Trip kali ini aku bersama dua orang teman menuju Pulau Sulawesi. Perjalanan dimulai dengan naik pesawat dari bandara Juanda Surabaya menuju ke bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Dari bandara Sultan Hasanuddin, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju terminal bus. Sesampai di terminal sudah malam, untungnya masih sempat kebagian bus. Kami naik bus terakhir yang menuju Tana Toraja. Jam 10 malam bis mulai bergerak.

Perjalanan Makasar-Tana Toraja memakan waktu antara 7-8 jam. Bus yang kami tumpangi sangat nyaman, dengan dudukan dan sandaran yang empuk, ada sandaran kaki juga. Cukup nyaman untuk melakukan perjalanan jauh. Karena sudah malam dan kelelahan, kami tertidur sampai pagi. Sekitar jam lima pagi sampai di Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara. Lalu kami menyewa mobil untuk keliling sehari di Tana Toraja. Pemilik mobil, namanya Robi adalah penduduk asli Rante Pao. Lumayan sekalian dapat guide gratis.

Karena tidak ada rencana menginap, kami minta Robi untuk mengantar kami mandi di masjid terdekat. Setelah mandi baru terasa lapar, mencari makan pagi karena sejak malam perut kami belum terisi makanan. Keesokan harinya pas mau pulang aku tersadar kalau di Rantepao ini jarang sekali tempat makan. Jadinya kami makan pagi, siang dan makan malam, dan makan pagi keesokan harinya di tempat yang sama dan dengan menu yang sama. Hahaha…

Peti-peti mati yang lapuk dan tengkorak yang sudah berusia ratusan tahun di Kete Kesu [foto/itaapulina]

Setelah mengisi perut, kami dibawa oleh Robi ke Desa Kete Kesu yang berjarak sekitar 5 km dari Kota Rantepao. Pertama kali masuk, terhampar pemandangan persawahan yang sejuk, mungkin juga karena kami datang di tempat ini terlalu pagi. Masuk ke Kete Kesu disambut dengan deretan rumah adat masyarakat Toraja, mereka menyebutnya Tongkonan.

Tongkonan dihiasi dengan ukiran yang indah disisi bagian luarnya dan berdampingan dengan lumbung padi. Di sisi depan terlihat menjulang tanduk kerbau berpasangan, semakin banyak tanduk ke kerbau yang tersusun, konon semakin tinggi status sosial pemilik rumah tersebut. Semakin banyak mempunyai kerbau, semakin kaya seseorang. Ini salah satu penyebab, mengapa harga kerbau sangat tinggi di Toraja, antara 30 juta sampai 1 M.

Kami terus berjalan menuju kuburan batu, di bagian belakang deretan Tongkonan. Sebelum menaiki tangga menuju kuburan batu, ada banyak bangunan kuburan dengan bentuk yang indah-indah. Di depan kuburan ada patung yang wujudnya menyerupai wujud asli mereka yang dimakamkan. Terbuat dari kayu, diberi pakaian yang indah dan raut wajah mereka sangat mirip dengan foto yang terpasang. Persis aslinya. Menurut Robi, harga satu patung bisa mencapai belasan juta.

Lubang-lubang di tebing batu yang sudah ditutup. Di dalamnya tersimpan peti mati berisi jenasah [foto/itaapulina]

Upacara kematian di Toraja membutuhkan biaya yang cukup besar. Mereka menyebut upacara itu dengan ‘Rambu Solo’. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal dan belum punya biaya untuk mengadakan Rambu Solo’, mereka menyimpan jenasah yang sudah diawetkan dengan ramuan tradisional di dalam rumah. Jenasah diperlakukan layaknya orang hidup. Tetap diberi makanan dan minuman, diberi pakaian. Bisa sampai bertahun-tahun, hingga keluarga yang meninggal merasa sudah mendapat waktu yang tepat dan punya biaya yang cukup untuk mengadakan upacara ‘Rambu Solo’ dan menghantarkan yang mati ke kehidupan baru.

Kuburan batu di Kete Kesu, dipenuhi tengkorak kepala dan tulang rangka manusia. Tulang belulang itu terletak di sejumlah titik. Sepanjang tangga dipenuhi tengkorak-tengkorak manusia, hingga menuju gua dan tebing batu tersebut. Tulang belulang itu dibiarkan dan terkumpul di pinggiran anak tangga. Peti mati yang terbuat dari kayu lapuk dimakan waktu.

Tengkorak dan tulang belulang itu umurnya sudah ratusan tahun. Sampai di ujung kuburan batu, ada sebuah gua yang digunakan untuk menguburkan mayat. Agar peti-peti yang ada di dalam gua dapat terlihat, diperlukan penerangan. Banyak anak kecil yang menyewakan senter untuk para pengunjung yang ingin masuk ke dalam gua. Kami hanya masuk separuh jalan, tidak tahan pengap. Udara di dalam sangat lembab dan lantai gua sangat licin.

