Berlari Diantara Masa Lalu dan Masa Depan

Oleh: Bastanta P. Sembiring

 

Tiba-tiba terdengar, “tok-tok-tok” dari balik pintu, dan suara memanggil berbisik, “Malem, Malem!” katanya.

“Apa, kam itu nandé?” tanya Malem.

Aku ngénda, permén!” jawab Suang, berbisik.

“Ayo lekas kita pergi, jangan membuang-buang waktu. Sangapta sudah menantindu di tapin Lau Macem. Ayo!”

Berjalan mengendap-endap sekitar beberapa jauh dari kediamannya dan Malem pun naik ke atas kuda dan bersama Suang dia menuju tempat dimana Sangapta sudah menanti mereka.

Sebelumnya ….

*****

Juak-juak (pelayan) wanita yang tadinya tinggal di dalam rumah membukakan jendela dan Malem pun perlahan keluar dari jendela agar jangan ada yang curiga. Dengan perlahan dia turun dari jendela, membiarkannya tetap terbuka, dan menggantungkan sehelai uis nipes (kain khas tradisional Karo yang biasa dipakai oleh kaum wanita) milik Malem di jendela, agar kejadian ini seakan-akan tidak terencana dan orang-orang akan menganggap Malem kabur sendiri dari jendela.




Sampai di luar, juak-juak wanita itu langsung masuk kembali; tidak ada yang melihat, dan dia lekas mengganti pakaiannya dan kembali tidur agar jangan ada yang curiga.

*****

Bapa Sutta. Apa anakndu Sri Malem sudah makan?” tanya istrinya, memancing suaminya untuk melihat keadaan Malem. Seakan-akan dalam pelarian Malem tidak ada orang dalam yang membantu, berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi.

“Apa sedikitpun kam tidak peduli lagi dengan putrindu itu?”

Bapa Sutta (Dharma Ginting) hanya terdiam dan berjalan menuju kamar dimana dia mengurung putrinya.

Sampai di depan pintu kamar, Dharma Ginting memanggil dan menyuruh juak-juaknya yang berjaga untuk membukakan pintu. Saat pintu dibuka, alangkah terkejutnya ia ketika melihat ranjang yang kosong, jendela terbuka lebar, dan sebuah uis nipes tersangkut di kusen jendela kamar itu. Dengan spontan ia berlari ke arah jendela dan berteriak memanggil para juak-juaknya.




“Kalian semua disuruh menjaga satu orang saja tidak becus!” Dharma tampak sangat marah.

“Sekarang, cari ke sekeliling rumah, kesain (halaman, komplek, dusun, distrik) dan seluruh kuta (perkampungan tradisionil Karo, desa, permukiman), sebagian ikut denganku ke rumah pemuda sialan itu!”

Dengan kesal dan dilingkupi amarah yang membara ia bersama Sutta puteranya dan beberapa juak-juaknya lekas menuju rumah keluarga Sangapta tinggal.

Saat dicari di sekeliling, tidak ada tanda-tanda Malem, karena memang dia sudah dibawa Suang untuk menemui Sangapta.

Setelah sampai dan bertemu dengan Sangata, Suang langsung pergi meninggalkan Malem dan Sangapta agar jangan ada yang melihatnya, namun dia tidak lantas pulang ke rumah tuannya Dharma Ginting, tetapi, atas perintah ibu tiri Malem ia tetap mengawasi dari jarak yang jauh.

*****

 

DI DEPAN RUMAH kediaman keluarga Sangapta.

“Oi, Sangap!” teriak Dharma Ginting keras dan berulang-ulang.

Sepasang orangtua keluar dari dalam rumah.

“Apa gerangan yang membuat Anda datang kemari dan berteriak, Ginting Mergana?” tanya bapa Sangap dengan nada lembut.

“Aku tahu, pastilah anakmu si Sangapta itu yang membawa lari putriku!” Katanya dengan nada penuh emosi. Lanjut, lagi katanya, “Jadi, tidak usah kamu menyembunyikannya. Aku hanya ingin putriku kembali! Tapi, jika kamu menghalang-halangi, maka aku akan mengejar anakmu ke manapun dan kujamin kamu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.”

“Tidaklah ada maksud kami untuk menyembunyikannya, Ginting Mergana!” jawab bapa Sangap.

“Heh, Sudah! Kamu tidak usah banyak omong!” Sela Dharma Ginting, memotong perkataan bapa Sangapta.

“Geledah rumahnya!”




Dan para juak-juak Dharma pun menggeledah rumah kediaman keluarga Sangap, namun tidak menemukannya.

“Sekali lagi aku bertanya kepadamu! Di mana engkau sembunyikan anakmu dan putriku?” tanya Dharma dengan nada kasar dan penuh kemarahan.

“Bukankah tadi sudah saya katakan, Ginting Mergana, kalau tiada maksud kami menyembunyikannya,” jawab ayah Sangap dengan tenang.

