Ini pengalamanku yang pertama dan seorang teman pergi ke Malaka. Seorang temanku yang lain sudah beberapa kali berkunjung ke Malaka. Pagi itu, 11 Desember 2016 kami bergegas bersiap. Dua malam sebelumnya kami bertiga menginap di homestay di daerah China Town. Kami berjalan menuju stasiun kereta KL Sentral.

Sesampai di stasiun, kami membeli tiket KTM Line (commuter) untuk menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan. Sampai di sini, rasa kagumku ga habisnya dengan model pelayanan self service. Dari mulai beli tiket dengan pelayanan mesin otomatis yang entah apa nama mesinnya, sampai jalanan di dalam stasiun yang amat sangat bersih (mungkin di sini aku terlalu lebay mendefinisikan). Tapi temanku juga merasakan, sepatu putih yang dipakai tetap putih bersih. Aku jadi mikir, aku yang ketinggalan jaman apa negaraku yang terlalu jauh tertinggal soal model transportasi umum, kebersihan, dan juga pelayanan umumnya. Kasihan sekali aku.

Perjalanan dari KL Sentral ke Bandar Tasik Selatan tidak memakan waktu lama. Belum sampai satu jam kami sudah sampai ke tempat tujuan kami. Dari stasiun kami berjalan menyusuri koridor menuju ke terminal bus karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh. Sampai di terminal, aku dibuat kagum oleh negara ini. Terminalnya hampir sama dengan bandara yang ada di kotaku. Tidak ada calo di sini. Setelah antri yang cukup lama (karena long weekend), kami bertiga menuju ke ruang tunggu bus. Akses menuju ke ruang tunggu bus udah kayak di bandara ajah. Pas waktu nunggu bus, aku memperhatikan jalanan yang disapu dan dipel sama petugas kebersihan. Itulah mungkin yang membuat sepatu kami bersih. Semua orang sadar akan kebersihan. Membuat semua tempat di sini terasa nyaman.

Perjalanan menuju Malaka kami tempuh sekitar 1,5-2 jam. Kami turun dari bus di daerah Bangunan Merah atau Staadthuys. Kami berjalan kaki sekitar kurang lebih satu kilometer menuju homestay. Sesampai di homestay, kami merebahkan diri sejenak kemudian membersihkan badan dan bersiap untuk menikmati malam dan kuliner malam di Malaka.

Kami berjalan melewati sisi Sungai Malaka menuju Jonker Walk Street (JWS). Karena kebetulan malam minggu, jadi semacam pasar malam di jalan itu. Di JWS banyak becak yang dihias warna warni dan beragam thema, ada yang dihias hello kitty, doraemon, frozen, dan masih banyak lagi. Dan becak tersebut memutar lagu dangdut (kebanyakan lagu dangdut Indonesia sih), menambah keriuhan malam. Banyak penjual cinderamata, makanan, minuman dan aku ngerasa semua di jual di sini. Padat banget pengunjung, sampai untuk berjalan kakipun kami mengalami kemacetan.

Welcome to Malacca, tertulis di jembatan yang menuju Jonker Walk

Kami direkomendasikan teman untuk mencoba makan di restoran Pak Putra khas India-Pakistan, tepatnya di Jalan Laksmana 4 Melaka. Kami berjalan terus menyusuri tepi sungai untuk sampai ketempat makan tersebut. Ditemani gerimis kecil kami terus berjalan sekitar kurang lebih 2-3 kilometer. Sampai di tempat yang dituju, masyaallah bikin lapar ini hilang. Seketika langsung badmood. Gimana ga badmood. Antrinya ngeriiiii. Banyak meja di luar resto full. Belum lagi yang berdiri menunggu meja kosong. Tapi, entah Pak Putra atau anaknya menghampiri kami, dengan sopannya beliau meminta kita untuk sabar dan segera menempati meja yang kosong kalau ada pengunjung yang sudah menyelesaikan makannya.

Sekitar 15-30 menit kami berdiri, akhirnya ada juga meja yang kosong. Kami memilih beberapa menu makanan dan minuman. Kami menunggu makanan dengan ditemani gerimis kecil (karena meja yang disediakan langsung beratapkan langit) dan juga pengamen jalanan bersuara merdu. Tak lama pesanan kamipun datang. Nasi briyani dengan kari ikan, kari ikannya beneran top rasanya. Roti naan cheese, roti gandum dengan keju lezat. Ayam tandoori, ayam panggang versi India yang rasanya menancap di lidah. Restoran Pak Putra recomended banget. Rasa badmood terbayar sudah dengan makanan yang ada di sini. Dengan rasa yang sampai detik ini belum terlupakan, dan harga yang murah banget. Akhirnya, kami kembali berjalan pulang dengan perut kenyang dan hati yang riang dan puas.

