Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.2)

0
30

Pecatur Belanda itu memuji Hutagalung, Arovach Bachtiar, dan Merlep Ginting, tapi dia mengatakan Merlep Ginting tidak akan bisa mengembangkan karirnya ke dunia internasional. Padahal, Prins, menang melawan Hutagalung dan Arovach Bachtiar, sedangkan dengan Merlep dia remis (draw). Setelah tinggal di Belanda dan banyak bergaul dengan orang-orang Belanda (di kegiatan-kegiatan akademik, seni, olahraga, dan sosial), saya sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Prins tentang keterbatasan Merlep.

Saya sudah beberapa kali mengikuti seminar internasional maupun menjadi dosen tamu di berbagai negara. Untuk itu, saya berangkat sendirian dan pulang sendirian. Bayangkan berapa banyak yang harus saya urus sendiri tanpa bantuan orang lain:
1. Keberangkatan dan ketibaan di bandara internasional yang berbeda-beda
2. Berbahasa Inggris
3. Check in dan check out hotel
4. Memperhitungkan waktu transit dan bagaimana menemukan kendaraan transit itu (pesawat udara, kereta api, atau bus)
5. Berkomunikasi dengan tuan rumah (pegawai, panitia, atau entah siapa)

Bertanding catur bagi Merlep Ginting tidak masalah karena itu memang dunianya, seperti saya mempresentasekan makalah atau memberi kuliah. Tapi, kam akan merasakan sendiri betapa dunia ini tiba-tiba tidak bersahabat dengan kam bila kam harus mengurusnya sendiri.

Sekarang perkenankan saya menceritakan suasana di Sanggar Seni Sirulo beberapa tahun lalu saat hendak manggung di Pelataran STMIK Neumann. Para artis yang sekitar 20 orang itu rata-rata usianya setingkat mahasiswa atau sarjana baru tamat. Jangankan mengurus peralatan musik tanpa dikomando, mengurus diri mereka sendiri pun tak becus. Bukan tidak bisa, kebanyakan koyok hingga ketika saatnya mendesak, sudah bertabrakan di kamar mandi sehingga harus antri. Waktu yang begitu banyak jadi terbuang, lalu terburu-buru hingga akhirnya terlambat dan pertunjukan molor waktu.

Saya sama sekali tidak tahan menghadapi situasi begitu. Soalnya, sejak kecil saya sudah terbiasa mengorganisir diri sendiri setelah menyesuaikannya dengan program organisasi/bersama. Tapi, itu bukan pengalaman saya yang pertama. Semasa SMP dan SMA saya pernah menjadi komandan Pramuka. Gawatnya, anak buah saya rata-rata anak-anak Karo pula.

Apa yang sangat mencolok bila anak buah anda orang Karo? Positipnya orang Karo itu memang egaliter, tapi kebablasan. Anak buah bisa berlomba mengatur komandan. Bagenda min bandu, kam la kin diatendu enda dan lain sebagainya…

Sewaktu Jamnas 1977 di Sibolangit, anak buah saya “ngepek” cewek semua ke tenda perempuan. Atas dasar rasa tanggungjawab, saya memasak sendirian di perkemahan pria. Lalu, seorang cewek dari tenda perempuan melapor bahwa anak buah saya bilang, mereka punya tukang masak yang maksudnya adalah saya. Langsung saya tendang semua kudin belanga dan saya ajak cewek itu jalan-jalan.

Ketika kakak pembina nantinya mau makan dan tidak ada makan malam, saya berkata (di depan anak buah saya): “Aku dengar kita punya tukang masak.” Semua diam dan menjadi kelaparan di malam itu, sedangkan saya sudah makan dengan cewek tadi di Bandar Baru (makan, bukan masuk hotel lho ya..)

Apa inti masalah dalam soal masak itu? Tidak ada penghargaan terhadap tanggungjawab yang tinggi dari pemimpin. Pemimpin itu adalah orang yang “nunjuk-nunjuk” dan memerintah saja kerjanya. Tapi awas, bila kam melakukan itu dan gagal, maka yang salah adalah pemimpin itu sendiri.

Untuk prestasi tingkat lokal, tingkah polah seperti itu tidak kelihatan sebagai sebuah handicap. Lihat saja bila seniman-seniman Karo bertemu dalam sebuah pertunjukan: Sok ramah satu sama lain, koyok dan ketawa-ketawa, sok acuh terhadap peralatan musik yang dipegangnya (seolah-olah tekirkenna saja kari dung kerina). Kalau koordinator mengingatkan agar para artis mempersiapkan peralatannya, para artis berlagak seolah-seolah si koordinator terlalu mencemaskan hal-hal yang tidak perlu dicemaskan.

Ujung-ujungnya, pertunjukan tidak pernah maximal dan optimal. Untuk tingkat lokal bolehlah, karena tidak ada pilihan lain. Sideban pe kari bage kang. Tapi, untuk ke tingkat lebih luas apalagi di luar Karo? Ini pesan saya: Ubah sifat ingin DILAYANI menjadi sifat ingin MELAYANI.

(Bersambung ke Bagian 3)