Kisah Bersambung: UNJUK (Bagian 2)

0
3

Bilang-bilang Até Ngena

Oleh: Bastanta P. Sembiring

 

Dari dalam kamar, di depan jendela, Sri Malem beru Ginting Munte menatapi langit yang tak berbintang, namun bulan bersinar dengan terangnya. Tangisnya meratapi nasibnya.

Oh, nandé. Oh, bapa. Apakah salah jikalau anakndu beru Ginting ini mencintai seorang pria yang bukan dari keluarga keturunan Sibayak (bangsawan Karo, kaum pendiri kampung, raja, si kaya). Salahkah aku mengutarakan cintaku? Salahkah aku ingin mengejar impianku untuk bersatu dengan cinta sejatiku?”

Sesekali terdengar isak tangis dan tarikan nafasnya yang berat. Air matanya tercurah membasahi sekucur wajah cantiknya.

“Oh, bulan! Katakanlah pada kekasihku, bahwa cintanya sedang bersedih dan setia menanti kehadirannya.

Oh angin yang berhembus, sampaikanlah salam rinduku kepadanya dan katakan: cintaku hanya untuk dia seorang,” terhenti sejenak dan menangis.

Itu berulang-ulang terdengar keluar dari mulut manisnya.

“Oh malam sunyi dan tak berbintang! Begiken min (dengarkanlah) keluh-kesahku. Janganlah biarkan ini menjadi malam yang terakhir bagiku.”

Sambil terus menangis meratapi nasibnya, karena esok hari akan datang tamu yang sedikitpun tidak ia harapkan kedatangannya.

Ayah Malem dan keluarga besarnya sudah merencanakan ingin menikahkan puterinya itu dengan beberénya (beberé = keponakan, anak/ putera turangnya) dan besok sore keluarga impalnya itu akan datang bersama sangkep geluhnya (sistem kekerabatan pada Suku Karo yang terdiri dari 4 komponen dasar (1. Sembuyak, 2. Kalimbubu, 3. Anakberu, dan 4. Senina) kerabat, keluarga /sanak saudara), untuk melamar Malem.

Sedikitpun Malem tidak menyukai perjodohan ini, karena dia sudah memiliki tambatan hati. Hingga sempat terlintas di benaknya untuk mengakhiri hidup malam itu juga.

Oh, Mama (panggilan untuk pria, b.d. dengan mama turang ibu (paman)) Biringku, beré kel Gintingna (beré/beberé = beru/merga dari ibu/ darah keturunan yang di bawa/ diwariskan oleh ibu), jadikel atéku (tambatan hatiku/ harapanku), dengarlah suara kekasihmu memanggilmu dan segeralah datang kepadaku dan bawaku pergi jauh ke tempat dimana tiada seorang pun yang akan mengusik cinta kita berdua,”




Sambungnya lagi, katanya, “Oh, bulan si ersinalsal (sinalsal = [pancaran-] terang, bersinar), masih adakah keberuntungan yang akan menghinggapiku dan cintaku? Yang akan membawakan mama Biringku ke hadapanku.” sambil menepuk-nepuk dadanya dan terus menangis.

Dari balik pintu, ibu tirinya Malem dan seninanya Keriahen (harafiah: senina = persaudaraan satu jenis kelamin. Misal: pria – pria, wanita – wanita) mendengar keluhnya dan turut bersedih serta prihatin melihat anaknya tersebut.

Tak henti Malem terus menangis dan melampiaskan keluh kesahnya meratapi cinta yang terhalang oleh setatus sosial itu.

“Masihkah ada harapan bagi cintaku akan bersatu? Masihkah?! Jikalau ia, reduplah sejenak sinarmu hai rembulan malam, pertanda cintaku tak’kan terpisahkan oleh apapun selamanya. Namun, jikalau tidak, biarlah sinarmu semakin malam – semakin terangnya. Setidaknya permakan (gembala) i mbal-mbal ( gurun, padang rumput, lapangan) simbelang (yang luas) berbahagia dan tak hentinya terjaga dengan nyanyian melantunkan syair-syair cinta di malam ini dengan pancaran sinarmu yang terang benderang.”

Air matanya semakin deras tak tertahan. Rintihan, isak tangisnya semakin keras.

“Oh, Mama Biringku. Datanglah kepadaku saat ini juga dan bawalah aku. Jikalau sampai terkuak manuk (ayam berkokok) engkau tak kunjung datang juga, maka, engkau tidak akan pernah bertemu dan melihatku lagi sampai selamanya.”

Gerelateerde afbeeldingApakah ini muzijat atau entahlah! Tiba-tiba malam menjadi sangat gelap, bulan seperti enggan memantulkan sinarnya lagi. Sepertinya sang rembulan malam juga ikut menangis meratapi kesedihan beru Ginting Munte. Sekejab senyum yang sudah lama hilang kembali terpancar dari wajah Sri Malem beru Ginting Munte.

“Oh, rembulan malam! Apakah ini pertanda masih ada harapan untuk cintaku? Apakah kekasihku akan datang menghampiriku?” Sambil menghapus air matanya yang sudah mulai mengering di pipi lembutnya.

Terdengar, “tok-tok-tok” dari balik pintu, dan suara memanggil berbisik, “Malem, Malem!”

“Apa, kam itu nandé?” tanya Malem.

Di saat bersamaan, Sangapta Sembiring mergana juga merasakan demikian seperti yang sedang dirasakan oleh kekasihnya Sri Malem beru Ginting Munte.

Di saponya (gubuknya), karena malam itu dia tidak berani lagi tidur di jambur. Hatinya juga sedang gundah bercampur bingung, tak tau harus berbuat apa.




La kutera ndubé
La kutera ndubé
Até ngena kenca jiné

Arih sipudun ndubé
Ibabo buluh ersurat
Bilang-bilang até ngena

La guna kepé kinibeluhen jiné
Erbahan surat, ngogé pustaka
Kinibeluhen kenca jiné

Buluh bilang-bilang
Ersurat até ngena
Lanaibo banci turah gia ni suan
Buluh ersurat …
Até ngena lalap la tembé.

Bersambung …

Sebelumnya (Bagian 1).