Judul Buku: The Lowland
Penulis : Jhumpa Lahiri
Terbitan : Bloomsbury Publishing, Great Britain
2013 – 339 pages

Ini hanya sebuah catatan setelah membaca novel ‘The Lowland’ yang menghanyutkan, menghanyutkan saya menjadi tidak punya rasa. Ya, novel ini memang mengisahkan tokoh-tokohnya yang mematikan rasa agar bisa bertahan hidup, tidak saja oleh karena penderitaan fisik, tetapi juga karena penderitaan bathin.

Buku ini berkisah tentang 2 bersaudara yaitu Udayan dan Subash, yang tinggal bersama keluarganya di wilayah sub-urban di Kalkuta. Umur mereka tidak terpaut jauh, membuat keduanya menjadi sahabat, bersekolah bersama dan bertualang ala anak kecil bersama. Bab pertama diawali dengan ingatan Subash, sang adik tentang masa kecil mereka ketika menyeludup ke dalam sebuah klub mewah di Kalkuta untuk memungut bola-bola golf yang ditinggalkan bule-bule Inggris di lapangan golf club itu. Hanya bule-bule Inggris dan warga Kalkuta kelas atas yang diijinkan menjadi member club.

Ayah mereka adalah pegawai jawatan kereta api dengan penghasilan pas-pasan, sedikit di atas rata-rata warga Kalkuta lainnya. Walaupun begitu, orangtua mereka punya semangat yang luar biasa untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga ke universitas. Mereka berhasil masuk universitas dan termasuk mahasiswa yang pandai. Namun, universitas jualah yang mengubah jalan hidup mereka sekeluarga. Universitaslah awal takdir hidup yang dijalani hingga mati bagi setiap tokoh.

Udayan, seorang pemuda yang berkharisma dan selalu dituntun oleh perasaannya. Di masa kuliah dia berkenalan dengan gerakan komunis India yang dikenal dengan Gerakan Naxalite, gerakan yang menuntut pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan sosial dan kemiskinan. Aktifitasnya di gerakan ini membuat dia terseret jauh dan terlibat dalam. Ketika Udayan menyelesaikan kuliahnya dia memilih hidup sederhana menjadi guru agar bisa tétap aktif dalam organisasi, pilihan yang membuat orangtuanya kecewa karena seharusnya Udayan dapat menghasilkan banyak uang dengan memilih pekerjaan lain dan membantu menaikkan taraf hidup keluarga.

Jhumpa Lahiri, penulis novel The Lowland.

Subash adalah tipikal pemuda yang tenang dan pandai mengendalikan diri. Ketika kakaknya memilih menjadi guru, dia bertekad keluar dari India dan bersekolah di Amerika. Dia berhasil mendapatkan beasiswa dan diterima di sebuah universitas di Rhode Island. Subash berusaha menyadarkan Udayan, bahwa masa depan akan lebih baik jika mereka bersekolah ke luar India. Tapi, Udayan menuduhnya sebagai manusia yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli kepada sesama saudara sebangsa yang ditindas dan menderita. Dalam hati Subash merasa kalah dengan keberanian kakaknya yang berani memilih jalan hidup yang tidak populer di kalangan masyarakat India saat itu.

Merekapun berpisah, memilih jalan sendiri-sendiri. Tinggal berjarak beribu mil, belum ada telepon. Hampir tidak pernah berkomunikasi, hingga kemudian suatu hari Udayan mengabarkan lewat surat tentang pernikahannya dengan gadis pilihannya sendiri. Lagi-lagi tidak seperti lelaki India umumnya, dimana ibu mereka akan memilihkan perempuan dan menjodohkan mereka.Pilihannya adalah seorang gadis independen, pintar dan hobi membaca, intelektual dan sarjana filsafat. Subash merasa kalah sekali lagi dengan kakaknya yang berani melawan tatanan sosial.

Dua tahun di Rhode Island, akhirnya Subash pulang ke Kalkuta karena sebuah telegram yang dikirimkan ayahnya yang mengabarkan tentang kematian Udayan. Perjalanan sendu, tidak seperti yang dibayangkannya. Subash merasa suasana rumah mereka berbeda. Ayah dan Ibu yang tidak menyambutnya dengan gembira, kakak ipar yang lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu membaca buku dan yang paling menyakitkan tidak seorangpun yang berbicara kepadanya tentang kematian Udayan. Subash tidak tahan lagi, dia menanyakan langsung kepada Gauri, istri Udayan. Dalam remang subuh, Gauri menceritakan kematian Udayan yang tragis. Polisi yang sudah lama mencurigainya berperan di banyak kegiatan propaganda Gerakan Naxalite, mereka mencarinya kemana-mana. Polisi menangkap Udayan di rumah orang tua mereka dan menggiringnya keluar. Lalu, di lembah di depan sana, di seberang rumah, beberapa peluru menghabisinya di depan Gauri, Ibu dan Ayah.