“Sangap putera kami setelah selesai makan malam tadi langsung pergi ke jambur (lumbung padi, aula Kuta: biasa dipergunakan sebagai tempat pertemuan, belajar, dan tempat pemuda – pemudi bertemu, dan sebagai tempat para pemuda dan tamu tidur, dsb) berkumpul dengan teman-temannya seperti biasa dan hingga saat ini kami belum ada bertemu dengannya.”

Tanpa sepatah katapun, Dharma Ginting berpaling dari hadapan ayah Sangapta dan pergi meninggalkan tempat itu menuju jambur.

Di jambur pun mereka tidak juga menemukan Sangapta, dan tidak seorangpun teman-teman Sangapta yang tahu keberadaan dan apa yang sedang dilakukannya.

Memang pelarian Sangapta dan Malem ini sangat tiba-tiba, sehingga tidak ada yang tahu akan hal ini selain yang terlibat langsung membantu pelarian mereka.

Tidak bosan-bosannya Dharma Ginting mencari keberadaan Sangapta dan Malem putrinya, menyisir setiap sudut seluruh kuta. Tempat-tempat biasa Sangapta atau pun Malem datangi juga ikut digeledah, namun hasilnya nihil.

Sementara itu. Sangap dan Malem terus berjalan menyusuri aliran sungai tanpa tujuan yang jelas.

“Oh, kaka (kakak, panggilan untuk pria, dsb)! Kemanakah kita akan pergi sekarang?” tanya Malem yang dari tadi hanya berjalan dan diam membisu. Sepertinya dia juga kebingungan harus kemana.

“Aku juga tidak tahu agi (adik, adinda)” jawab Sangap datar. Sambungnya “tetapi, biasanya kalau sepasang pemuda/i yang lari untuk menyatukan diri (nangkih (Jahé/Dusun/ Karo Hilir: lompat); kawin lari (?)), biasanya mereka akan ke rumah anakberunya (kelompok penerima dara, salah satu dari 4 tegun (kelompok) dalam sistem sosial Suku Karo). Tetapi, aku takut ayahmu akan menyusul kita ke sana nantinya, dan aku yakin itu!”

“Aku letih kaka,” dari tadi berjalan tentu membuat Malem letih

“Bagaimana kalau kita istirahat sejenak?” sambungnya dengan bertanya.

“Iya. Aku juga demikian, agi.” Jawab Sangapta datar, lalu menarik napas panjang.

Sepasang anak manusia itu pun duduk di bawah pohon besar di pinggir lau ([aliran-] air, sungai, dsb), melepas penat setelah berjam-jam terus berjalan tanpa tujuan yang jelas. Mereka saling bertatapan dan membisu di bawah terpaan cahaya rembulan.

Kaka! Jadi bagaimana?” tanya Malem, sedikit mendesak.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Jahé? Aku pernah mendengar banyak kaumku dari merga Meliala bermukim di negeri Deli hingga ke Langkat. Mungkin di sana kita akan aman,” jawab Sangap.

“Terserah kam,” jawab Malem pasrah. Sepenuhnya percaya dan menyerahkan keputusan kepada kekasihnya.

Saat mereka isirahat, tak terasa malam semakin dalam dan menuju ke paginya. Di sisi lain Dharma Ginting dan juak-juaknya terus bergerak mencari keberadaan mereka dengan gerak cepat. Semua juak-juak dan beberapa anakperana (pemuda) kuta dikerahkan. Tanpa mereka sadari para pengejar sudah semakin dekat. Terdengar suara deru langkah dan cahaya dari obor yang berjalan berarakan seperti gerombolan kunang-kunang di kegelapan malam.

“Itu mereka!” terdengar suara teriakan

“Ayo, kejar!”

Terkejut, Sangap dan Malem spontan berlari dengan kencangnya. Seperti mereka lupa akan keletihan mereka, terus dan terus berlari, hanya itu yang mereka tahu.

Tiba-tiba Malem terjatuh karena tersandung akar kayu yang menjalar di tanah. Saat diperiksaa oleh Sangapta, ternyata kaki Malem terluka. Jangankan untuk berlari, berjalan saja susah. Sakit ditambah letih yang belum hilang, membuat kaki Malem seperti membatu.

Sadar pengejar semakin mendekat – serta keadaan kaki Malem yang terluka, Sangapta pun menggendong Malem dan berlari sekuat tenaganya. Namun, tiba-tiba di depannya Dharma dan beberapa juak-juaknya yang berkuda sudah menghadang langkahya.

“Mau lari kemana lagi kamu!” hardik Dharma, dan sepontan para juak-juaknya menyergap Sangapta.

Membabibuta tanpa rasa belas kasihan, Sangapta terus dihajar oleh para juak-juak Dharma Ginting. Dia hanya bisa pasrah tidak berdaya melawan sedikitpun. Mereka terus memukulinya hingga Sangapta terkulai lemas dan rebah ke tanah. Sekujur tubuhnya terluka. Darah mengalir.

