Setelah mengunjungi Masjid Negara atau National Mosque di Jalan Perdana, Kuala Lumpur, aku dan kedua temanku mengunjungi Muzium Kesenian Islam Malaysia (Islamic Arts Museum Malaysia). Museum ini merupakan museum Islam yang terbesar se-Asia Tenggara. In adalah kunjungan pertama kami ke museum kebanggaan Malaysia ini.

Malam sebelumnya kami menginap di China Town. Sebenarnya untuk sampai ke museum, kita cukup berjalan kaki tidak sampai 5 km. Menyusuri jalan dan mengikuti petunjuk arah saja sudah bisa sampai, tapi kemudian kami bertiga kebingungan mencari arah. Nasib baik ketemu sama orang Indonesia yang kerja di Malaysia. Kami dipesankan grab taxi dengan biaya yang amat sangat murah, cuma 3RM (dan aku melongo dibuatnya karena saking murahnya).

Sebenarnya akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri jalan sampai ketemu Masjid Negara. Tidak susah menemukan museum ini, karena terletak di belakang Masjid Negara. Masih di satu lokasi. Jadi cukup berjalan kaki beberapa ratus meter saja sudah sampai di museum.

Tiket masuk ke museum ini 15RM. Kita akan diberi tiket dan semacam brosur yang menunjukkan denah dalam museum beserta koleksi-koleksi di dalamnya. Museum ini mempunyai tiga lantai.

Doa sehari-hari, bacaan di hari Kamis [foto/itaapulina]

Masuk ke galeri pertama, merupakan ruang pameran periodik. Kebetulan saat itu ada pameran surat Al-Qur’an yang merupakan doa harian dan Al-Qur’an dari abad ke-16 sampai ke-19. Di sini terpampang lembaran dengan tulisan doa harian. Ada juga Al-Quran mulai dari abad 16, dari negara China, India, dan masih banyak lagi. Koleksi Al-quran ada yang dalam ukuran kecil sampai ukuran besar. Al-Quran tersebut disimpan di dalam kotak kaca dan dilengkapi dengan pengukur suhu dan kelembaban. Terlihat di display pengukur, suhu dalam setiap kotak kaca yang berbeda-beda. Tertulis peringatan dilarang menyentuh koleksi dan mengambil foto dengan menggunakan flash.

Kitab Al-Mawlid Al-Nabawi dari Mekah, 1633SM [foto/itaapulina]

Keluar dari galeri, kami berjalan menaiki tangga dan subhanallah, ternganga melihat arsitektur kubah di dalam museum yang sangat indah. Masuk ke galeri selanjutnya juga mempunyai kubah yang indah. Setiap ruang mempunyai kubah yang berbeda-beda dan sangat indah. Ada berbagai macam karya seni dan produk budaya Islam dari berbagai masa dan wilayah yang terdapat di dalam museum ini.

Karya-karya seni dan budaya tersebut dikelompokkan ke berdasarkan jenisnya. Ada galeri arsitektur, perhiasan (jewellery), tekstil, logam, koin, kayu, keramik, perlengkapan perang, dan kitab Al-Qur’an yang ditulis pada masa lampau. Banyak sekali barang yang dipamerkan. Perlengkapan perang lengkap dari baju yang terbuat dari besi, penutup kepala, pelindung lengan, pelindung lutut sampai senjata yang digunakan untuk perang. Selain itu ada juga baju adat, hiasan kalung dan gelang untuk wanita, sisir rambut dan sisir jenggot. Bahkan alat untuk pengusir lalat pada jaman dulu pun ada. Semua barang itu dipajang didalam kotak kaca dan disimpan pada suhu dan kelembaban tertentu untuk menjaga agar barang-barang tersebut tidak mudah rusak.

Hampir di seluruh dinding di dalam museum ada papan penjelasan mengenai sejarah Islam, bagaimana kesenian dalam Islam terbentuk, dan masih banyak lainnya. Jadi dapat dipastikan akan banyak sekali pengetahuan yang bisa kita peroleh di sini. Ada juga lukisan-lukisan dan juga barang-barang dari keramik porselen yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari yang berasal dari abad 16. Selain itu ada juga sketsa perencanaan untuk membangun masjid-masjid yang dibuat oleh arsitek. Galeri yang belum sempat kami lihat adalah galeri koleksi miniatur masjid dari berbagai belahan dunia. Karena sudah terlalu capek. Museum ini terlalu besar buat kami jelajahi setengah hari. Seharusnya butuh waktu satu hari untuk berada di museum ini saja.

Senjata tumbuk lada yang dipergunakan perempuan Melayu [foto/itaapulina]

Di museum ini juga ada toko suvenir yang terletak di lantai dasar. Suvenirnya pun bervariasi dari kerajinan kayu dengan tulisan Arab hingga buku-buku dan juga pernak pernik aksesoris yang cantik-cantik. Apabila lapar, kita juga bisa singgah ke museum restoran yang ada di lantai dasar. Sayangnya kami tidak makan di tempat ini, lebih tergiur mencicipi jajanan yang ada di depan Masjid Negara.

Bagi Anda pecinta seni, budaya, atau sejarah, terutama yang berkaitan dengan Islam, museum ini harus masuk ke dalam list yang harus Anda kunjungi. Banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan di sini. Tempatnya nyaman banget dan adem. Dan ketika berada di museum, kami tidak bertemu satupun orang Indonesia bahkan kebanyakan bule yang notabene bukan orang muslim, tapi cinta akan sejarah. Ke Malaysia ga cuma harus ke mall ataupun berfoto di Petronas, itu terlalu mainstream.

Menyenangkan sekali berkeliling di dalam museum. Melihat begitu beragamnya koleksi yang dipajang di sana benar-benar terlihat begitu kayanya seni dan budaya dalam peradaban Islam yang terbentang berabad-abad lamanya. Tak hanya di Tanah Arab saja, tetapi juga dari belahan dunia lainnya.