Hayyyy…. Assalamu’alaikum.
Aku ingin bercerita sedikit tentang suka duka ketika liburan di Negara Si Upin Ipin, yuuuuups Malaysia. Ini adalah liburan pertama ku ke luar negara tercinta Indonesia Raya. Saya pergi ke sana tidak sendirian yach, saya bersama teman kantor 2 orang. Jadi kami bertiga. Salah satu teman saya adalah orang yang udah melalang buana ke beberapa negara jadi beliau sebagai pemandunya yang super duper sabar dan salah satu teman saya juga baru pertama ke luar negara, bareng juga pas buat pasportnya. Kami liburan kesana tanggal 9-12 Desember 2016.

Berangkat jam 2 siang dari Surabaya dan sampe di bandara Kuala Lumpur kira-kira jam 8:00 malam waktu Malaysia. Kami langsung pergi ke Kuala Lumpur naik kereta KLI Express, yang wuuuusssss secepat kilat dan nyamaaan banget (sambil nglamun andai saja kereta api di Indonesia juga kaya gini, aku ogah dah naik motor). Stop.. sampe sini aja nglamunnya jangan di terusin. Ok… akhirnya kita sampe ketujuan yakni terminal …….

Stasion Kuala Lumpur, istirahat sejenak [foto/itaapulina]

Perjalanan belum selesai yach, masih harus naik kereta lagi, di sini kita harus nyari lagi kereta tujuan Pasar Seni. Tidak ada petugas loket yach. Self service, beli tiket nya semacam beli minuman, kita masukin duitnya keluarlah minumanya, tapi karena kami beli tiket jadi keluarnya tiket ya bukan minuman. Ketika tiket nya keluar dari mesin nya *sambil garuk2 kapala, ini tiket apa tutup botol aqua???*

Bentuknya bulat pipih semacam uang koin 500-an (di Indonesia). Karena udah dapet tiketnya kita langsung cuuuus dech ke stasiun Pasar Seni. Dari stasiun pasar seni kita jalan menuju China Town. China Town adalah surga belanja dan makanan. Banyak banget barang-barang dan makanan/ minuman yang dijajakan di sana. Tinggal pilih aja, harga??? Jangan khawatir, sangat bersahabat kok dengan kantong-kantong backpaker kaya’ kami.

Kebetulan kita udah booking penginapan di sekitar sana, kebayang ‘kan kalo lapar tinggal keluar trus disambut sama para penjual makanan, serasa semua makanan itu melambaikan tangan ke arah kami minta di beli *lebay dech*.

China Town di waktu malam dengan lampion merahnya [foto/itaapulina]

Sesampai di penginapan langsung dech cuci muka dan mandi, terus kami keluar lagi untuk hunting makanan. Rasanya semua makanan mau di beli, eits.. tentunya yang halal yach karena saya moslem. Tenang ajah.. penjual makanan disana akan kasih tau kalo makanan yang dijualnya halal atau tidak. Disitulah saya merasa bahagia tak perlu tanya karena kostum saya berhijab si penjualnya langsung bilang “tak halal”. Dalam hati saya bersyukur pedagangnya bersikap jujur dan sangat peduli meskipun dengan orang yang tidak dikenal.
Setelah puas makan kami kembali ke penginapan, melihat kasur rasanya bahagia banget karena tidak ada yang paling dibutuhkan tubuh ini kecuali bantal dan kasur.

Sabtu, 10 Desember 2016 kami jadwalkan untuk mengunjungi Masjid Negara Malaysia (National Mosque Malaysia) & ke Museum Kesenian Islam Malaysia (Islamic Art Moseum Malaysia). Tujuan pertama kami adalah ke Nasional Mosque Malaysia, kami keluar dari penginapan jam 8:00 waktu Malaysia ya, bukan waktu Indonesia. Sebelum pergi ke Nasional Mosque Malaysia kami harus mengisi bahan bakar dulu buat nih badan biar kuat *kuat menghadapi kenyataan hidup*..hehehe. Yang saya maksud adalah sarapan pagi, daaaaaaan… eng.. ing.. eng.. kita makan di foodcourt China Town. Menu yang saya pesan adalah nasi lemak goreng, nasinya ayam gorengnya rasanya enak pake banget dach, dan satu hal semua makanan disini porsi nya jumbo, bikin klenger.. *nulis sambil ngiler kebayang rasa nasi lemak goreng*.

Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan ke National Mosque Malaysia, dengan jalan kaki, iyyyaaaa jalan kaki. Tapi, setelah jalan kaki beberapa meter kita ketemu abang-abang yang juga orang Indonesia yang berbaik hati memesankan grab buat kami bertiga *dalam hati berterimakasih kepada Allah karena telah mengirim abang-abang baik hati* supaya si anak emak ini gak capek jalan.

