Kolom Juara R. Ginting: BUKU TENTANG KBB (Karo Bukan Batak)

0
6

Ada beberapa orang pernah saya baca komennya di facebook mengatakan belum ada satupun buku ditulis mengenai KBB (Karo Bukan Batak). Saat itu, saya diam saja meskipun saya tidak setuju pernyataannya itu. Soalnya, saya menulis artikel ini adalah berdasarkan semangat KBB (lihat di SINI). Begini soalnya ….

Kalau kita membuat tulisan/ buku bukan dalam konteks akademis, nilai ilmiahnya (menurut pandangan umum) tidak terlalu tinggi meskipun isinya bisa jadi sangat ilmiah. Di lain sisi, bila kita membahas KBB di dunia akademik/ kampus apalagi tingkat internasional, KBB itu bukanlah sebuah issue yang viral.

Nah, suatu kali, saya diundang oleh IIAS (International Institute of Asian Studies, Leiden) untuk mengikuti seminar mengenai Tribal Community in the Malay World di Universitas Singapore, saya langsung mencari sebuah thema yang kesimpulannya menyatakan bahwa Karo itu bukan Batak.




Itu terangkum dalam tulisan saya itu dan memang tujuannya ke arah sana.

Tapi, saya kan tidak bilang-bilang di seminar internasional itu thema tulisan saya mengenai KBB. Saya mencoba membahasnya dari sisi teoritik mengenai adanya hierarki dalam hubungan-hubungan sosial.

Misalnya, Karo dikatakan dilarang kawin semarga. Saya membantah pernyataan ini. Kalau kita lihat secara empirik, banyak kejadian kawin semarga di Karo. Jadi, di mana letak problematikanya? Makanya saya mulai di Introduction di aliania ke 2 mengatakan: This arguement can be traced back to Van Wouden’s study …… dan seterusnya di mana ditekankannya adanya perbeaan CONTEXTS AND LEVELS.

Misalnya KERJA ERDEMU BAYU, sekarang dianggap sebagai standard, padahal dulu, atas survey yang saya lakukan, hanya 1% dilakukan oleh orang Karo. Dengan erdemu bayu maka pasangan pengantin menjadi impalĀ (sepupu silang).

Setelah saya analisa dan bandingkan dengan Indonesia as a Field of Anthropological Study (melihat semua kasus perkawinan di Indonesia), maka saya sampai ke kesimpulan bahwa Erdemu Bayu itu adalah perkawinan antar teritorial, di mana bridegroom’s virilocal residence relates to bride’s uxorilocal residence as the part and a whole. Atas dasar itu saya analisa hubungan antara Sultan Deli dengan Datuk Sunggal sebagai RULER and REALM yang asalnya dari Stranger King (orang asing) dengan Authochtonous People (Pribumi).




Saya juga menganalisa konsep Kalak Timur yang merujuk kepada Kalak Tarigan di Dolok Silau dan Silima Kuta (keduanya Kabupaten Simalungun). Kemudian saya analisa konsep Batak dari dulu dan sekarang dengan mengidentifikasi perubahan-perubahannya.

Artikel ini sebenarnya saya dedikasikan kepada Perjuangan KBB (Kita tidak harus selalu mengucapkan KBB untuk memperjuangkan KBB).

Catatan: Saya diundang ke Singapore itu adalah atas hunjukan Universitas Muenster (Jerman) karena saya sebagai dosen tamu mengenai Etnografi Indonesia dan Antropologi Struktural di uniersitas itu. Selesai di Muenster saya menjadi dosen tamu untuk mata kuliah yang sama di Universitas Aarhus (Denmark).

Sesuatu yang menarik adalah kebetulan setelah tulisan ini terbit ada seseorang di facebook mendengungkan bahwa Tarigan artinya Tarikan dari Simalungun yang menjadi Karo. Untung saja saya sudah duluan menganali posisi Tarigan di artikel ini yang, sebelum ada klaim dari orang itu, saya sudah duluan menegaskan merga Tarigan adalah PERANCANG dari Karo yang merupakan masyarakat/ suku berdiri sendiri (Bukan bagian Batak)..

Koreksi, kritik dan makian akan ditampung dengan senang hati atas tulisan ini.