Melebur Diri di Keindahan Raja Ampat

Catatan Perjalanan: Ira Munthe

0
14

Bayangkan kita sebagai orang Indonesia hanya mendengar cerita dari pencinta alam bawah laut itu saja bahwa Raja Ampat sangat indah luar biasa. Foto-foto dan tulisan yang beredar kebanyakan dari orang-orang asing yang berkunjung ke sana. Akhirnya, saya menetapkan hati menghabiskan pergantian tahun 2016/2017 di Raja Ampat. Ternyata keputusan tepat yang tidak akan pernah saya sesali.

Dan… perjalanan menuju Raja Ampat-pun dimulai. Berangkat dari Jakarta menuju Sorong, transit sebentar ganti pesawat yang lebih  kecil di Makassar. Dua jam ke Makassar, 2 jam kemudian sampai kota Sorong. Dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong kami naik taxi menuju pelabuhan untuk naik kapal menuju pelabuhan Wasai. Perjalanan dari Sorong menujuk Wasai juga menghabiskan waktu 2 jam.

Sampai? Belum lagi…

Sesampainya di Wasai, kami menuju homestay Koranu Fyak dengan speedboad sekitar 1 jam, dan perjalanan indah pun dimulai…. Laut yang tenang dan ombak kecil dan mulailah terlihat betapa jernih air di wilayah Raja Ampat,. Pantai semakin dekat, jelas terhampar pantai berwarna hijau, dan di tengah berwarna biru. Kami tiba di homestay, disambut pantai pasir putih yang sangat bersih membuat tidak tahan ingin segera menyeburkan diri. Oh ya, ikan-ikan terlihat cantik sejak di bibir pantai.

Di dekat homestay ini ada jembatan yang dibangun sampai titik air yang berwarna hijau. Sepanjang jembatan ikan warna-warni berenang dan bintang laut biru mengambang. Di ujung jembatan kami serasa masuk ke dunia lain. Bagaimana tidak, ketika badan masuk ke air dan mulai snorkeling rasanya…waaahhh..sulit untuk dilukiskan. Ratusan spesies ikan berenang-renang, meliuk-liuk tanpa takut. Warna mereka indah, berwarna warni. Ukurannya cukup besar, barangkali seekornya ada yang 2 kg. Bahkan kami berenang bersama ikan yang bentuknya seperti paus, badannya penuh dengan totol-totol dan ukurannya, jangan kaget, ukurannya sebesar badan saya. Belum lagi koral-koral yang berwarna-warna tak kalah cantik dengan ikan. Saking takjubnya, sampai lupa pakai sunblock. Itu hari pertama.

Homestay Koranu Fyak [foto/iramunthe]

Keesokan harinya kami pergi ke Pasir Timbul. Pasir Timbul adalah daratan pasir di tengah laut yang muncul ketika air laut surut. Ketika air laut surut, Pasir Timbul seolah-olah membelah laut.  Lagi-lagi hanya bisa berdecak kagum akan kecantikan tempat ini. Selesai menikmati Pasir Timbul, petualangan dilanjutkan ke pulau tanpa penghuni dengan pantai pasir putih yang sangat indah. Kembali di tempat ini kami memuaskan diri bersnorkeling. Pengalaman snorkeling yang berbeda dengan sebelumnya. Spesies ikannya berbeda, ukuran berbeda tetapi tetap cantik. Sayangnya, sekali ini kelupaan membawa kamera waterproof.

Pasir Timbul [foto/iramunthe]

Menjelang sunset, kami menyaksikan para juru masak menyiapkan sajian makan malam. Mereka membersihkan ikan-ikan untuk dimasak, kepala ikan dan insang dibuang ke laut dan segera hiu-hiu datang menyambar dan menyantapnya, memberikan pemandangan yang luar biasa dan ngeri, bisa berdiri begitu dekat dengan hiu. Terpana!

Hari ketiga, kami menuju Paiyanemo, gugusan pulau-pulau kecil yang menjadi icon Raja Ampat. Ini adalah land marknya Raja Ampat. Perjalanan menuju ke Paiyanemo merupakan perjalanan menuju laut lepas, sehingga bertemu dengan ombak, untungnya tidak terlalu besar. Yang membuat perjalan menuju ketempat ini semakin menarik adalah kemunculan lumba-lumba yang beraksi di depan perahu dan berenang disekitar perahu. Binatang laut yang ramah ini seakan hendak menemani dan menunjukkan arah kepada kami dan perahu. Rasanya luar biasa. Pengalaman bertemu lumba-lumba di taman safari sungguh tidak sebanding dengan pengalaman bertemu lumba-lumba di habitatnya.

Memasuki area Paiyanemo seperti memasuki  keindahan lain. Tidak cukup kata melukiskan keindahan pulau kecil-kecil ini. Tak bisa berhenti memuji keindahan alam Raja Ampat ini. Rasanya suguhan keindahan alam yang membuat saya sampai terdiam hanya menikmatinya dalam diam, tunduk. Ingin tinggal di sini saja rasanya. Sekali ini kelupaan foto-foto saking takjubnya. Duh, lupa terus ya…

Di perairan Paiyanemo ada bagian yang mempunyai karang yang begitu indah, dengan ikan-ikan kecil warna warni, sungguh memanjakan mata. Setiap pergi ke sudut lain di Raja Ampat, pasti akan bertemu jenis-jenis ikan yang terlihat berbeda dengan tempat sebelumnya, pastilah jenis ikan di tempat ini ada ribuan.

Ada kesepakatan menarik yang dibuat dan dipegang oleh penduduk Raja Ampat, yaitu di kawasan Raja Ampat, tidak boleh memancing ikan apalagi merusak karang. Tamu yang kedapatan melakukannya akan langsung diusir dari tempat ini. Tak heran jika ikan-ikan di tempat ini bisa ditemui sampai bibir pantai, tak akan ada manusia yang mengganggunya. Sebuah konsensus yang sangat maju menurut saya, salut buat siapapun yang memberikan ide ini untuk dipatuhi.

Ada cerita yang menarik pada tanggal 1 Januari saat tahun batu, kami mengunjungi kampung penduduk ada acara salam-salam selamat tahun baru (salam di tempat ini disebut pegang tangan heheh…), kami ikut menari setelah acara salam-salaman. Unik sekali.

Keindahan Raja Ampat diaminkan tamu-tamu yang datang di homestay tempat kami menginap. rata-rata bilang kalau Raja Ampat is best place in the world for diving… ckckck in the world… Pantas saja mereka bilang begitu. Teman-teman Pembaca, anda harus ke sana, nikmatilah surga di Raja Ampat. Biaya yang dikeluarkan untuk kesana sebanding dengan kepuasan dan keindahan yang kita peroleh.

Ada yang mengatakan kalau sudah pergi ke Raja Ampat, pantai manapun tak kan terasa indah lagi. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi buatku pribadi setelah menikmati Raja Ampat, Maldives sudah tercoret dari list next destination, lebih baik kembali lagi ke Raja Ampat. See you again, Raja Ampat!

Raja Ampat; 27 Des 2016 – 4 Jan 2017