Dalam beberapa hari, Subash menangkap ketidaksukaan orangtuanya terhadap Gauri yang tengah mengandung anak Udayan. Dia ingin menyelamatkan Gauri. Subash menikahi Gauri dan membawanya ke Amerika. Gauri melahirkan Bela, tetapi tidak bisa mencintai Subash dan Bela sebagaimana seharusnya seorang istri, seorang ibu. Gauri meninggalkan mereka dan menempuh karir sebagai professor filsafat di Amerika. Subash merawat dan membesarkan Bela sendirian. Mereka tidak bercerai, tetapi juga tidak bersama hingga ajal menjemput.

Secara umum, konflik antara Udayan dan Subash seolah mewakili konflik ideologi komunis dan liberal. Mereka abang dan adik, mereka bersaudara. Penganut ideologi komunis dan liberal adalah bersaudara, mereka berdua adalah rakyat India. Bukankah hal yang sama juga jamak dalam masyarakat lain di dunia, di sekitar kita?

Tetapi, yang membuat konflik dalam buku ini menjadi menarik adalah kehadiran tokoh Gauri. Perempuan yang awalnya terpesona dengan kharisma Udayan yang revolusioner, ternyata akhirnya membawanya kembali ke dalam rumah, seperti perempuan-perempuan lain di India. Pendidikan ilmu filsafat yang dijiwainya dengan kemerdekaan memilih, menjadi diri sendiri, mentah di tangan laki-laki yang dicintainya. Dalam beberapa bab dikisahkan, bagaimana Gauri dimanfaatkan untuk melancarkan gerakan bawah tanah kaum Naxalite, tanpa dia sendiri menyadari apa yang sedang dia lakukan.

Ketika Subash membawanya ke Amerika, dia hanya berpikir mengurangi beban keluarga mertuanya, bukan karena mencintai Subash. Justru di Amerika dia bergaul kembali dengan ilmu filsafat dan akhirnya menemukan jalannya sendiri, yaitu memilih menjadi feminist dan mengembangkan karirnya menjadi pengajar filsafat. Dia meninggalkan anak dan suaminya tanpa merasa bersalah sedikitpun, berjuang terus hingga di puncak karirnya.

Bela kemudian membenci ibunya, Gauri. Seperti ibunya dia juga tidak mau mencari kabar keberadaan ibunya. Bela pessimist dengan institusi rumah tangga, memilih melahirkan anaknya tanpa suami, memilih membesarkan anaknya sendiri.

Jhumpa Lahiri dan The Lowland

Konflik kelompok masyarakat selalu di dua sisi, hitam putih, komunis liberal, atheis religius dlsb. Umumnya kedua kelompok ini selalu dalam bayangan gambar maskulin. Perempuan hanya menjadi penari latar panggung untuk membuat dekorasi pertunjukan pertarungan menjadi lebih menarik. Tetapi, Jhumpa Lahiri dalam novel ini menampilkan Gauri, sebagai metafor kelompok perempuan yang kemudian menyadari bahwa dia juga punya pilihan ingin menjalani hidup seperti yang diinginkannya. Secara individu Gauri bersalah karena meninggalkan keluarganya demi hidup yang dicta-citakannya, tetapi secara kelompok Gauri juga berhak menentukan pilihan sendiri seperti 2 kelompok maskulin tadi, tanpa harus bergabung di salah satu kelompok yang terus bertarung.

Membaca novel ini, saya larut dalam kepedihan hidup para tokoh, mereka lawan pedih dengan menjalani pilihan hidup dengan ikhlas. Saya bergetar ketika di ujung hidupnya, tatkala Udayan menatap wajah Gauri sebelum dibawa polisi, tiba-tiba dia menyadari bahwa sesungguhnya dia lebih membutuhkan Gauri daripada sebaliknya. Saya layu, ketika Subash memilih tidak menikah lagi dan membesarkan Bela semampunya seperti anaknya sendiri, dan menjadi lelaki yang dingin. Kita bisa merasakan penderitaan Gauri bertahun-tahun ketika tidak bisa memilih melakukan apa yang dia sukai, lalu merdeka mendapatkan apa yang dia mau tetapi harus mengorbankan keluarganya.

Pada akhirnya kehidupan mereka timpang, karena seorang Gauri, seorang perempuan, seorang ibu, seorang kekasih. Seandainya saya bisa mengatur jalan cerita, barangkali, ya barangkali, Gauri masih bersama mereka ketika dia diberi kebebasan mengerjakan cita-citanya, hal-hal yang disukainya, ketika dia diberi peran turut memberikan warna pentas pertunjukan kehidupan, bukan sekedar penari latar yang muncul sesekali sesuai tuntutan skenario.