Ada beberapa persepsi mengenai Deli serta hubungan Melayu dengan Karo di Deli yang sangat didasarkan pada mitos dan propaganda kolonial yang tidak pernah diuji keabsahannya secara ilmiah. Salah satu diantaranya adalah persepsi bahwa Karo pendatang di Deli dari Dataran Tinggi sehingga terasa logis bahwa Karo itu adalah memang betul Batak yang menyebar ke Dataran Rendah. Kalau memang itu benar, sejak kapan itu terjadi?

Ternyata belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan asumsi itu benar meski banyak sekali ilmuwan mengcopy-paste asumsi yang sama dan memperanak-pinakkannya dalam tulisan mereka sehingga generasi kemudian semakin mempercayai bahwa itu benar. Padahal, sampai sekarang belum ada bukti ilmiahnya. Awal dari persepsi seperti itu adalah dari kolonial yang berangkat dari pernyataan Sultan Deli kepada Jansen saat mereka membuka kebun tembakau di Labuhan (Kejuruan Deli – 1682). Kolonial punya kepentingan terhadap anggapan bahwa dari garis pesisir hingga garis horizon (Penatapen) adalah milik Sultan Deli. Dengan begitu mereka cukup membayar sewa tanah HANYA kepada Sultan Deli.

Atas dasar anggapan itulah Perang Sunggal pecah. Perang Sunggal itu bukan hanya perlawanan Datuk Sunggal terhadap Belanda, tapi perlawanan seluruh orang Karo terhadap kolonial dan Sultan Deli. Persoalan kemudian diselesaikan sementara dengan membayar sewa tanah 1/3 untuk sultan, 1/3 untuk raja urung dan 1/3 untuk pengulu. Namun, perang pecah kembali.




Pengakuan Sultan Deli yang kemudian diperkuat oleh kepentingan ekonomis kolonial, menjadi seolah kebenaran bagi generasi sekarang karena semua buku mengulangi pernyataan yang sama. Padahal, belum sekalipun ada bukti tentang penyebaran orang Karo dari Gunung ke Dataran Rendah (dan mengabaikan penyebaran dari Dataran Rendah ke Gunung). Semua ini langsung dipercayai karena berdasarkan GRAND THEORY penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat lain. Padahal, berdasarkan grand theory itu, seharusnya dari pantai ke gunung. Lagi-lagi, teori Siraja Batak juga yang dipakai.

Saya akan membuktikan di bagian berikutnya bagaimana orang-orang di Pantai Timur Sumatra menganggap, di jamannya, orang Melayulah pendatang dan orang Karo penduduk asli. Faktanya adalah dalam hubungan sosial dengan menggunakan pendekatan sosio-historis.

Bersambung ke Bagian 2