Oleh: ITA APULINA TARIGAN

 

Tiga hari lalu [Rabu 16/8], saya pergi ke sebuah retail yang khusus menjual buah dan sayur-sayuran di Tangerang. Retail ini biasa saya kunjungi karena buka sampai malam. Buat pekerja yang berangkat pagi pulang malam adanya retail ini cukup membantu.

Hari itu saya lihat ada raknya yang memamerkan Jeruk Medan, yang saya tahu pasti adalah Jeruk Karo.

Terkejut bukan kepalang harganya yang nyaris Rp. 50 ribu/ kg. Saya paksakan beli karena kepingin, walaupun ada rasa tidak rela dengan harganya yang 10 kali lipat lebih mahal jika dibanding dengan kampung halaman. Bahkan keponakan saya berkomentar begitu dia tahu harga jeruk yang saya beli: “Itu jeruk bapak di kampung, sekilonya hanya Rp. 2.500.”

Seorang teman yang lain yang sedang berlibur di Dataran Tinggi Karo juga berkomentar senada. Dari Medan dia menjenguk keluarga di Kuta Buluh. Sepanjang perjalanan dia singgah di berbagai tempat harga jeruk hanya Rp. 4.000/ kg. Seorang teman lain di Kabanjahe yang langsung membeli jeruk di pedagang, sejenis dengan jeruk yang saya beli, dia hanya perlu membayar Rp. 8.000/ kg.

Bahkan seorang Beru Sitepu yang tinggal di Bekasi, berkampung halaman di Beganding mengatakan: “Panteslah batang rimo bapakku ditebang semua…. Biar ga stress.” Barangkali ungkapan ini mewakili kebanyakan petani Jeruk Karo.

Hal-hal semacam ini dari tahun ke tahun terus berlangsung. Ketika hama lalat buah melanda Karo, harga jeruk juga tidak bagus. Saat ini, bisa dikatakan sentra jeruk banyak menderita karena erupsi Gunung Sinabung. Harganya tetap tidak menggembirakan. Secara logika, jika areal jeruk berkurang, tentu produksi menurun. Permintaan pasar tetap mestinya harga akan naik. Tetapi faktanya tidak demikian.

Komentar seorang Karo yang bergerak puluhan tahun di bidang retailer modern, yang jaringan distribusinya sudah nasional, ada beberapa kendala yang menyebabkan harga jeruk tidak bisa mencapai paling tidak setengahnya harga di pasar modern.

“Jeruk medan atau lebih tepatnya jeruk Karo, sekarang sangat tinggi harganya ditawarkan oleh pemasoknya. Bisa jadi karena pasokan kurang, biaya transport tinggi atau faktor lainnya,” demikian Zoilus Sitepu mengatakan.

Faktor transportasi adalah poin yang perlu diperhatikan, karena jeruk mudah rusak jika tidak dikirim dengan cepat dan cara packing yang benar. Retailer modern biasanya melakukan sortasi dan memilih kualitas terbagus untuk dijual. Pemasok berperan penting dalam sistem distribusi ini, karena mereka yang melakukan kerjasama dengan para retailer.

Lalu, apakah yang bisa dilakukan memutus rantai yang sudah berpuluh tahun tidak terpecahkan ini? Seperti umumnya manajemen petani di beberapa negara maju, salah satu opaya menegakkan kedaulatan petani adalah menyatukan kekuatan lewat koperasi. Tetapi, tentu saja tidak mungkin jika hanya swadaya petani sendiri harus ada campur tangan dari pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Pemda Karo.

Zoilus Sitepu menyarankan para petani jeruk di Tanah Karo agar membuat semacam wadah untuk seluruh petani jeruk bersatu. Kalau perlu minta dikuatkan ini dengan sokongan pemerintah daerah sebagai pembina. Agenda yang harus cepat dilakukan adalah: Menginventarisir lahan-lahan jeruk yang masih ada dan berapa kapasitas produksinya serta musim panennya.

“Membuat edukasi kepada petani dan pengusaha jeruk mengenai penanganan pasca panen, kebutuhan jeruk di luar Tanah Karo beserta spesifikasinya. Bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk penyediaan pupuk dan bibit berkualitas. Wadah ini juga bisa jemput bola dengan mendatangi perusahaan retail modern untuk bisa menjadi mitra bisnis yang profesional,” saran Zoilus sedikit berhati-hati khawatir dianggap menggurui.

Saya kira saran dari Zoilus Sitepu ini patut dipertimbangkan oleh petani jeruk dan pemerintah terutama.