Bangun pagi, lihat di wall facebook saya, ada sebuah kiriman dari Longgena Ginting dengan judul Documenter “De Aardappeleters: Batak”.

Agak heran saya membaca judul itu karena saya tahu Longgena sangat tahu bahwa saya berada di posisi KBB (Karo Bukan Batak). Lalu, saya menonton lebih lanjut video yang dikirimnya itu. Makin heran pula saya karena itu adalah acara TV Belanda bernama De Aardappeleters (Pemakan Kentang). Saya tidak pernah menonton acara ini karena memang sangat jarang menonton TV. Itupun hanya berita sore dan sesekali film lama yang diulangi.

Video mulai dengan obrolan pembawa acara mengenai Babi Panggang. Perlu diketahui, kata Babi Panggang sudah lama populer di Belanda, diperkenalkan oleh restauran China yang berasal dari Medan. Bisa juga diketahui bahwa Babi Panggang Medan yang buatan orang-orang China Medan sudah lama terkenal sebelum merebaknya BPK (Babi Panggang Karo). Nah, orang-orang di Belanda mengasosiasikan Babi Panggang dengan Chinese Restaurant, walaupun pernah ada iklan saus babi panggang di TV yang menunjukan wilayah persawahan di Ubud, Bali.

Selanjutnya di video ini, pembawa acara pergi ke sebuah Restauran China. Pemilik restauran itu berkisah, ketika dia kuliah di China (berangkat dari Belanda), sekali waktu ibunya datang berkunjung. Dia pesan Babi Panggang karena di China dia tidak bisa temukan. “Bayangkan, saya memesan kepada ibu untuk membawa Chinese Babi Panggang dari Belanda ke China,” kata pemilik restauran itu sambil tertawa. Singkat cerita, obrolan tiba pada pembicaraan bahwa, menurut pemilik restauran itu, Babi Panggang aslinya dari Indonesia, Sumut.

Pembawa acara mengontak seorang perempuan Indonesia yang mengatakan oomnya bisa membuat Babi Panggang. “Namanya Oom Kumis. Dia tinggal di Berastagi, Kutarayat. Dia menjadi muslim sejak kawin dengan tanteku. Tapi, menurut ibu, dia masih makan babi panggang secara sembunyi-sembunyi,” kata perempuan itu tertawa.

Pembawa acara pergi ke Taneh Karo. Nampak dia berada di sebuah perladangan. Ada Oom Kumis di sana yang memotong-motong daging babi, menusuknya dengan temper dan kemudian memanggangnya di api. Oom Kumis lalu meracik “getah” dan memasaknya di api (getah adalah saos sambal uituk babi panggang Karo yang dibuat dari darah babi yang diberi bumbu dan rempah). Mereka menyantapnya dengan ceria. Bisa didengar Oom Kumis berkata BABI PANGGANG KARO. Kadang dia berbicara Inggris sepenggal-sepenggal dan kadang berbahasa Karo.

Setelah itu, pembawa acara mengunjungi Gereja Inkulturasi Berastagi dan mewawancarai Pastor Joosten. Setelah episode itu, pembawa acara pergi menemui seorang pemuda Batak yang katanya keturunan langsung penemu Babi Panggang. Dia sangat lancar berbahasa Inggris dengan tubuh penuh tattoo. Dari kata-katanya dia sangat kenal sudut-sudut Jakarta dan Pulau Jawa. Tapi, jujur saya mulai muak mendengar ucapannya.

Dia membuka kata: “Babi Panggang adalah icon Keluarga Batak.” Lalu dia cerita tentang Dalihan Natolu, kosmologi Batak yang dia kaitkan dengan tempat memasak Babi Panggang.
“Adakah resepnya Babi Panggang ini,” kata pembawa acara.
“Ada. Di Pustaha semuanya ada, mengenai apa saja. Obat-obatan, sejarah, dan apa saja, termasuk resep Babi Panggang. Itu adalah Kitab Injil Batak,” katanya berkoar-koar.
Dia mengaku keturunan langsung penemu Babi Panggang (walaupun maksudnya semua Batak adalah keturunan Siraja Batak si penemu Babi Panggang).
“Di mana saya bisa peroleh kitab itu?”
“Hai, men. In your own country. Tropen Museum,” katanya semakin petengtengan.

Di video nampak pembawa acara nantinya berkunjung ke Museum Tropen dan kurator museum itu menunjukkan sebuah kitab tanpa mereka ketahui apakah itu Pustaha atau Pustaka. Terlihat sekali bagaimana seorang Batak mengambil alih kebanggaan Karo menjadi kebanggaan Batak. Padahal, setahu saya, orang-orang Batak baru akhir-akhir ini mempunyai usaha Babi Panggang. Itupun jelas sekali rasanya sangat lain dengan BPK. Dulu mereka hanya mengenal saksang dan babi goreng. Sampai tahun 1990an, tak pernah tersedia babi panggang di rumah makanpun yang diusahai oleh orang Batak.
* * *

Dia berbuat begitu tidak akan mendapat kritik dari teman-teman sesukunya. Kalau Karo MEMBUAL seperti dia itu, sudah pasti erdengek gurungna e rambasi sesama Karo. Jangan-jangan, dengan tulisanku ini pun aku akan ditunjangi oleh sesama orang Karo.

Cuma, dia lupa terjebak oleh bualannya sendiri. Pustaha itu ditulis oleh para datu, bukan? Datu Batak berpantang makan daging babi. Konon pula menulis resep babi panggang di pustaha.
Hahahah …. ketahuan si pemuda bertato membual.