Pagi sekali di reruntuhan gereja St. Paul

Keesokan paginya, selepas subuh kami langsung berjalan ke Bangunan Merah untuk menikmati pemandangan di daerah ini. Yang pertama kami lihat adalah gereja Christ Church Melaka. Sebuah gereja besar dengan sebuah jam besar dan air mancur di depannya. Kami terus berjalan menaiki bukit dan anak tangga yang membuat kaki sedikit capek. Tapi sesampai di atas, kami disambut dengan pemandangan indah kota Malaka dari atas bukit dan reruntuhan gereja beserta patung St. Paul, nama seorang rasul dalam Injil. Begitu masuk ke gereja, kami langsung disambut dengan batu nisan yang gede-gede banget, yang ga horor sama sekali malah artistik menurutku. Batu nisan ini berdiri kokoh di dinding gereja.

Di bagian dalam gereja di sebelah tengah, ada tempat persemayaman sebelum jenazah St.Francis Xavier dibawa dan dimakamkan di India. Bangunan gereja ini masih berdiri kokoh. Puas menjelajah gereja, kamipun kembali berjalan turun. Di bawah, kami melihat ada beberapa makam orang Belanda yang punya kedudukan penting pada waktu itu. Kami melanjutkan jalan turun sampai pada akhirnya ketemu dengan benteng A’Famosa. Ketika memasuki pagar pembatas maka akan terlihat beberapa meriam yang merupakan peninggalan tentara Spanyol. Ketika memasuki benteng, seolah memasuki lorong waktu. Kami melewati kembali gereja Christ Church Melaka. Di depan gereja ada bangunan benteng dengan beberapa meriam tua yang ukurannya sangat besar. Dari dalam benteng bisa terlihat pemandangan sekitar sungai Malaka.

Menjelajah Malaka mengingatkanku dengan pelajaran sejarah ketika masih jaman sekolah, pelajaran yang sangat ga’ aku suka. Tapi dengan melihat langsung peninggalan yang ada di sini, membangkitkan sedikit memori teori sejarah yang didapat dulu. Tentang perdagangan dengan melewati sungai dan juga tentang pedagang dari Cina ataupun Gujarat. Di sisi tepi sungai ada sebuah crane untuk memindahkan barang yang dibawa oleh kapal untuk diangkut ke daratan.

Menyusuri tepi Sungai Melaka diwaktu pagi, sepi dan tenang

Karena kawasan ini memiliki banyak cerita tentang sejarah kota Melaka dimasa lalu dan sebagai salah satu kawasan tertua yang masih dihuni dan bangunannya dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia, maka kawasan ini pun diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (Malacca World Heritage).

Yang membuat Melaka menjadi salah satu tujuan wisata favorit buat turis adalah ke mana-mana dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jalan kaki menuju kemana aja, bakal ketemu tempat menarik. Cocok untuk orang yang suka hunting foto atau suka berfoto biar sekedar bisa upload foto di medsosnya. Selain dengan berjalan kaki, kita bisa menjelajah Malaka dengan menyewa sepeda. Sayangnya kami hanya sehari semalam di Malaka, jadi ga sempet puter-puter Malaka pakai sepeda. Keterbatasan waktu yang kami punya, tidak bisa masuk ke museum yang ada. Karena kami jalan-jalan masih pagi banget dan museum baru akan buka sekitar jam delapan pagi.

Puas menjelajah, kami berjalan kembali ke homestay dan bersiap pulang ke Indonesia. Di persimpangan jalan di dekat homestay, tepatnya di depan public bank, banyak banget burung merpati yg berkeliaran bebas. Seperti di film-film Hollywood yang ada di televisi. Ada seorang lelaki paruh baya berjalan kearah merpati dan menebarkan jagung. Semua merpati terbang mengerumuni lelaki tadi. Pemandangan indah yang luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Setelah berfoto, kami berjalan menuju homestay untuk mengambil peralatan yang tertinggal. Setelah itu kami berjalan kembali ke bangunan merah untuk menunggu bus yang akan membawa kami ke terminal bus. Sesampai di terminal, kami menuju bus yang akan langsung menuju ke Bandara Kuala Lumpur karena tiket sudah dibeli sehari sebelumnya. Bus yang kami tumpangi, cuma berisi kurang dari sepuluh orang. Herannya bus terus berjalan tepat sesuai jadwal meskipun dengan isi beberapa orang saja. Salut sama negara ini yang masyarakatnya menghargai waktu, menghargai turis, dan juga kebersihan yang membuat kita nyaman dimanapun di sudut negara ini.

Subuh-subuh di halaman gereja Kristus (Christ Church)