Oleh: Sria van Munster

 

Aku baru saja ingin merebahkan tubuhnya yang amat penat setelah bekerja sepanjang malam.

Malam ini terasa lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Udara amat dingin – 8 derajat Celcius dan kostumku malam ini yang menuntut beberapa sessi dan posisi terasa menguras habis sisa-sisa energi.

Bunyi smartphone walau dengan volume rendah yang telah berkali-kali sejak aku tiba di rumah, nyatanya bisa memaksaku untuk meliriknya dan membaca sejumlah berita yang disodorkan melalui alat yang satu ini.

Aku sengaja hanya menyambung Wifi di rumah, sehingga aku tidak selalu diganggu. 24 jam online, membuat duniaku semakin suram rasanya.

Seteguk port, minuman manis dengan 20% alkohol, kuteguk pelan-pelan dan berharap akan menghangatkan tubuhku malam ini.

“Morning, girl. Apa kabarmu di sana,” WA dari teman lamaku.

“Kak cantik sayang, parah nih, nggak bawa helm kemarin mau beli bakso di Warung Bu Cik..” sms salah satu adikku yang laki-laki.

“Sayang, mama mau ke rumah Noni dan dia butuh bantuan, pesan apa?” WA dari mama.

Noni adalah kakak perempuanku.




“Hey, cantiiik. Apa khabarmu? Lama tak bersua. Enak ya tinggal di Belanda,” WA mantan pacarku, tepatnya aku pernah diam-diam jatuh cinta kepadanya.

Demikianlah segelintir sapaan yang aku terima dari keluargaku dari Indonesia. Inilah cara manis mereka mengulurkan tangan meminta. Ini berarti sebagian besar jerih payahku bulan ini harus aku sisihkan. Karena mama akan dan telah mengutang ke tetangga, teman, atau siapa saja buat beli sejumlah kado atau beri bantuan ke Noni, kakakku. Atau sejumlah utang piutang lainnya. Terutama Mama yang dulu, sejak lahirnya memang tak pernah bekerja dan tak tahu apa artinya bekerja keras, karena lahir dan dibesarkan di lingkungan orang berada. Walau nasibnya kurang beruntung terutama setelah kepergain papa, cara hidupnya tetaplah tak jauh beda.

Malam yang dingin ini terasa makin dingin. Dengan pelan-pelan aku bangkit kembali dari ranjang, agar Jansen partnerku tidak terganggu tidurnya. Kulangkahkan kakiku menuju dapur… dan menuang kembali segelas Port.

Tanpa terasa setitik air mataku jatuh. Sesungguhnya aku punya beban jiwa yang amat berat, sebuah peristiwa yang tak akan pernah aku ceritakan kepada siapapun juga.

* * * *

Ketika itu, aku baru saja pulang dari sekolah. Aku masih duduk di kelas 2 SMA. Aku tidak menemukan siapapun di rumah. Biasanya kami akan hadir di rumah pada saat yang hampir bersamaan, walau aku yang selalu datang belakangan, karena sekolahku letaknya lebih jauh dari sekolah adik-adikku. Kakaku Noni telah pergi ke kota lain untuk melanjutkan studinya.




“Boru Regar… Boru Regar kesayangan, jangan terkejut, ya. Tak ada orang di rumah, dan tulang mau menjemputmu. Papa ada di rumah sakit. Dia belum sadarkan diri. Makanlah makan ini secepatnya dan ganti baju seragammu!” seru tulangku bertubi-tubi sambil menyodorkan bungkusan makanan.

“Tidak tulang, ku tidak usah makan, dan ganti pakaian. Aku mau melihat papa secepatnya,” jawabku sambil menangis. Sekenario menakutkan hadir di benakku, bagaimana kalau papa tiba-tiba.

“Makan kataku makan! Jangan melawan!” Bentak tulangku geram.

Aku terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba bengis. Tulangku yang selama ini amat sayang padaku. Dengan gemetar karena takut dan akan kehilangan papa, dan juga kemarahan tulang, aku coba menelan 3-4 suap nasi rames yang ditawarkannya.

“Sekarang ganti bajumu secepatnya!” jangan buang-buang waktu serunya dan menyeretku dengan paksa menuju kamar tidur.

Secepat kilat membuka paksa baju seragamku dan mengempasku ke ranjang. Aku berusaha melepaskan diri sekuat tenagaku, meronta dan mejerit. Tetapi tubuh Bagas yang termasuk tinggi, besar dan padat menimpaku dengan kuat hingga aku benar-benar sesak hampir tak bisa bernafas.

