Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.3 – Habis)

0
29

Kemarin, ada berita di Sora Sirulo tentang seorang anak kecil yang ditabrak oleh sebuah mobil pick up. Anak itu tidak lihat kiri-kanan, langsung menyeberang dan terjadilah peristiwa mengenaskan itu. Secara hukum, biarkanlah polisi yang menyelidiki dan pengadilan yang menentukan siapa salah atau mungkin menempuh cara perdamaian. Tapi, saya pribadi menyesalkan ayahnya yang tidak mengenali karakter anaknya (katanya periang) dan tidak berusaha sedini mungkin menuntunnya menyeberang.

Perbedaan antara seorang anak dengan seorang dewasa dalam menyeberang jalan adalah bahwa seorang anak belum punya bayangan jelas apa itu jalan raya. Dia sering melihat orang lari menyeberang maka dia pun melakukan hal yang sama tanpa menyadari mengapa orang berlari saat menyeberang.

Orang dewasa menjadi paham lalulintas dalam kaitannya dengan penyeberangan melalui berbagai pengalaman. Selain pengalaman menyeberang dituntun, ada pengalaman menumpang kenderaan, berkenderaan sendiri, mendengar keterangan/nasehat dari orang lain/guru, dan lain sebagainya. Termasuk juga dengan berjalannya usia yang membuat otak kita bisa membayangkan lingkaran 360 derajat meski mata kita tidak melihatnya semua dalam sekali pandang.

Banyak pemusik tradisional Karo yang muda-muda sangat piawai memainkan satu atau beberapa alat musik tradisional dan bahkan beberapa alat musik modern termasuk kibot. Namun, wawasan mereka tentang seni pertunjukan sebatas pengalaman mereka tampil di lingkungan Karo atau dapat pesanan dari jawatan pemerintahan.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri sebagai perancang utama pertunjukan-pertunjukan Sanggar Seni Sirulo, saya menyimpulkan adik-adik tidak punya konsep sama sekali tentang seni pertunjukan atau seni panggung. Mereka hanya tahu memainkan alat musik tertentu. Mereka tahu bahwa mereka bisa bermain dengan bagus sekali. Tapi, saya harus banyak berceramah mengenai pertunjukan secara tim kepada adik-adik. Selain ceramah, saya meminta Ita Apulina Silangit memimpin meditasi agar uraian saya tidak hanya sebagai pengetahuan tapi sekalian sebagai peresapan.

Meski tidak kuliah di Jurusan Etnomusikologi, bertahun-tahun saya melakukan penelitian lapangan mengenai musik, tari dan lagu tradisional Karo serta ritual-ritualnya. Saya sering jalan dengan etnomusikolog Philip Yampolsky dan Endo Suwanda, berdiskusi mengenai seni pertunjukan tradisional. Begitu juga melalui pertemanan saya dengan para mahasiswa Etnomusikologi di USU. Saya juga telah mengunjungi berbagai tempat lain di Indonesia untuk menikmati seni pertunjukan tradisional setempat, dibeberapa negara Asia Tenggara dan beberapa negara Eropah.

Suatu waktu, saya diminta menjadi dosen tamu ke Universitas Arhus (Denmark) yang salah satu mata kuliahnya adalah Etnomusikologi Sumatera Utara. Sejak itu, saya mulai merasa tertantang untuk membentuk Kelompok Tari dan Musik TARTAR BINTANG di Belanda. Di sinilah saya bereksperimen dan mengasah kemampuan saya sendiri merancang pertunjukan-pertunjukan untuk publik internasional. Ketika beberapa tahun berada di Indonesia, saya bentuk lagi Sanggar Najati dan kemudian Sanggar Seni Sirulo.

Isi ringkas dari kisah pribadi saya itu adalah bahwa saya mempelajari seni pertunjukan tidak lewat pendidikan formal, tapi berangkat dari ketertarikan untuk mengembangkan seni tradisi Karo. Untuk itu, langkah-langkah yang saya lakukan adalah:
1. Mempelajari seni tradisi Karo di lapangan (bukan hanya yang dipertontonkan tapi juga di ritual-ritual seperti erpangir, petampeken jenujung, raleng tendi, dlsb.)
2. Bergaul dengan para dosen dan mahasiswa Etnomusikologi USU serta para musisi Karo
3. Membantu para peneliti musik dari luar negeri dan sekalian berdiskusi dengan mereka
4. Menonton berbagai pertunjukan seni daerah-daerah lain di Indonesia dan Asia Tenggara
5. Menonton berbagai pertunjukan seni tradisi di Belanda dari negara-negara lain
6. Membaca tulisan-tulisan terkait seni pertunjukan tradisional
7. Menonton berbagai pertunjukan seni tradisional dari seluruh dunia di youtube
8. Mengadakan pertunjukan Karo di Belanda dan Indonesia

Salah satu hasil yang saya petik adalah undangan sebagai dosen tamu ke Denmark untuk memberi kuliah mengenai musik-musik tradisi Sumatera Utara (kebetulan saya punya banyak rekaman video untuk dipertontonkan kepada mahasiswa). Hasil lainnya adalah berhasilnya saya mengadakan pertunjukan seni tradisi Karo yang menurut orang-orang sangat “mendekati aslinya” padahal sebelum saya ciptakan itu tidak pernah ada di dalam tradisi Karo.

Keinginan untuk belajar ternyata sangat minim di pemusik tradisi Karo. Mengapa saya sering menggunakan clip dari Jacky Raju Sembiring untuk berita-berita Sora Sirulo? Karena saya merasa grup ini sangat, sangat dan sangat paham apa itu PERFORMING ART. Bila semua pemusik muda Karo memahami dan berwawasan PERTUNJUKAN or performance seperti Jacky Raju Sembiring dan bukan show (berjingkrak-jingkrak sambil niup surdam), saya yakin seni pertunjukan Karo segera dalam waktu singkat akan MEMBAHANA KE TINGKAT DUNIA.

Secara teknik bermain, Jacky Raju Sembiring dkk bukanlah pemusik kelas nomor 1 di Karo, tapi secara wawasan performance art, mereka adalah seperti Jeruk Madu dari Liang Melas, numero uno. Kualitas bermain para pemusik muda Karo, saya angkat tangan dan kagum sekagum-kagumnya. Tapi, untuk wawasan maju, saya takut mereka seperti anak kecil korban tabrak itu, tanpa dituntun mereka merasa sudah sangat paham tapi tetap akan lari di tempat.

Inilah kesan saya menanggapi apa kata pecatur Belanda itu mengenai pecatur Karo Merlep Ginting. Belajarlah sendiri untuk modal mengembangkan diri. Hasilnya untuk Karo akan kita petik bersama. Salam Mejuah-juah, Merdeka NKRI.