Rethinking Nangkih – Bagian 1

DItulis oleh: Juara R Ginting

0
7

Jika orang di luar bertanya kepada seorang Karo: apa itu NANGKIH? Biasanya dijawab dengan singkat NANGKIH = KAWIN LARI. Padahal di Karo yang disebut kawin lari itu biasanya dikatakan KIAMKEN. Jadi, apa sebenarnya nangkih ini?

Menurut Rita S. Kipp dalam desertasinya The Ideology of Karo Kinship (1976), nangkih adalah pre wedding. Benarkah demikian halnya? Mari kita periksa satu per satu realitasnya dari beberapa pernyataan di bawah ini. Pernyataan ini saya cuplik dari komentar-komentar member di facebook group JAMBURTA MERGA SILIMA.

Jusim Goera mengatakan: Biasana kalak erjabu nangkih lebe perbahan lit salah sada pihak la senang ibas perjabun e. Adi radu-radu senang biasana la pe nangkih banci nge, adi radu senang, maka i kataken ercakap cakap, guna i bahan perjabun.

Pernyataan Jusim Goera menunjukkan bahwa NANGKIH bukan pre wedding.

Rony Roman Riquelme Itings: Nangkih ningen ei, ibabaken. Adi nggo babaken ningen go banci bebeken, ei maka anak beru je si ngerungguisa.

Satu poin penting dari pernyataan ke dua adalah bahwa, dengan NANGKIH, sepasang kekasih (lovers) sudah bisa melakukan hubungan suami istri dan seterusnya hidup bersama anak-anak mereka.

Nangkih tidak sama dengan KAWIN LARI. Ada syarat-syarat yang harus dilakukan untuk melakukan nangkih:

1. Si perempuan harus meletakkan sehelai daun sirih di atas beras yang akan dipergunakan oleh ibunya untuk memasak di pagi hari. Bila ibunya menemukan daun sirih ini, maka dia sudah tahu seorang putrinya melakukan nangkih. Terkadang orangtua sendiri yang menganjurkan putrinya untuk melakukan nangkih bila dianggap si laki-laki belum mampu mengadakan kerja erdemu bayu.

2. Sesaat kedua kekasih tiba di rumah bibina, serta memberitahukan ke bibi bahwa mereka mengadakan nangkih, maka anak beru senina pihak laki-laki berangkat ke rumah orangtua pihak perempuan dan menyatakan telah mengakui/menjamin kedua kekasih mengadakan nangkih. Senang atau tidak senang, tidak ada alasan pihak perempuan menyerang pihak laki-laki kecuali dia tidak takut akan terjadinya perang antar kuta.

Dari sebuah survei yang saya lakukan di tahun 1989, ternyata lebih 80% pasangan suami istri yang “kawin” di tahun 1930 – 1960 hanya melalui NANGKIH. Di tahun 1970an – 1980an banyak yang NDUNGI KERJANA/ ADATNA melalui sebuah ritual yang berjudul NGELEGI PEREMBAH MAN KALIMBUBU. Belakangan, ritual-ritual seperti ini semakin menyusut dan sekarang sudah mulai langka sekali. Ngelegi perembah/ bayang-bayang memang masih banyak dilakukan, tapi bukan lagi sebagai alasan untuk NDUNGI UTANG PERJABUN.

Artinya, terjadi peningkatan jumlah perkawinan yang langsung IDUNGI ADATNA alias LUNAS atau TUNTAS yang di dalam surat undangan biasanya disebut ERDEMU BAYU. Mengapa kecenderungan ini terjadi? Dulu tidak dianggap penting sekali ndungi adat perkawinan.

Setelah saya amati secara cermat, memang lebih menguntungkan tidak usah dibayar lunas dulu utang perjabun. Itu bisa dilunasi nanti saat anak pertama mereka menikah atau mengket rumah atau saat kematian dan bahkan ada yang dilunasi melalui NGAMPEKEN TULAN-TULAN. Jadi, menghemat biaya kerja. Ini sama dengan punya kartu kredit atau ATM yang kam bisa pakai terus menerus walaupun khas kosong alias ngutang ke bank.

Maka, saya menarik kesimpulan bahwa NDUNGI UTANG PERJABUN itu lebih banyak desakan agama daripada desakan adat. Dalam pandangan modern serta agama-agama dari luar, NANGKIH belum sepenuhnya sah. Apalagi di dalam Kristen, belum IPASU-PASU di gereja dianggap belum direstui Dibata, sedangkan untuk pasu-pasu itu rasanya janggal kalau bukan sekalian NDUNGI ADATNA.

Mungkin sidang pembaca melihat lain penyebabnya, tapi untuk sementara saya berpikiran begitu. Mengapa orang-orang dulu merasa tidak sangat terdesak untuk melakukan perkawinan erdemu bayu?

(Bersambung ke Bagian 2)