Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.1)

Ditulis oleh: Juara R Ginting (Leiden)

0
12

Setelah Edi Sembiring mengirim lengkap artikel dari potongan koran Harian Leiden di atas (koran ini masih terbit hingga hari ini), saya tercenung oleh tanggapan Prins mengenai masa depan catur Indonesia, khususnya mengenai Merlep Ginting. Tanggapannya persis sama dengan apa yang saya sering utarakan mengenai Karo di Milis Tanah Karo (yahoogroups) dan Jamburta Merga Silima (Facebook group), termasuk di dalam beberapa kolom saya di Tabloid Sora Sirulo.

Pertama, Prins mengatakan, kalau dipertandingkan pecatur Belanda dengan pecatur Indonesia 10 lawan 10, maka Belanda yang akan memenangkan pertarungan. Akan tetapi, kalau 100 pecatur lawan 100 pecatur, maka Indonesia yang akan memenangkannya.

Saya pernah bercerita bahwa saya disegani sebagai pecatur ulung di Leiden. Baik di kalangan Indonesia maupun orang-orang Belanda, selalu terkagum melihat permainan catur saya. Padahal, di Padangbulan sana saya sama sekali tidak dianggap sebagai pemain catur.

Apakah orang-orang Belanda kalah hebat dengan orang Indonesia dalam bermain catur? Hoooo ….. Jangan lupa, Dr. Max Euwe adalah Juara Dunia Catur FIDE sebelum Boris Spasky. Dia adalah Profesor matematika di Universitas Tillburg sebelum terpilih menjadi Presiden FIDE. Max Euwe remis dengan Pa Kantur Purba sebelum menjadi juara dunia, sehingga Pa Kantur disegani sebagai nativistic leader di Karo atau gerakannya dalam antropologi disebut ‘mesianic movement’ (gerakan Ratu Adil).

Setelah Euwe, ada Jan Timman yang menjadi langganan partai laga dengan Korchnoi dan Karpov dalam penentuan finalis kejuaraan dunia. Bisa dikatakan, setelah Rusia dan India, Belanda adalah negara terbaik dalam catur dunia. Namun, hanya orang-orang tertentu di Belanda yang bermain catur secara serius. Beda dengan di Karo, hampir semua lelaki bisa main catur dan lumayan hebat-hebat. Bedanya lagi dengan Belanda, para pecatur serius punya sarana lengkap, selengkap-lengkapnya dan negara mendukung dengan menyokong kehidupan mereka. Dengan begitu beberapa pecatur dapat mencapai prestasi di tingkat dunia. Itulah latar belakang pernyataan Prins tentang pandangannya soal masa depan catur Indonesia ataupun Karo di atas.

Saya sangat setuju dengan Prins. Demikian pula dalam sepakbola. Untuk anak-anak, Indonesia bisa dikatakan mampu bertarung di kelas dunia, tapi untuk tingkat junior dan senior, Indonesia tidak ada apa-apanya. Di mana salah benangnya? Secara umum, saya kira terkait hal-hal berikut ini:
1. Pembinaan (seleksi, pembelajaran dan latihan)
2. Kompetisi (perlu ditingkatkan jumlah dan kualitas kompetisi)
3. Ekonomi (Sokongan finansial untuk keluarga pemain, baik oleh negara maupun swasta serta kesempatan komersil, menjadi bintang iklan misalnya).

Tidak adanya faktor pendukung seperti di atas adalah alasan Prins meramalkan Merlep Ginting tidak akan pernah menjadi pemain dunia, walaupun dari segi kecerdasan, Merlep tidak kalah dengan pemain dunia lainnya.

Prins terkejut melihat permainan Merlep Ginting yang hebat. Tetapi kepada wartawan dia katakan, susah membawa Merlep ke tingkat internasional. Dengan bahasa yang halus dan sopan, dia menyiratkan adanya hal-hal lain di luar kemampuan bermain catur yang menentukan apakah seseorang itu akan sukses atau tidak dalam jenjang karir lebih tinggi. Prins tidak menjelaskan apa saja itu, tapi persilahkan saya menafsirkan kata-katanya karena kebetulan pula saya mengenal sedikit Merlep Ginting semasa hidupnya.

Pada tahun 1980, Merlep Ginting menjadi Juara 1 Catur se Kabupaten Karo. Saya pernah bertemu dia di Tiga Pancur (Kecamatan Simpang Empat). Saat itu dia berpakaian hitam (seperti pakaian silat dan tetap makan sirih).

