Jalan Medan – Berastagi: Macet Tragis

0
43
Longsor Sibolangit Km.37 [2/1]

Di Medan, libur tahun baru biasanya berkaitan erat dengan hari Natal. Dua event besar ini adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga, silaturahmi dan pulang kampung alias mudik. Orang-orang Karo yang asalnya dari Gugung pasti akan pulang kampung lewat jalur Medan-Berastagi ini. Tidak hanya orang Karo, tetapi juga mereka yang berasal dari Dairi, Pakpak Bharat dan Aceh Tenggara. Bisa dibayangkan seperti apa padatnya lalu lintas di jalan propinsi ini.

Tiap tahun selalu saja terjadi macet yang luar biasa di jalur ini. Medan – Berastagi dalam kondisi lalu lintas normal bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit. Dalam kepadatan hari raya seperti Natal dan Tahun Baru waktu dibutuhkan bisa mencapai 5-8 jam. Bayangkan!

Kemacetan ini selain karena padatnya lalu lintas juga disebabkan oleh pengendara yang seenaknya sendiri, serobot sana sini, tidak mengindahkan marka jalan. Kelakuan pengemudi yang tidak taat aturan akan mengakibatkan semakin semrawutnya situasi jalan.

Keparahan situasi jalan ini sepertinya semakin meningkat setiap tahun. Kejadian terhangat adalah kemacetan tragis di tanggal 2 Januari 2017 yang baru lalu. Ada pengguna jalan yang menghabiskan waktu dijalur ini hingga 20 jam.

Keluarga Girsang yang terjebak macet parah pada tanggal 2 Januari itu mengatakan,”Kami berangkat dari Kabanjahe pukul 4 sore, sejak pukul 7 malam kami sudah tidak bergerak lagi di Sibolangit. Kami dengan 3 anak kecil harus bermalam di jalan tanpa bekal makanan. Akhirnya, pukul 5 pagi, kami sudah mulai bergerak merayap pelan-pelan, hingga akhirnya sampai di Medan pukul 9 pagi.”

Bayangkan betapa repotnya terjebak macet di tengah malam dengan anak 3 orang. ketika saya tanyakan bagaimana mereka mengatasi lapar, mereka beli apa saja yang dijual warga di sepanjang jalan yang bisa mereka temui.

Dari foto-foto yang beredar di medsos, yang diumumnya diupload para pengguna jalan, terlihat lokasi sumber macet longsor, jalan dipenuhi Batu dan pohon-pohon. Petugas semakin sulit membersihkan jalan karena tidak memungkinkan untuk membawa masuk alat berat ke lokasi. Seiring waktu, jumlah kenderaan semakin banyak dari kedua arah.

Sementara itu, Hesron Girsang Sekcam Sibolangit saya lihat tidak henti-hentinya aktif di media sosial menyampaikan situasi terkini jalan raya. Dia berada di lokasi. Hingga jam 3 pagi, saya masih lihat beliau berkomunikasi lewat medsos dan menjawab dengan sabar pertanyaan orang-orang yang disampaikan lewat kolom komentar. Berkali-kali dia mengingatkan, bahwa jalan sudah dibuka dengan sistem buka tutup, tetapi sebaiknya ditunda dulu perjalanan menuju Medan atau Kabanjahe. Alasannya, petugas perlu menguraikan kemacetan yang sudah berlangsung lebih dari 6 jam.

Tetapi sepertinya, peringatan Pak Sekcam tidak ditanggapi serius oleh pengguna jalan. Masih saja ada yang nekad mencoba menuju Kabanjahe pada tanggal 3 dinihari. Alhasil, mereka memang sampai di rumah dengan selamat tetapi membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam.

Muspika Sibolangit memang tidak main-main soal peringatan terhadap pengguna jalan. Mereka memasang peringatan berbentuk spanduk yang bertuliskan himbauan agar para pengendara tidak saling menyalip. “Sepertinya mereka tidak peduli. Perkiraan kami, jika tidak ada yang saling mendahuli walau pelan merayap Medan-Berastagi bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Tetapi ketika pengendara saling berlomba, 6 jam sampai di Berastagi ya, wajar saja,” ungkap Hesron.

Peringatan yang disampaikan Muspika ini tidak hanya untuk kenyamanan para pengguna jalan tetapi juga terkait dengan aktifitas sehari-hari warga Kecamatan Sibolangit. Kini, banyak warga yang mengeluh setiap ada libur akhir pekan dan hari besar terkait dengan padatnya arus lalu lintas. Mereka tidak bisa pergi ke laçant, ke pasar, sekolah dan melakukan kegiatan lainnya. “Ada yang berkata, dikala macet warga Siboangit beruntung karena dagangan mereka laku, tetapi berapa persenkah warga yang melakukan aktifitas dagang di pinggir jalan raya? Sama sekali tidak sebanding dengan kerugian yang kita dapat,”jelas Hesron lagi.

Longsor yang terjadi di Km 37 Desa Sibolangit, Senin[2/1] lagi-lagi melibatkan warga untuk membereskannya. Muspika bersama warga menyingkirkan kayu dan memindahkan batu dengan tambang, sampai kemudian sepeda motor dapat lewat. Setelah sepeda motor dapat lewat, polisi dan Muspika melakukan sistem buka tutup untuk mengurai kemacetan. Setelah itu, baru kemudian alat berat masuk untuk membersihkan longsoran. Bukan hanya itu, panjangnya kemacetan yang mencapai hampir 20 Km membuat sampah di sepanjang jalan berserakan. Mulai dari bungkus mie instant hinge kemasan air mineral. “Yah..mau bagaimana lagi, kita bersihkanlah,” ungkap Muspika Sibolangit.

Hujan akhir tahun yang terus menerus mengguyur kawasan Sibolangit diduga menjadi penyebab longsor ini. Kayu-kayu yang jatuh turut serta membawa batu-batu tebing turun ke jalan. Jalan Jamin Ginting adalah jalan propinsi dan kiri kanan jalan avalan kawasan huyan lindung sehingga dibutuhkan kerjasama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Sumut untuk memantau pohon yang rawan longsor. “Di kawasan hutan lindung kita tidak boleh menebang kayu sembarangan. Kayu longsor yang sudah kita potong juga tidak boleh dibawa pulang, karenanya perlu sekali keterlibatan Dinas Kehutanan di sini,” terang Hesron lagi.