak tahu burung yang mana membawa kabar. Lalu, orang-orang di pemandian berkasak-kusuk.
Sudah dua minggu ini Rengga memohon kepada Nande agar mengijinkannya pergi mencari Abang Ndaram, yang konon katanya terpasung di bawah sebuah pohon. Manusia terpasung adalah serendah-rendahnya manusia. Terpasung karena tidak dapat membayar kewajiban, tidak dapat menebus kebebasan. Tidak mungkin orang sebijak dan sepintar Ndaram dapat terjebak dalam permainan utang dan terpasung. Rengga mencium ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang harus dia cari tahu sendiri.

Nande tidak pernah menjawab Rengga dengan ijin, melarang juga tidak. Dia hanya mengusap kepala anak perempuannya, matanya dalam menatap, tatapan sayang ibu kepada anaknya, tatapan duka ibu kepada anaknya, tatapan rindu istri kepada suaminya. Diam-diam Rengga mulai mengumpulkan pakaian Bapa dan beberapa pisau dan pedang di lemari rahasia. Dia memilih yang cocok untuknya. Selagi bekerja di ladang, Rengga melatih dirinya dengan segala senjata. Si Hitam dan Si Belang duduk berjejer menatap Rengga jumpalitan, bermandi abu, jatuh bangun. Nande hanya memandangnya dari kejauhan sambil menyiangi sayuran. Dia tahu sekali, anaknya adalah keturunan suaminya, keras hati dan pantang menyerah pada sesuatu yang diyakininya benar. Perasaan seorang Ibu selalu tepat. Nande sudah merasa, Rengga tidak lama lagi akan meninggalkannya untuk mencari Ndaram. Diam-diam Nande memberikan persembahan sirih di tengah ladang, lalu mengucapkan doa selamat untuk putri yang dikasihinya.
Senja merah cerah. Lereng Sinabung bercampur warna merah dan emas. Asapnya tipis saja, seolah Sinabung tua sedang bermain-main dengan angin. Malam ini akan cerah agaknya. Nande mengajak Rengga pulang awal hari ini. “Ladang masih dapat menunggu besok, tetapi doa baik tidak dapat ditunda,” kata Nande.
Senja itu asap dapu mengepul, aroma ayam lemang-lemang memenuhi rumah. Batu gilingan merebak aroma tuba dan cabe rawit. Darah matang ayam turut digilas batu, lalu kemudian ditetesi air jeruk nipis. Nande menata hidangan lezat, lalu memanggil Rengga ke belakang rumah. Tanpa kata, Nande melolosi pakaian Rengga, lalu hanya dengan selembar kain dia menuntuk anak perempuannya ke halaman belakang. Aroma jeruk purut dan bunga menguar udara senja temaram. Nande mendoa lalu membasahi kepala Rengga, perlahan sehingga seluruh tubuhnya basah. Demikian berulang-ulang sampai air doa dan mantra habis dihamburkan. Si Hitam dan Si Belang duduk berjejer menyaksikan upacara cinta ibu kepada anaknya. Malam itu, tidak hanya Rengga makan enak, si Hitam dan Si Belang juga dapat porsi istimewa. Malampun jatuh, semua senang, semua kenyang. Kembali Rengga membuka jendela kamarnya dan melayangkan mata ke Gunung Sinabung. Langit cerah. Ah…tiga bintang di atas Sinabung seolah membentuk segitiga. Ketiganya cerah cemerlang, berkerlip gemilang. Ini jarang terjadi.
Rengga tersentak, tersadar dari pesona indah. Ya! Inilah saatnya menunaikan tugas. Nande ternyata tajam membaca tanda alam, hari ini dia menunaikan tugasnya sebagai Ibu, membekali anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Rengga bergegas menyusun pakaian dan senjata Bapa yang sudah dikumpulkannya. Si Hitam mengekorinya dari belakang kemana saja langkah Rengga dalam rumah. Sekali lagi, Rengga menyapukan matanya ke seluruh rumah, lalu menatap gurat halus di wajah Nande, dia melangkahkan kaki ke istal kudanya, si Jago. Pelana dan semua bekal sudah terpasang di punggung kuda.
****
Malam itu bintang bertabur, angin bertiup pelan. Malam itu Sinabung merokok dengan asap tipis mengepul, menatap dengan senyum simpul menyaksikan Beru Rengga Kuning menuntun kudanya menyusuri jalan berbatu. Entah sampai kapan dapat kembali lagi melawat kuta.

SHARE
Next articleTakut kolestrol? Enda cibet, kadih!
Mejuah-juah! Hello! My name is Ita Apulina. Writing, traveling, meeting people are my passion. This simple blog is where I share all sorts of stories, opinions, experiences, photos from my activity of my passion. I hope this blog inspires you to do the same!