Judul Buku: Little Princes
Penulis: Conor Grennan
Diterjemahkan oleh: Eva Y. Nukman
Diterbitkan oleh: PT Mizan Pustaka
2010 – 439 Pages

Oleh: Anis Faridayanti (Surabaya)

 

Kisah sindikat perdagangan anak yang terjadi akibat perang sipil (Tahun 1996-2006). Para pemberontak Maois terlibat dalam perang sipil melawan kerajaan karena menuntut didirikannya Republik Rakyat Nepal dengan prinsip-prinsip komunis.

Cerita ini membawa saya sampai benar-benar masuk ke kehidupan di Nepal dan merasakan dingin dan lembabnya udara di Nepal. Juga mirisnya kehidupan anak-anak korban perdagangan anak.

Nepal, hanyalah perhentian pertama Conor dalam perjalanan keliling dunia sendirian selama setahun untuk menjadi sukarelawan di sebuah panti asuhan. Panti asuhan Little Princes berisi anak-anak yang terpisah dari orangtuanya karena mereka dijual oleh orangtuanya. Mereka dijual oleh orangtuanya kepada sindikat perdagangan anak.

Golkka, salah satu sindikat perdagangan anak yang mendapat akses untuk membeli dan menjual anak-anak tersebut. Para orangtua menitipkan anak mereka kepada Golkka, berharap anak mereka mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih layak dan tidak menjadi korban perang. Tetapi, bukannya kehidupan layak yang didapat anak-anak itu, malah kehidupan yang menyedihkan yang mereka dapat.




Mereka dikurung di dalam rumah reyot yang terbuat dari lumpur dan menjajakan mereka untuk dipekerjakan. Mereka dibeli oleh para bangsawan dan pejabat pemerintah, untuk bekerja tanpa bayaran yang layak. Mereka dijual oleh Golkka dengan harga tinggi, tetapi sebaliknya anak-anak tersebut tidak diperlakukan dengan tidak selayaknya.

Conor berusaha mencari keberadaan orangtua dari anak-anak yang ada di panti asuhan Little Princes. Menurut informasi yang dia dapat, mereka berasal dari salah satu daerah bernama Humla. Humla, daerah di Nepal yang berada di pedalaman. Akses untuk ke sana harus berjalan kaki selama beberapa hari dengan medan yang berat.

Conor dibantu oleh beberapa orang dalam satu timnya berangkat mencari keberadaan orangtua anak-anak yang ada di panti asuhan. Dengan membawa informasi seadanya, sangat sulit untuk mencari orangtua dari anak-anak tersebut. Sampai pada akhirnya dia menemukan satu per satu orangtua dari anak-anak itu.

Ada juga orangtua dari anak-anak itu yang sudah lama meninggal dunia. Salah satu orangtua dari kakak beradik di panti juga ada yang meninggal dunia. Sangat mengharukan bertemu orangtua dari anak-anak dari panti asuhan yang sebenarnya bukan anak yatim piatu, melainkan anak-anak yang dijual karena keadaan. Sepengetahuan anak-anak panti asuhan, mereka tidak punya orangtua atau orangtua mereka meninggal dunia. Para sukarelawan biasanya menemukan mereka di usia yang masih kecil, di bawah 3 tahun.

Dengan penuh perjuangan pula, Conor kembali ke kota. Karena harus berjalan jauh lagi, dengan kaki yang cedera selama perjalanan. Harus berjalan seharian dengan kaki cedera tanpa istirahat karena dia menumpang helikopter yang hanya berapa hari sekali datang ke Humla untuk memberikan bantuan.

Akhirnya, sekembalinya Conor ke panti asuhan dia menceritakan kepada anak-anak tentang orangtua mereka. Dengan sukacita mereka mendengarkan cerita Conor dan memperhatikan foto yang diambil oleh Conor. Beberapa dari orangtua ada yang datang ke panti asuhan untuk melihat anak-anak mereka.

Keadaan sedikit membaik, tetapi masih ada beberapa orangtua dari anak-anak yang belum ditemukan. Conor harus kembali ke negara asalnya karena waktunya untuk menjadi sukarelawan di Nepal sudah habis. Selain itu, uang tabungannya juga semakin menipis, uang yang dikumpulkannya selama dia bekerja bertahun-tahun.

Sekembalinya di negara asalnya, Conor berusaha menghubungi teman-temannya. Temannya menyarankan untuk mendirikan organisasi pengumpul sumbangan. Dengan bantuan temannya, dia mendirikan Next Generation Nepal. Sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menghubungkan kembali anak yang diperdagangkan dengan keluarga mereka. Dia menceritakan semua kisahnya sampai dia mendapat uang yang cukup untuk kembali ke Nepal.




Dia kembali ke Nepal. Conor berusaha membebaskan anak-anak yang masih dalam tangan Golkka, beberapa anak masih disekap di rumah lumpur tanpa cahaya, menunggu pembeli. Satu per satu orangtua dari anak-anak tersebut ditemukan oleh Conor dengan pencarian dan bantuan timnya.

Dari awal cita-citanya Conor untuk keliling dunia, dia akhirnya memantapkan hati untuk menjadi sukarelawan karena mencintai Nepal. Dia tidak mampu untuk menutup matanya melihat penderitaan anak-anak di Nepal. Sekuat tenaga dia mencari orangtua dari ribuan anak yang telantar tanpa orangtua di Nepal. Tidak hanya anak-anak di panti asuhan yang diselamatkan masa depannya, tetapi anak-anak yang di dalam penyekapan sindikat perdagangan anak juga berusaha dia selamatkan.

Meskipun sulit, tetapi dia mengesampingkan cita-citanya untuk keliling dunia, untuk menyelamatkan anak-anak. Kegigihan anak-anak untuk bertahan hidup di kehidupannya yang keras membuat Conor berniat menyelamatkan kehidupan mereka. Sampai saat ini, dia menjadi President and Founder of Next Generation Nepal.

Pelajaran hidup yang bisa diambil, sesulit dan seberat apapun hidup yang dijalani, kita tidak seharusnya menjual anak ataupun menyerahkan anak kita kepada orang lain. Karena seberat apapun hidup, selalu ada jalan untuk bertahan dan menjalani hidup. Dengan kehidupan yang teramat miskinpun, para orangtua harus bertahan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya.

Kegigihan Conor untuk membantu sesama juga patut kita jadikan pembelajaran. Sikap empati Conor membantu sesama, tanpa memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri sepertinya patut kita contoh di saat kehidupan sekarang yang jauh dari orang-orang yang punya rasa empati. Rasa yang hampir punah terkikis oleh jaman.