Tak seberapa jauh dari tempat itu, Suang mengintip dari tempat yang tak terlihat. Merasa prihatin, namun takut ketahuan. Dia bingung harus berbuat apa. Sementara itu Malem hanya menangis meminta kepada ayahnya agar berhenti menyiksa Sangapta, namun sedikitpun Dharma tidak menghiraukan pinta putrinya itu.




Melihat keadaan ini, hati Suang tidak tahan hanya berdiam diri menyaksikan penganiyayaan itu. Dia memasang cadarnya, melompat naik ke atas kuda dan melaju kudanya berlari kencang ke kerumunan orang itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dari atas kudanya yang berlari kencang itu ia menyambar tubuh Sangapta dan membawanya pergi dan menghilang di gelapnya malam.

Dharma dan orang-orangnya seperti merasa disambar petir, tidak merasa puas, mereka pun mengejarnya, membuat Suang menjadi panik dan takut kalau Dharma sampai menangkap ataupun mengenalinya.

Pria bertubuh kecil dengan kaki pincang itu pun terus memacu kudanya untuk berlari lebih kencang lagi, mengarahkannya ke semak dan gelap hutan. Dia mengatur jarak agar para pengejar tidak dapat melihatnya. Di semak-semak yang rimbun dia turun dari kudannya dan menuntunnya bersembunyi.

Dharma dan para juak-juaknya semakin dekat, namun mereka seperti kehilangan jejak.

“Berpencar dan cari ke semak-semak, mereka pasti bersembunyi. Sutta, kamu dan beberapa lainnya terus mengejar dan jika kalian melihat jejaknya cepat kabari kepada kami.” Perintah Dharma Ginting.

“Iya, Bapa!” Jawab Sutta dan melaju kudanya.

Kini posisi mereka sudah sangat berdekatan. Hal ini membuat Suang menjadi takut dan panik, dan bingung harus bagaimana. Dia terus memikirkan cara untuk dapat lepas dari pengejaran itu. Tiba-tiba dia merasakan sayatan rih (ilalang) di bagian tangannya.

“Oh! Rih kapken énda,” katanya, dan mencabut sehelai rih itu lalu dia membacainya dengan tabas-tabas (mantra, jampi-jampi):

“Hong kalasa, kalasa hong
Hong kalasi, kalasi hong
Mari-mari kam nini jinujung
Ras karina juak-juakndu pepulung …
[…]”

dan menusukkan sehelai rih itu ke tanah.

Tiba-tiba rih itu seperti bertumbuh, tingginya hingga mencapai empat meter dan tumbuh sangat rapat serta lebat membentang ke suatu arah membentuk sebuah lorong. Juga, rih itu seperti kaca yang memantulkan sinar bulan yang kala itu sangat terang. Bunganya yang putih serta halus seperti kapas berterbangan dihembus angin malam, membuat setiap orang di sekitarnya merasa silau dan terganggulah pengelihatannya.

Kesilauan itu membuat Dharma Ginting dan para juak-juaknya tidak sanggup untuk membuka matanya, karena jika mereka membuka mata, maka kesilauan itu seakan menusuk-nusuk dan membakar bola mata mereka, serta bungan rih yang halus seperti menyayat-nyayat bola mata. Mereka semua membaringkan diri ke tanah dan menutup mata mereka.

Sementara itu, Suang pun kembali menunggang kudanya ke suatu arah diantara rih-rih yang tumbuh itu.

Merasa sekeliling sudah aman Suang mencabut salah satu dari sekian banyak rih itu dan sekejap semua rih-rih yang tumbuh seperti hangus menjadi debu dan silaunya juga sirna.

Suang menurunkan Sangap dari kudannya dan memapahnya ke dalam sebuh sapo (gubuk) di teruh (bawah, kaki) uruk (bukit), serta membaringkannya di sapo itu.




“Sangapta, anakku,” panggilnya.

Kam itu bapa?” tanya Sangap merintih dengan menahan sakit yang bukan main.

Suang hanya diam dan membasuh luka Sangapta hingga bersih dan mengolesinya dengan tawar (ramuan obat).

Bujur (terimakasih, kalak bujur: orang baik) bapa, kam sudah menyelamatkan nyawaku” kata Sangapta berterimakasih karena telah di selamatkan oleh Suang.

Suang hanya terdiam dan mengambil sehelai belo (sirih) dari dalam sumpit tempat kampilnya (menyerupai tas atau kantongan yang biasanya terbuat dari cikai (teki, papilius)) dan mengoleskannya ke seluruh bagian tubuh Sangap sembari membaca tabas, agar saat dia meninggalkannya nanti tidak ada yang dapat melihatnya dan mengganggunya baik manusia, roh, maupun binatang buas di hutan.

Dan setelah itu, Suang pun pergi meninggalkan Sangapta sendiri di sapo tersebut.

Bersambung…

Sebelumnya: Bagian 1 | Bagian 2 (Bilang-Bilang Até Ngena)