Malapetaka Yang Meyatukan Cinta

Oleh: Bastanta P. Sembiring

“Dasar anak tak tahu diri!” Dharma membentak putrinya Malem. Kata kasar yang sebelumnya belum pernah terucap dari mulutnya kini setidaknya sudah dua kali terhembus di hadapan putrinya itu.

“Sudah kubilang, jangan lagi temui pemuda itu! Kamu malah mau lari dengannya. Buat malu keluarga saja.”

Dharma tak henti terus-menerus mengomeli putrinya itu, namun, Malem tidak pedulikannya.

Bapa! Aku tidak mau dijodohkan dengan yang lain, aku hanya mencintainya,” jawab Malem tegas.

“Lantang kamu!” hentak Dharma sambil kembali melayangkan tamparan ke arah pipi Malem, “parrrr…!“.




 

Entah bégu (hantu) apa yang sedang merasuki Dharma Ginting hingga amarahnya begitu membara. Sedikit pun tidak lagi tampak dalam dirinya akan sikap dan sifatnya selama ini yang begitu lembut terhadap anak-anknya.

“Awas! Kalau kamu masih mencoba melarikan diri, aku menjamin kamu tidak akan menjadi putriku lagi, dan aku juga menjamin kalau si pemuda sialan itu akan mati di tanganku. Camkan itu!” ancamnya.

Malem hanya terdiam dan mengacuhkan ancaman ayahnya itu. Dalam hatinya hanya memikirkan cara untuk dapat bersatu dengan kekasih hatinya.

*****

Beberapa hari kemudian setelah lewat malam itu, kondisi Sangap sudah mulai membaik dan dengan perlahan dia berjalan sendiri menuju kuta.

Sesampainya di kediaman keluarganya.

“Sangap, anakku! Mengapa demikian terjadi padandu anakku?” tanya ibunya, meratapi keadaan putranaya yang seluruh wajahnya dipenuhi luka memar.

Kata ibunya lagi, “Kan sudah bapa dan nandéndu katakan untuk menjauhi wanita itu. Orangtuanya pasti tidak akan merestui, karena kita ini kalak mesera (orang susah, orang miskin). Tetapi mengapa kam nekat juga dan membawanya lari?”




Sangap hanya membisu dan sesekali menarik nafas panjangnya sambil menahan rasa sakit akibat luka di sekucur tubuhnya yang belum sepenuhnya sembuh.

Malam pun berlalu, terkuak manuk (ayam berkokok), pertanda akan segera datangnya sang surya yang senantiasa menyinari bumi. Namun hal itu sama saja bagi sepasang kekasih yang tidak dapat bersatu karena perbedaan setatus sosial itu. Saat yang lainnya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, Sangap dan Malem hanya murung meratapi nasib cinta mereka.

Malem: “Oh, mama Biringku, morahkel atéku! Tiada arti lagi aku berkata-kata kepadamu, karena aku yakin engkau sudah tahu persis isi hatiku. Namun, benarkah ini sudah berlalu? Akankah ini akhir dari kisah cinta kita? Cintaku hanyalah unukmu!

Bagaimana lagi aku harus perbuat, cintaku padamu tiada batas dan tiada akhir, walaupun maut harus memisahkan jiwa kita, tetapi hatiku tetaplah unukmu. Cintaku hanyalah untukmu!”

Sangap: “Oh, Nandé Gintingku jadi kel atéku... aku sangat mengerti hatimu, seperti engkau juga mengerti akan isi haiku. Namun, aku selalu berfikir, tidaklah cintaku seperti mengejar batu simegulang (batu yang menggelindingan di jurang yang terjal), jika ku kejar tak jua akan kuraih, malahan maut yang menghampiriku. Namun jikalau aku terpaku, diam, sirnahlah dari pandanganku. Tapi, walau demikianpun beratnya, aku akan terus mengejar dan memperjuangkan cintaku walau ini tampak mustahil. Cintaku juga hanya untukmu!”