Ruangan utama Mesjid Negara [foto/itaapulina]

O EM JI ongkos grab nya murah pake bingit cuma 3 ringgit doang, udah nyampe depan National Mosque Malaysia. Gak afdhol ya seorang gila kamera kaya saya tidak ambil gambar yang bertuliskan “National Mosque Malaysia” Ok.. hayyuuk langsung masuk aja ke masjidnya, eits.. tunggu dulu ada panitia penjaga masjid pemirsa. Harus menghadap dulu sama panitianya. Tenang aja, bukan untuk beli karcis (tiket masuk) karena masuk masjid negara ini gratis tis tis kok, cuma ngisi data pengunjung dan ditanya muslim or non muslim?

Sama dipinjami baju muslim semacam gamis (baju longgar) beserta khimar nya untuk wanita. Jadi, kalo mau masuk masjid negara harus menutup aurat sesuai syariat Islam. karena aku udah menggunakan gamis (baju longgar) jadi aku tidak perlu menggunakan baju yang disediakan oleh panitia masjid. Bajunya juga ada 2 warna yakni ungu muda (seperti lavender) untuk non muslim dan ungu tua untuk muslim. Pasti bertanya-tanya kenapa beda??? Ini untuk membedakan mana yang muslim dan mana yang non muslim, karena yang non muslim hanya boleh diserambi masjid saja sedangkan yang muslim boleh masuk ke dalam ruang utama. Ruang utama ini sangat luas mungkin bisa menampung ribuan jemaah.

Masjid negara ini banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara seperti Australia, Perancis, Spanyol dan negara-negara lain nya. Masjid Negara dan makam Pahlawan juga didaftarkan sebagai Warisan Kebangsaan di Kementrian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia. Desain dinding-dinding masjid yang begitu indah dengan ukiran-ukiran kaligrafi bernuansa biru hitam dan emas, dan dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang cantik serta karpet dengan warna merah bata yang cocok sehingga terlihat matching dan modern.

Masjid Negara dilengkapi dengan perpustakaan di dalamnya, ruang pertemuan (untuk tamu negara), ruang rapat dan makam pahlawan serta dikelilingi taman yang tertata rapi dan indah. Terdapat pula menara setinggi 75 meter yang puncaknya berbentuk seperti payung tertutup. Jadi cocok banget kan buat wisata religi dengan biaya yang super duper murah.

Kubah biru Mesjid Negara [foto/itaapulina]

Setelah puas muter-muter dan jeprat jepret di masjid *gak salat ya karena belum waktu nya salat*, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Art Malaysia yang jaraknya cuma beberapa meter dari masjid negara. Masuk museumnya kali ini tidak gratis, tiketnya seharga 45RM untuk 3 orang sekitar 15RM untuk 1 orangnya. Museum nya gedeeee banget ada 3 lantai, koleksinya buuuanyak banget. Namanya juga museum ya, pastinya isinya barang antik dan barang yang tua-tua banget. Koleksinya kereeeeen banget, pokoknya kalo travelling ke Malaysia wajib mengunjungi museum ini.

Kaki anak emak rasanya mau lepas kecapekan muter-muter museum, tapi belum pengen keluar dari sana. 1 hari pun sepertinya gak cukup buat muterin museumnya. Akhirnya kita keluar dari museum dan melanjutkan perjalanan kami ke Central Market. Kami menuju ke Central Market naik sepatu alias jalan kaki. Jadi, setiap ada tempat yang menarik kami berhenti hanya untuk mengabadikan gambar, apalagi aku sangat senang digambar oleh kamera.

Sepanjang perjalanan saya tidak berhenti mengomel karena kecapekan. Setelah sampai didepan Central Market kami disambut pengamen jalanan yang sedang live show disana. Menurut saya cukup menghiburlah. Central Market ini menjual bermacam-macam barang, cocok banget untuk oleh-oleh mulai dari kerajinan tangan, tas, perhiasan, baju, sandal, sepatu, cemilan, semua ada di sana. Harganya?? Tenang, tidak sampai merobek-robek dompet backpaker. Apalagi kalau pandai menawar akan dapat harga murmer (harga jongkok) alias super murah.
Setelah kami puas muter-muter untuk berburu dan telah menemukan pujaan hati.. eh salah, oleh-oleh maksudnya kami keluar dan kembali ke penginapan.

Mesjid Negara di Jalan Perdana [foto/itaapulina]

Bayangkan seorang anak emak yang hobynya tidur, nonton film India & drama Korea harus berjalan berkilo-kilo rasanya sesuatu banget. Tidak ada yang saya butuhkan malam ini kecuali salonpas dan kasur. Jangan remehkan salonpas, saya bukan endorse tapi itu sangat amatlah penting untuk dibawa ketika traveling.

Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang saya jalani dihari itu. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya pribadi, menjadi hari yang begitu indah dan menyenangkan. Saya belum bisa move on sampai sekarang dengan perjalanan mengukur jalanan kuala lumpur. Dan semoga bisa kesana kembali. Udah segitu aja ceritanya.
Wassalamualaikum.