Hujan diiringi angin kencang sejak akhir tahun lalu membuat akses jalan sulit dilalui di beberapa daerah di Dataran Tinggi Karo. Banyak jalan longsor, pohon besar tumpang menutupi badan jalan. Peristiwa ini juga terjadi di daerah Kecamatan Kuta Buluh Simole (Kabupaten Karo). Jalan ke Desa Amburidi (Kecamatan Kuta Buluh Simole) sangat sulit dilalui.  Kendaraan roda empat tidak bisa melewati jalan.

Warga kesulitan ke pekan untuk membeli kebutuhan pokok dan menjual hasil bumi, yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh ke pekan atau kecamatan. Dalam keadaan kondisi cuaca yang baik, Kutabuluh – Amburidi dapat ditempuh antara 45 menit hingga 1 jam dengan sepeda motor. Namun, dengan keadaan jalan yang kurang baik dan peristiwa alam yang tidak bersahabat, jalan ini sangat sulit dilalui. Waktu tempuh bertambah, bisa sampai 1.5 jam atau bahkan 2 jam.

Mobil angkutan pedesaan jumlahnya tidak terlalu banyak. Rombongan kami terpaksa memakai jasa RBT atau ojek. Jalan licin, longsor kanan dan kiri membuat sepeda motor berjalan sangat lambat dan berhati-hati. Berkali-kali saya harus turun dari boncengan di tempat yang sulit dilalui sepeda motor dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Tepat di perbatasan perladangan antara kampung Kuta Male dan Amburidi, terlihat 2 orang di badan jalan terduduk bersama seekor rusa yang cukup besar tergeletak di jalan. Melihat peristiwa yang cukup unik dan sebelumnya tidak pernah saya temui tentu membuat saya terheran-heran dan menyuruh ojek untuk berhenti sebentar. Setelah saya tanya mengapa rusa ini berada di badan jalan dan mati, jawab mereka rusa ini terjatuh dari bukit atau tebing.


Wah…. sekali lagi saya terkejut dan langsung mendekati rusa, mengamati badan rusa dan bekas luka. Saya beranggapan, jika rusa ini hasil buruan tentu bekas luka sangat jelas terlihat. Bak seorang dokter hewan, dari kaki hingga badan saya perhatikan keadaan rusa. Tak ada bekas luka. Hanya bagian muncung hingga di kepala ada memar, yang menurut mereka bekas luka terjatuh dari tebing terkena bebatuan, hingga jatuh ke tepi jalan.

“Sayang sekali,” kataku. Rusa ini sudah mati, jenis rusa ini dilindungi dan mereka juga tahu itu. Lantas, jika keadaan seperti ini, tentu tidak ada yang bisa disalahkan. Mereka yang menemukan rusa rencananya akan pergi ke pekan untuk belanja kebutuhan pokok, tanpa sengaja menemukan rusa itu.

Sepanjang perjalanan saya terus terheran-heran, hingga akhirnya sampai di perkampungan Desa Amburidi, saya selalu mengulangi percakapan yang sama, tentang rusa itu. Menurut pengakuan warga, di beberapa perbukitan kampung mereka ada banyak rusa seperti itu. Masyarakat pengerajin keranjang dari rotan sering menemukan keberadaan rusa di hutan saat mereka mencari rotan bahan keranjang khas Karo.

Harimau juga masih ada. Ada kemungkinan rusa yang mati itu dikejar harimau, rusa berlari menghindar hingga terjatuh, diperparah lagi dengan keadaan tanah longsor. “Wow…” kataku lagi mendengar asumsi warga desa tentang kemungkinan sebab-sebab kematian sang rusa.

Populasi keberadaan rusa masih terjaga dan cukup banyak jumlahnya, hanya sebagian kecil yang mengalami kesialan mati dan terjatuh. Hebatnya, warga sudah tidak memburunya lagi sekarang ini. Warga lebih terpusat ke pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup.