KETIKA PULANG KAMPUNG

0
5

Oleh: ITA APULINA TARIGANĀ 

 

Menjadi manusia Karo di jaman millennial ini kadang menyusahkan. Kehidupan orang-orang Karo sudah sesuai dengan tatanan hidup global, melek teknologi, melek pengetahuan, melek pergaulan bahkan sudah ada yang menjadi anak segala bangsa. Sulitnya adalah ketika rasa Ke – Karo – an memanggil dari lubuk hati terdalam.

Menggaruk-garuk perasaan, lalu otak berhitung dan mendesak untuk pulang kampung. Rindu kampung, rindu rumah, rindu suasana di tengah keluarga.

Sudah tahu akan melihat kota kabupaten yang kumuh tidak teratur, masih rindu juga. Sudah tahu akan melihat Gunung Sinabung yang dramatis menakutkan, masih berangkat juga. Sudah tahu akan melihat rumah dan ladang hanya berselimut debu, tetap dilihat juga.

Berziarah ke makam keluarga yang sudah sekian lama pergi, seolah mereka masih ada. Berbekal bunga dan rokok, terkenang dan berbicara pada mereka dalam renungan. Demikian berulang-ulang, seperti Sisipus yang mendorong batu ke atas gunung.

Jujur saja, perasaan tenteram seolah sudah mendapatkan kembali suasana rumah yang lama hilang. Pulang terasa hingga ke dalam sanubari, seolah mereka yang mati memberkati langkah anak-anak yang masih berjalan di atas rel waktu mereka yang masih tersisa.








SHARE
Previous articleITULAH POLA PIKIR KOLONIALIS (Pakpak Bukan Batak)
Mejuah-juah! Hello! My name is Ita Apulina. Writing, traveling, meeting people are my passion. This simple blog is where I share all sorts of stories, opinions, experiences, photos from my activity of my passion. I hope this blog inspires you to do the same!