Deretan patung kayu di depan kuburan batu di Londa [foto/itaapulina]

Puas mengelilingi kuburan batu Kete’ Kesu, kami menuju ke Gua Londa yang terletak di perbatasan antara Makale dan Rantepao, tepatnya berada di sebuah desa kecil bernama Sandan Uai. Gua Londa merupakan kompleks pemakaman kubur batu, gua ini menjadi tempat penyimpanan jenasah yang dikhususkan bagi mereka keturunan langsung leluhur asli dari desa itu. Dari gapura kompleks pekuburan, kami menaiki beberapa anak tangga hingga sampai ke kuburan batu.

Di setiap sudut banyak dijumpai peti jenazah yang memang sengaja diletakkan secara bertumpuk, karena area gua tidak cukup lagi menampung peti-peti mati yang terus bertambah. Di tebing batu banyak lubang untuk menyimpan peti-peti. Juga diperlukan lampu penerangan jika ingin masuk sampai ke ujung gua. Banyak warga sekitar yang menyewakan lampu minyak. Kesan mistis sangat terasa, tetapi dibalik itu semua pemandangan alam yang ada akan membuat kita terhipnotis dan ingin berlama-lama menikmatinya.

Keberuntungan kali ini berpihak pada kami, karena bisa melihat langsung upacara adat kematian yang disebut Rambu Solo. Upacara Rambu Solo biasanya dilakukan sekitar bulan Juni, Juli, atau Desember. Kami menyaksikan para penjagal melakukan penyembelihan puluhan babi dan kerbau secara massal. Melihat keunikan serta sakralnya budaya, adat istiadat dari Tana Toraja. Menurut keyakinan dari masyarakat Toraja hewan – hewan tersebut merupakan sarana transportasi menuju kehidupan baru bagi para arwah manusia yang meninggal dunia.

Masih menurut Robi, semakin tinggi status sosial orang yang meninggal tersebut, maka babi dan kerbau yang diterima akan semakin banyak jumlahnya. Uniknya, setiap kerbau dan babi yang disumbangkan dalam upacara besar ini biasanya dikenakan pajak potong hewan sesuai dengan perda Kab. Toraja Utara. Walaupun sebagian masyarakat masih berbeda pendapat soal pajak hewan dalam upacara adat, terlihat tétap dilakukan penghitungan nilai pajak yang harus dibayar untuk hewan-hewan yang terkumpul.

Prosesi dalam upacara Rambu Solo [foto/itaapulina]

Di depan kami jumlah babi sudah tak terhitung. Mungkin mencapai angka ratusan. Tanah merah karena darah. Udara penuh dengan bau darah. Babi dan kerbau mulai bergelimpangan. Semakin matahari meninggi, semakin banyak hewan yang berdatangan. Selain babi dan kerbau yang datang dari pihak keluarga, babi dan kerbau juga berasal dari sumbangan kerabat. Saling memberikan bantuan berupa babi atau kerbau sudah menjadi kebiasaan orang Toraja. Kerbau dibalas Kerbau, babi dibalas babi atau kerbau. Pengembalian biasanya selalu lebih besar dari yang sudah diterima.

Daging kerbau dan babi ada yang langsung dimasak untuk dimakan para tamu, dan ada juga yang setelah disembelih dan dikuliti lalu dibagikan ke desa di sekitar tempat upacara adat berlangsung. Kami bertiga ternganga melihat begitu megahnya pesta kematian ini diadakan. Mereka merayakan kehidupan baru yang akan dimasuki setelah kematian. Lebih besar dan meriah dari pesta pernikahan. Biaya yang dikeluarkan untuk pesta ini mencapai ratusan juta. Pesta biasanya digelar satu malam atau bahkan sampai tujuh malam tergantung dari kemampuan keluarga.

Bunyi-bunyian yang dimainkan dengan alu dan lesung mengiringi prosesi [foto/itaapulina]

Untuk menyemarakkan upacara dan membuat betah para tamu, biasanya dilakukan acara sabung ayam. Yang bermain di arena memasang taruhan yang cukup besar. Kadang hewan ternak, bahkan ada juga yang mempertaruhkan kendaraan. Acara sabung ayam dalam upacara adat dilegalkan di Tana Toraja, karena merupakan bagian dari adat itu sendiri. Penyelenggara upacara cukup melapor kepada polisi setempat. Jangan coba-coba melakukan judi sabung ayam di luar upacara adat, kecuali anda siap menanggung resikonya.