Ramalan Prins benar. Dia tidak lebih daripada pecatur “kampungan”. Sudah pernah berhadapan dengan seorang pecatur kelas dunia seperti Prins, tapi masih mau juga mengikuti kompetisi tingkat “kampung”. Kesalahan memang tidak bisa kita letakkan hanya di pundak Merlep Ginting. Soalnya, orang seperti Cerdas Barus saja bisa mencapai Grand Master padahal dia punya beberapa kelemahan fisik maupun kejiwaan. Itu bisa tertutupi karena dampingan Percasi yang kebetulan Sibayak Sarinembah pula ketuanya.

Tapi, bagaimana dengan Monang Sinulingga? Walaupun dia jauh lebih dahulu bermain di kancah nasional dan internasional daripada Cerdas Barus, dia tetap tidak berhasil meraih Grand Master. Padahal, saya kira dia sangat mampu. Mengapa pula menjelang akhir hidupnya dia bermain catur dengan wisatawan asing di Berastagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berakting seolah-olah dia hanyalah seorang lelaki lokal, hingga akhirnya ada seorang turis yang mengenalinya sebagai pecatur internasional dan turis itu menjadi marah sekali.

Salah satu kelemahan orang-orang Karo secara umum adalah kurangnya kemampuan dalam pergaulan nasional maupun internasional. Penguasaan bahasa adalah syarat utama dalam pergaulan. Tapi, pergaulan adalah juga masalah sikap dan inisiatif. Hanya dalam pertemuan atau perkenalan pertama orang-orang rela membantu kita serta bertoleransi dengan kelemahan-kelemahan kita.

Jangan lupa, setiap orang punya urusan dan masalah sendiri-sendiri. Mbue urusen kalak, anakna pe enterem. Labo kam ngenca urusen kalak. Umunya orang Karo terlalu mengharapkan orang lain memaklumi kelemahannya dan berkutat terus di kelebihannya. Orang Karo yang sudah merantau atau melakukan kunjungan resmi ke luar negeri pasti sangat mengerti maksud saya.

Sebagai contoh, pengalaman saya sewaktu dipanggil berdiskusi ke sebuah universitas di Jerman oleh seorang profesor. Memang kunjungan saya itu didanai, tapi saya tidak membayangkan bahwa semua kebutuhan seperti halnya penginapan harus saya urus sendiri. Saya ketok pintu kamar kerja profesor itu. Sekretarisnya membuka pintu dan dia tetap berada di hadapan komputernya.
“Selamat datang,” katanya sambil berdiri menyambut salamku.
“Sudah dapat kamar penginapan?” katanya bertanya.

Akupun tersentak karena tidak memikir sedikitpun ke arah sana. Untung saja sekretarisnya mengambil inisiatif (sekretarisnya adalah mahasiswi dan pernah mengikuti kuliahku di sana). Dia meraih satu tasku yang paling ringan dan mengajakku mengikutinya. Lalu dia kontak seseorang dan dengan orang itu aku berjalan menuju penginapanku. Mengapa aku dengan mudahnya mengatasi masalah? Semua yang membantuku itu adalah bekas mahasiswiku dan sekaligus menjadi teman-temanku (di Jerman mahasiswa bisa bekerja mendapat gaji di universitasnya).

Sering sekali orang-orang Karo langsung gelap mata bila menghadapi hal-hal seperti itu karena tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Penyebabnya adalah karena rendahnya kemampuan bergaul. Takut dianggap salah, takut terlihat bodoh, dan lain sebagainya. Padahal, pergaulan internasional itu adalah biasa-biasa saja. Asal berpakaian rapi dan bertutur bahasa sewajarnya, di mana saja kam tak perlu takut lagi untuk bertanya dan bercakap-cakap dengan siapa saja.

Perhatikanlah sekali lagi foto Merlep Ginting. Maka kam pun akan mengerti apa yang dimaksud oleh Prins dalam meramalkan masa depan karir Merlep Ginting dalam catur. Kelemahan dalam bergaul itu jugalah yang membuat orang-orang Karo PERMENEK dan suka CEKURAK. Dua karakter ini sangat kuat terdapat pada orang yang lemah bergaul.

“Ieteh kalak min aku jago,” atena tapi la pernah cidahkenna ia jago. Uga ning kalak metehsa? Adi enggo ieteh kalak ia jago, ia ka me atena mis irajaken? La kalak sempat.

(Bersambung ke Bagian 2)