“Oooh.. kesayangan.. moment ini telah lama kutunggu… Setiap malam aku hanya bisa membayangkan moment ini terwujud… ooo… aaaah… Bibirmu yang memerah dan kenyal… aaah.. buah dadamu… aaaah…” desah Bagas sambil menggerayangi seluruh tubuhku.

Aku menjerit, ketakutan, kesakitan dan meronta-ronta berusaha melepaskan tubukuhku dari cengkeraman Bagas. Satu tangannya mecekal leherku, dan satu lagi tanganya menggerayangi tubuhku.

Dalam sekejap aku kehilangan hartaku yang paling berharga bagi semua wanita dan yang merampasnya adalah pamanku sendiri.

“Ayo cepat kenakan bajumu, sisir rambutmu!” bentak Bagas.

“Ingat, bukan saya yang melakukan ini. Awas kalau ada orang yang tahu,” ancamnya.

Bagi Bagas, hidup berlangsung dengan indahnya, yang dia inginkan telah tercapai. Tetapi bagiku?

Rahasia tentang yang menimpa diriku harus kusimpan sendiri. Beberapa kali Bagas mencoba mengulang perbuatannya, tetapi aku bisa menghindar. Sejak kejadian itu, sungguhnya aku merasa jijik dengan tubuhku, dengan diriku sendiri

Lepas dari SMA, kuputuskan untuk mengambil pendidikan Jurusan Perhotelan dan Pariwisata. Dengan harapan bahwa aku ada kesempatan untuk berpetualang ke negri jauh. Jika Tuhan mengizinkan menikah dengan laki-laki bermata biru, atau setidaknya dengan kultur yag tidak mengutamakan keadaanku. Dan aku berharap bahwa aku kelak bisa bekerja jauh dari keluargaku.

Sesungguhnya mamaku tidak setuju.

“Perhotelan dan Pariwisata?” tak adakah yang lebih rendah dari itu reaksi mama sinis.

“Aku tidak melihat nilai negatifnya, Ma,” jawabku kalem.

“Pokoknya saya tidak setuju,” jawab Mama.

“Kayaknya Vero cocok bekerja di bidang itu, Ma,” bela kakakku beberapa hari kemudian.

Entah apa yang mengubah pikiran Mama setelah berbincang dengan Kakakku.

“Baguslah, jika kamu berkeras dengan pikiranmu. Mama akan memberi biaya kuliahmu hanya untuk satu tahun. Selebihnya kamu usahakan sendiri, buktikan kalau kamu bisa tanpa bantuan siapun juga.”

Dengan usaha kerja keras akhirnya aku meyelesaikan kuliahku dengan baik. Dengan bahasa Inggrisku yang cukup lumayan, aku bisa memberi les Bahasa inggris private di beberap tempat.

Dengan diploma Perhotelan aku mencoba mengadu nasib ke kota lain, dan aku langsung diterima bekerja di salah satu hotel sebagai resepsi. Di sanalah aku bertemu dengan Theo dari negeri Tulip, yang sering mereka sendiri sebut negerinya, Kikkerland, atau Ngeri kodok, karena banyak air dan tentunya banyak kodok.

Theo adalah salah satu pelanggan hotel tempatku bekerja. Pelanggan yang ramah. Sebagai petugas hotel, tentunya aku juga memberi pelayanan maksimal kepada setiap yang menginap. Tetapi lambat laun, kami sering bertemu di luar hotel, jika aku out off duty.

Singkat cerita, kami akhirnya menikah. Sungguh aku amat happy. Bukan karena aku memang sudah amat suka pada Theo, tetapi terutama karena lukaku. Aku akan meninggalkan masa laluku yang getir dan pahit, walau tak akan pernah hilang dari hidupku, dari ingatanku. Aku terlepas dari masa hitamku, atau setidaknya hatiku terobati.




Pekerjaan Theo sebagai photografer lepas membuat dia sering tidak ada di rumah. Sebagai photografer dan pembuat video lepas, dia mesti menerima semua pesanan pelanggan tanpa seleksi, termasuk merekam film lady escort.

Tahun ke tiga pernikahan kami, Theo iseng-iseng menginginkanku sebagai aktrisnya membuat film lady escort sendiri. Biaya tentu tidak akan terlalu mahal, karena aku istrinya. Jika menguntungkan hasilnya juga buat kami nikmati berdua tentunya.

Pembuatan film kami buat selangkah demi selangkah, sambil kupelajari bagaimana menjadi seorang lady escort. Dari cara meraba tubuh dan bagian sensitif, hingga menjadi penari erotic, dan penari tiang. Tanpa kuharap, nyatanya aku tak punya kesulitan, dan tak kusangka menjadi penari erotic, dan penari tiang menjadi salah satu keahlianku.

