Oleh: Bastanta Permana Sembiring

 

“Njuk (unjuk = sebutan/sapaan (rurun = naman kecil, panggilan) untuk beru (disingkat: br.) atau wanita dari keluarga Ginting/ beru Ginting Munte) anakku,” sambil menangis.

“Apa nandé (ibu)?” jawab Sri Malem beru Ginting Munte (br/beru = wanita; menunjukkan (gender) perempuan/wanita).

“Apakah tidak ada lagi kata-kata bijak nandé ras bapandu (bapak) anakku, yang mengena di perukurendu (hati/pikiran) yang dapat meluluhkanya, anakku? Sekeras itukah hatindu, maka tidak kam (anda, kamu, engkau; honorifik prefiks) hiraukan lagi pemindon (pinta) nandé dan bibidu? Oh, anakku, buah baraku (jantung hatiku), keleng atéku (yang kusayangi)!” terseduh-seduh sembari menghusap air matanya.

“Maafkan anakndu (ndu/‘du = mu; anakdu : anakmu) ini nandé beru Tambar Malem (tambar malem = sebutan/ sapaan lazin untuk merga/beru Peranginangin). Bukan maksudku untuk nimbak (melawan, menentang) katandu, nandé. Tetapi, cintaku kepada Sembiring mergana yang sudah terlalu mendalam, nandé,” sambil menangis meneteskan air matanya dan memeluk ibunya semakin erat.

Sambungnya, “Kam sendiri pun tentu sudah mengetahuinya, bahwa kami saling mencintai dan itu terjalin sudah sejak lama. Maafkan aku, nandé.”

Njuk (unjuk)! Kam tidak boleh berkata demikian di hadapan nandé, bapa, dan turangndu (turang = persaudaraan lain jenis kelamin. Misal: pria – wanita; wanita – pria) begitupun bibi dan bengkiladu (bengkila = paman/ suami dari bibi – saudari dari ayah, ayah mertua, dsb) anakku. Mehangké bagé (mehangké = sungkan, tidaklah sopan, tidak pantas, dsb. bagé = seperti ini, bagini, demikian) kalau kam seorang singuda-nguda (anak gadis) berkata demikian, anakku.”

Bibinya menasehati Unjuk (Sri Malem beru Ginting Munte).





“Kalau kam ada maksud, kam kan bisa turiken (tuturkan, utarakan, sampaikan, sampaikan, katakan, ceritakan) kepada bibindu ini anakku, permain (anak dari saudara laki-laki/anak keluarga kalimbubu, menantu perempuan) kel bibina.”

“Aku tahu akan itu, bibi beru Ginting., jawab Malem.

Sambungnya, lagi katanya: “Tetapi, kam juga sudah ketahui yang terjadi, dan semua sudah kuutarakan kepada kalian sejak dahulu.”

“Dasar, anak durhaka! Tidak tahu balas budi!” hardik ayahnya.

“Buat malu saja!” sambil menarik Malem dari pelukan ibunya dan melayangkan tangannya menampar putrinya itu.

“Paaaar….” satu tamparan pun mendarat di pipi kanan Malem, membuat seisi ruangan itu terdiam. Hanya isak tangis dan rintihan kesakitan dari mulut Sri Malem beru Ginting Munte saja yang tersisa.

“Pokoknya saya tidak mau tahu! Kamu harus jauhi lelaki itu, atau….” ancam ayahnya,

“Suta! Bawa turangmu itu ke kamarnya dan kurung dia,” dengan emosi, Dharma Ginting Munte menyuruh puteranya Suta Ginting Munte mengurung adiknya itu di kamar.

Bersambung…