Rethinking Nangkih – Bagian 2

Ditulis oleh: Juara R Ginting

0
5

Orang Karo hidup di dalam 2 dunia dengan sistim sosial yang berbeda satu sama lain. Dalam ERDEMU BAYU maka terjadi sebuah pergerakan seorang LAKI-LAKI ASING dari luar KUTA memasuki kuta untuk diintegrasikan menjadi ANAK KUTA lewat sebuah RUMAH. Perhatikan siapa saja yang menerima TUKUR dari erdemu bayu (DASAR):
1. Batang Unjuken (ibu si perempuan) sebut saja M (Mother)
2. Singalo bere-bere (mami si perempuan) sebut saja MBW (Mother’s Brother’s Wife)
3. Sirembah Kulau (bibi turang bapa si perempuan) sebut saja FZ (Father’s Sister)
4. Singalo perbibin (bibi senina nande si perempuan) sebut saja MZ (Mother’s Sister)
Catatan:
1= Indung Sukut Sembuyak Sinereh
2= Indung Kalimbubu Sinereh
3= Indung Anak Beru Sinereh
4= Indung Senina Sinereh
Kesimpulan: Singalo tukur yang empat itu adalah sangkep nggeluh sinereh atau disebut juga batang daging dari jabu pengantin.
—————————
5. Singalo Perkempun (ibu dari ibu si perempuan) sebut saja MM (Mother’s Mother)
6. Singalo Perninin (ibu dari ayah si perempuan) sebut saja FM (Father’s Mother).
Catatan: Keenam ibu-ibu ini adalah yang menerima KAMPIL KEHAMATEN. Nomor 5 disebut juga SOLER (oler= aliran) dan nomor 6 BINUANG (yang menuangkan cairan logam/ cimpa ke cetakan/ belanga)
—————————
7. Singalo Ulu Emas (turang dari ibu si pria) sebut saja MB (Mother’s Brother).

Ini yang saya tampilkan adalah bentuk dasar. Di Karo Jahe masih ada lagi Perbapatuan dan Perbapangudan, Perseninan dan lain-lain. Tapi semuanya dapat ditarik ke bentuk dasar itu.

Mari kita kaji secara perlahan. Nomor 1 – 6 adalah semuanya dari pihak perempuan dan keenamnya perempuan, sedangkan nomor 7 adalah dari pihak laki-laki dan dia sendiri adalah laki-laki.

Hubungan pengantin dengan nomor 1 – 4 adalah hubungan antara mereka dengan sebuah Rumah Si Empat Jabu yang masing-masing “dikuasai” oleh seorang perempuan. Rumah ini adalah rumah perempuan. Erdemu Bayu adalah mengintegrasikan jabu dari pengantin ke kuta perempuan melalui sebuah rumah adat yang kalau di Taneh Pinem disebut juga perkawinan Arah Rumah. Erdemu Bayu dus adalah UXORILOCAL (tinggal bersama lokalitas perempuan).

Mari kita periksa nomor 7. Hubungan terpenting adalah antara ibu dari pengantin laki-laki dengan turangna (mama pengantin laki-laki). Maka kita dapat hubungan antara ANAK DILAKI dengan ANAK DIBERU dari sebuah keluarga yang berasal dari SADA MBUYAK. Dalam hubungan ini, semua ANAK (terserah dilaki atau diberu) adalah SEMBUYAK, tapi satu diantara perempuan yang sedang erkerja dianggap sebagai BERU (tunas/ kecambah) yang membawa pertumbuhan baru untuk SEMBUYAK.

Organisasi sosial yang terbatas pada hubungan antara SEMBUYAK dengan ANAK BERU hanya kita dapati di BARUNG-BARUNG, bukan di KUTA yang mewajibkan kehadiran dari keempat SANGKEP NGGELUH. Lewat NANGKIH maka perempuan diintegrasikan ke dalam BARUNG pihak si laki-laki. Maka pekawinan NANGKIH adalah VIRILOCAL (tinggal di tempat laki-laki).

Pertanyaan, mengapa setelah erdemu bayu kedua pengantin ke tempat orangtua si laki-laki dan di sana diadakan acara AMAK DABUHEN? Pergerakan ini bukan mengeluarkan kedua pengantin dari KUTA si perempuan karena barung silaki-laki sudah dianggap berada di DALAM wilayah KUTA siperempuan. Itulah dia fungsi dari pelunasan ULU EMAS. Pihak pengantin perempuanlah yang keberatan bila tidak dilunasi ULU EMAS karena itu artinya, barung-barung pihak si laki-laki belum menjadi bagian dari KUTA pihak perempuan.

NANGKIH adalah perjabun VIRILOCAL dan ERDEMU BAYU adalah DOUBLE LOCALITY: uxorilocal + virilocal.
Hubungan dasar di Barung adalah TURANG, makanya nangkih si perempuan di bawa ke rumah bibi turang bapa.
Oleh karena itu, Karo mengenal 2 jenis tradisi: TRADISI BARUNG dan TRADISI RUMAH. Di masa pre kolonial ada 2 pengulu: Pengulu Silebe merdang (pengulu barung) dan Pengulu Kuta. Belanda hanya menetapkan Pengulu Kuta dan mengabaikan Pengulu Silebe Merdang yang mengurus pertanian dan Buahuta-uta (Keramat kuta).
MEJUAH-JUAH MAKESA. (Habis)

*Tulisan ini ditulis pertama sekali ditayangkankan di Facebook group Jamburta Merga Silima, 25 February 2017