Film escort karya Theo mendapat tawaran yang baik, walaupun kami tidak kaya karenanya. Tetapi seiring itu, aku juga mendapat tawaran dari sejumlah orang yang awalnya dari teman-teman Theo. Tanpa aku sadari aku telah berpropesi sebagai lady escort, dari rumah ke rumah. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terlintas di benakku. Jujur aku berkata, profesi ini jauh lebih menjanjikan daripada ketika bekerja di sebuah restoran Indonesia di kota tempat aku tinggal, tepatnya Utrecht. Dengan pekerjaan ini, aku bisa lebih banyak memenuhi permintaan keluargaku yang mengganggap bahwa rejeki hidup di negara makmur ini bisalah dibagi-bagi.

Tahun ke lima rumah tanggaku dengan Theo berakhir di meja perceraian. Aku lebih sering keluar rumah, dan mencari nafkah. Dan Theo jadi kekurangan rasa percaya diri, dan tentunya dikuasai rasa cemburu yang amat tinggi.

Kini aku, harus bisa mandiri. Segala biaya hidup, dari sewa rumah hingga sepiring nasi, mesti aku usahakan sendiri. Theo yang tak punya pekerjaan dan income yang tak tetap, tak mungkin memberiku alementasi.

Tanpa penguasaan Bahasa Belanda yang benar, aku amat lalai dalam hal ini,  tidak berusaha menguasai bahasa dengan benar. Hanya seperlunya saja. Jelas aku tidak bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang benar.

Dengan modal lulusan Pariwisata Indonesia dan Bahasa Inggris, aku diterima pada bagian dapur di sebuah hotel sebagai pelayan sarapan pagi, part time job. Untuk menghidupi diriku sendiri, untuk hidup amat sederhana penghasilan ini sudah cukup, tetapi aku yang sudah mencium bau duit yang harum, dan mencicipi rasanya yang manis, ditambah dengan keluargaku yang gampang minta dukungan, jelas penghasilanku tidak cukup.

Keluarga dan beberapa temanku hanya tahu bahwa aku bekerja dengan benar. Tetapi tidak dengan pekerjaanku di malam hari atau pada Malam Minggu yang panjang.

Setelah perceraian dengan Theo, aku pindah ke kota lain dan menyewa appartement, dimana penguninya lebih anonim, Amsterdam.

Tak lama setelah perceraian dengan Theo, aku bertemu dengan Edwin. Dua tahun lamanya kami hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, orang di Belanda sebut dengan Lat Relatie. Lat Relatie adalah singkatan dari Living Apart Together, ini berarti bahwa kami tinggal di rumah masing-masing, tetapi berbuat selayaknya sebagai pasangan suami istri yang normal. Dan lagi, keluargaku hanya tahu bahwa Edwin hanyalah teman baik. Tetapi akhirnya juga tak bertahan lama, karena aku sibuk dengan duniaku.




Kini aku kembali hidup dengan seorang kali-laki, Jansen. Kami sudah hidup bersama samenwonen, Living together sudah 3 tahun lamanya. Pada keluarga aku menyatakan aku menikah resmi. Jansen aku temui di dunia escort, dan keluargaku hanya tahu dia bekerja sebagai pemain DJ pada sebuah Night Club,  tetapi sesungguhnya adalah di Secret Club, club dimana pengunjungnya mesti telanjang.

* * * *

Malam kini semakin larut, sepi dan dingin. 2 gelas port telah mengalir dalam tubuhku, dan gelas ke tiga hampir habis. Aku baru 10 tahun di Belanda, aku sudah 3 kali ganti teman hidup. Usiaku baru 40 tahun, entah sudah berapa laki-laki yang telah menikmati lekuk tubuhku. Entah berapa kali aku sudah menari telanjang di depan mereka.

Entah sampai kapan aku bisa mempertahankan semua ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan rahasiaku. Kadang aku ingin mengungkapkannya ke keluargaku, tetapi aku takut akan membawa aib yang amat besar. Ibuku akan mati jantungan, dan aku akan menjadi anak yang terbuang dan dituduh durhaka, karena menuduh tulangku pernah memperkosaku. Aku tak berani mengambil resiko sebesar itu. Sering sekali akau berpikir, berapa lama lagikah akau sanggup bertahan? Berapa lama lagikah aku bisa bekerja seperi ini?

Kadang aku berpikir, bahwa sesungguhnya aku telah kehilangan segalanya, apalagikah yang mesti aku takutkan? Kadang aku berpikir untuk mengakhiri hidupku, tetapi aku takut melakukannya, walau sesungguhnya aku tidak takut mati.

Entahlah.