Malem: “Oh, deleng (gunug) simeganjang (menjulang tinggi), yang berdiri kokoh, yang memberikan sumber mata air, belerang, serta kesuburan dan keindahan bagi orang-orang sekitarmu, aku mohon tunjukkan kebesaranmu dan satukan cintaku seperti engkau menyatukan kuta-kuta di sekitarmu. Aku mengharapkan cintaku akan datang menghampiriku saat ini juga. Tetapi…. tidaklah boleh aku se-egois itu, yang membawa serta maut. Datanglah padaku walau dalam lamunan dan mimpi indahku o, mama Biringku atéku jadi. Cintaku selamanya hanya untukmu!”

Sangap: “Cintaku juga untukmu o, kekasihku! Walau jiwa dan ragaku akan melayang, itu harga yang pantas untuk sebuah cinta. Penyesalan tidak akan pernah menghinggapiku, walau jiwa dan ragaku musnah dari muka bumi, walau seketika malaikat maut datang menjemputku, karna cintaku hanyalah untukmu selamanya! Cintaku hanyalah untukmu!”

Malem: “ Oh, Dibata Simada Kuasa! (Tuhan Yang Maha Kuasa) Engkau menciptakan manusia untuk saling mencinta. Namun, sekarang aku dan kekasihku telah menjalani hakekatku saling mencinta, tetapi mengapa Engkau tak jua memberi kesempatan kami untuk bersatu sampai selamanya? Cintaku! Cintaku! Hanyalah untuknya, dan tidak akan pernah berubah mesti maut datang menghadang, bahkan Engkau sekali pun!”

Sangap : “Akupun demikian ….”

Malem: “Jikalau memang tiada jodoh lagi diantara kita. Aku berkata! Ini juga berlaku untuk semua kaumku. O, singuda-nguda (gadis) beru Ginting. Aku berkata kepadamu sekalian: Jikalau cintaku tak jua bersatu, maka cintamu juga demikian oh, seninaku, sembuyakku (mbuyak: rahim, perut) sekalian… malanglah jua nasibmu.”

Tiba-tiba langit gelap, bumi bergoncang, semburan debu vulkanik yang tebal melingkupi desa itu, hingga hujan debu dimana-mana. Lahar panas dari kawah gunung berapi menyembur menghinggapi desa dan membakar apa saja yang terkena oleh lahar panasnya, hal itu berlangsung hingga lebih kurang lima menit lamanya dan setelah itu berhenti.

Sangap: “Janganlah pernah engkau mengutuk hai, kekasihku, cintaku, juga sayangku! Cinta kita adalah amanat bagi kita dan bukan derita bagi yang lain. Inilah jalan cinta kita; pembuktian tulus dan murninya cinta kita, walau harus menderita janganlah engkau sesali, sebab jalan menuju cinta mungkin memang harus begini.”

Malem: “Aku tak sanggup harus terus begini. Mungkin, inilah saatnya untuk kita akhiri…. hai engkau kaumku, jikalau hari ini tiada muzijat maka inilah akhir bagimu jua. Dan ini berlaku hingga keturunan dari kaummu, sampai paradigma generasi baru mengubah dan mengisi kehidupan ini dengan cinta. Dan selanjutnya, tunas-tunas baru (beru) dari kaummu akan mengatur hidupmu, dan berkuasa atasmu, hingga kau harus takluk dan tidak ada lagi kaumku yang serupa denganku selamanya.”




Bumi kembali gelap dan berguncang semakin dasyatnya. Semburan lahar panas menghancurkan seluruh desa di sekeliling. Bebatuan seperti bola api berterbangan dan jatuh menghancurkan semua yang tertimpa olehnya. Asap tebal mengepul dan terhembus menjulang ke langit tinggi. Gelap gulita melingkupi.

Hutan-hutan hangus terbakar. Tanah terbelah membentuk sungai-sungai baru yang dialiri belerang panas berapi-api. Debu vulkanik menghinggapi lagit, asap yang tebal membuat setiap yang menghirupnya mati keracunan, uadara panas; mengakibatkan para penduduk harus mengungsi ke tempat yang jauh.

Dan kisah cinta dua anak manusia pun berakhir sampai di sini.

 

Sebelumnya: Bagian 1 |  Bagian 2 (Bilang-Bilang Até Ngena)  |  Bagian 3 (Berlari Diantara Masa Lalu dan Masa Depan).