Oleh: Emmy Flora Purba

 

Hari ini [Sabtu 2/9], saya memilih Kota Garut sebagai tempat tujuan wisata di long weekend ini. Sudah sejak lama saya penasaran dengan kawah Papandayan yang saya dengar dari cerita keluarga dan teman-teman yang sudah pernah ke sana.

Jalan menuju Gunung Papandayan sudah bagus karena sudah diaspal. Parkir berasa di kaki gunung untuk kendaraan bermotor roda 2 dan 4. Tapi saya belum puas sebelum mendekati kawah gunung ini.

Bersama seorang bibi, saya memutuskan menaiki gunung yang sudah terbelah dua karena meletus. Jalan menuju puncak sudah termasuk layak karena sudah dipersiapkan oleh pengelola. Pengelola Taman Wisata Alam ini adalah Putra Tanah Karo yaitu Pt. Putra Kaban SH. Beliau berasal dari Desa Pernantin (Kecamatan Juhar, Kabupaten Karo).

Saya tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan karena ciptaanNya yang begitu luar biasa. Bisa melihat isi perut Gunung Papandayan selama perjalanan saya menuju puncak. Material-material berupa batu-batu gunung, belerang kawah gunung, pasir-pasir gunung, dan air dari puncak gunung.

Menjelang puncak, bau belerang sudah sangat menyegat di hidung. Saya sempat mengabadikan beberapa kawah kecil yang diperbolehkan didekati pengunjung. Sedangkan kawah-kawah besar dilarang untuk didekati. Saya begitu kagum melihat kawah-kawah ini di jarak 3 meter dari tempat berdiri.

Ini pengalaman pertama saya mendaki gunung berapi dan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Selang 1 jam berjalan, kami tiba di Puncak 1 Gunung Papandayan. Nafas sudah terasa berat karena tepat di siang hari Pukul 13.00. Kami berhenti sejenak meminum kopi dan memakan cemilan di warung yang ada di puncak gunung.

Taman Wisata Alam Gunung Kawah Papandayan merupakan tujuan wisata yang tepat untuk masyarakat. Jika tidak sanggup menaiki gunung, kita bisa menikmati pemandangan alam di kaki gunung yang sangat indah. Tempat ini menyediakan pendopo untuk disewa dan bisa memasang tenda camping jika ingin menginap.