SECANGKIR KOPI PAHIT ALA SANGGE-SANGGE

0
2

“Kau bukan Batak, menghadapi nasib sendiri saja kau tak mampu! Kau bukan anakku!”

 

Oleh: Ita Apulina Tarigan (Jakarta)

 

Ibu Togar meneriakkan kata-katanya sembari bercucuran airmata, menangisi kematian suaminya dan menangisi nasib anaknya. Suaminya meninggal dalam lautan rindu kepada Togar yang tidak pernah berkhabar dan anaknya Togar yang malu dengan kegagalan hidupnya di perantauan.

“Mudah-mudahan anakku tidak membuat malu orangtuanya,” demikian mantra dan doa Ibunda Togar setiap saat, berharap anaknya menjadi sukses dan kaya raya, pulang kampung membawa kebanggaan.

Tapi, Togar jauh dari semua angan-angan dan harapan orangtuanya. Kuliah ekonomi di Jogya karena keinginan orangtua, supaya kelak si anak bertitel doktorandus. Dalam 3 tahun Togar dropout dengan sukses. Menjadi wartawan adalah cita-citanya, dijalaninya dengan susah payah dan akhirnya menikahi seorang janda beranak 3. Bagaimana mau pulang dan memberitakan semua hal kepada orangtua dan orang kampung?




Begitu barangkali pikiran Togar. Ini semua adalah kutipan dari film ‘Secangkir Kopi Pahit’.

Saya teringat film ‘Secangkir Kopi Pahit’ karena membaca curahan hati Tika Romauli yang batal menikah. Curhatannya yang menjadi viral karena ada yang pro dan kontra.

Gagal karena mertua perempuan melecehkan dirinya dan keluarganya, dianggap tidak sepadan secara materi dengan keluarga calon suaminya. Setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap dari chat whatsapp yang diunggah si perempuan muda itu di laman facebooknya.

Beragam tanggapan muncul atas curhatnya. Ada yang mengatakan jika si calon pengantin perempuan sudah mengambil keputusan yang tepat membatalkan pernikahan karena sudah jelas ‘madesu’ (masa depan suram). Bagaimana tidak suram, jika belum menikah saja hubungan antara menantu dan mertua sudah tidak harmonis. Ada juga yang menuduh si perempuan muda ini mencari jalan supaya tenar dengan menceritakan persoalan yang seharusnya tidak pantas diumbar ke publik. Membuat malu keluarga, begitu kira-kira komentar yang kontra.

Segera ingatan saya melayang lagi kepada kisah anonim tapi nyata dari seorang sahabat saya tentang seseorang yang ia kenal. Seorang perempuan menikah di usia 30-an, sudah tidak muda lagi kata masyarakat kita, jadi kalau ada yang mau maka beruntunglah si perempuan ‘tua’. Pernikahan yang diatur, tanpa pacaran dan saling mengenal akhirnya berujung komunikasi tidak harmonis, walaupun sudah hadir si buah hati. Si perempuanpun mengajukan permohonan untuk bercerai, tidak ada harapan untuk memperpanjang rumah tangga ini, katanya.

 

Film SECANGKIR KOPI PAHIT

 

Apa yang terjadi justru sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan. Saudara lelaki si perempuan dan ibunya sendiri turut campur berupaya menggagalkan perceraian, bahkan menghalalkan kekerasan agar anak perempuannya tidak jadi bercerai. Alasannya, akan bikin malu keluarga, apalagi si suami cukup terpandang secara ekonomi dan berpendidikan.

Dari ketiga kisah di atas saya menarik satu benang merah sederhana, betapa beratnya tekanan sosial dalam masyarakat kita terhadap hal-hal yang dianggap tidak seharusnya, dimana definisi ‘tidak seharusnya’ ini terkadang sama sekali tidak kita pahami.

Mengapa Togar harus malu jika memang hidupnya penuh perjuangan, untuk bertahan hidup saja dia memohon agar diijinkan menumpang di kost temannya? Mengapa Togar harus malu ketika menikahi janda beranak 3, ketika pada akhirnya perempuan itu dan anak-anaknya memberi warna dalam hidupnya, dan Togarpun mencintai mereka? Apakah kita harus malu ketika kehidupan kita tidak seglamour idealisme harapan saudara-saudara sekomunitas kita? Salahkah ketika manusia harus bernasib kurang mujur? Barangkali inilah yang menjadi tangisan Ibunda Togar, karena Ibu yang sejati tidak akan pernah menolak anaknya seburuk apapun nasibnya. Tekanan masyarakat seharusnya tidak memisahkan anak dengan orang tuanya.

Penulis di pintu sebuah gereja di Kota Leiden (Nederland)

Demikian juga dengan Tika Romauli yang akhirnya memilih membatalkan pernikahan, karena kehormatan diri dan keluarga lebih penting baginya. Bisa jadi ini kesimpulan sesaat, tetapi di masa depan pilihan Tika adalah kebaikan. Konflik yang sudah sejak awal terbangun sudah melibatkan perasaan terdalam, selamanya akan jadi duri dalam daging. Masa depan apakah yang bisa diharapkan jika hati sudah dingin? Mengapa harus malu mengatakan pada dunia saya batal menikah karena hal-hal yang prinsipil? Apakah hidup ini hanya sebatas menikah, berkeluarga, beranak lalu mati? Dalam hati kecil, saya berharap andaikan suatu saat nanti Tika Romauli barangkali tidak bertemu jodoh dalam waktu dekat, masyarakat kita yang perfeksionis janganlah menghakiminya dengan keputusannya hari ini.

Kawan kita yang anonim juga akhirnya berjuang untuk kemerdekaannya. Dengan menguatkan hati dan mentalnya dia pergi ke pengadilan mengajukan perceraian. Walaupun sidangnya belum selesai hingga hari ini, setidaknya dia berani menjadi dirinya sendiri, kembali tegak menatap masa depan. Berani berhadapan dengan dirinya, masyarakatnya dan terutama ketakutannya.

Akhir kata, saya merasa ada yang keliru dengan ucapan ‘jangan membuat malu keluarga’. Ada suatu tekanan dalam masyarakat yang tidak logis dan memberatkan dengan istilah ini. Sebaiknya, lepaskanlah diri dari tekanan ini dan beranilah memilih jalan yang hendak dilalui. Bahagian masyarakat hanya berkomentar tanpa kontribusi apa-apa, sementara jalan hidup dan segala hal yang terjadi adalah tanggungjawab setiap individu. Secangkir kopi pahit kehidupan akan selalu datang dan memaksamu untuk meminumnya. Pahitnya kopi engkau yang merasakan, dan masyarakat akan bersuka ria menceritakan bagaimana mimik wajahmu ketika menelan kepahitan itu.

Berdirilah tegak di jalanmu, hadapi nasibmu. Jadilah manusia merdeka!

FOTO HEADER: Penulis saat duduk di sebuah cafe tidak jauh dari Kantor SORA SIRULO – KAHE KOLU Leiderdorp (Nederland)