Kisah Bersambung: T U K (Bagian 1)

0
4

Oleh: Bastanta P. Sembiring

 

Topan melaju keretanya (dibaca sepeda motornya) dengan kencang keluar dari parkiran tempat kos-kosan. Belum seberapa jauh, dia memutar stang keretanya ke kiri dan memarkirkannya di depan sebuah swalayan.

Buru-buru dia pun masuk ke dalam swalayan tersebut sehingga lupa untuk mengunci stang keretanya. Jangankan mengunci stang, bahkan kuncinya pun masih tertinggal, tergantung.

“Oh, maaf, maaf…” kata Topan kepada seorang pengunjung.

“Maaf, maaf. Makanya kalau jalan itu pake matamu!” Balas seorang wanita paruh baya, kesal.







Topan langsung menuju barisan rak dalam swalayan yang memajangkan beberapa alat kesehatan; seperti tisue, perban, cairan anti infeksi, dll. Lalu, dia mengambil beberapa barang, serta beberapa jenis makanan dan minuman kaleng.

Di depan meja kasir dia pun menerobos ramainya antrian. Saat itu masih pagi, sekitar pukul 07.15 wib, jadi masih sibuk orang berbelanja.

“Antri dong! Jangan main terobos saja. Kami juga sudah nunggu lama,” kata pengunjung lainnya.

Tetapi Topan tidak menghiraukannya dan memaksa petugas kasir untuk menghitung belanjaannya. Kemudian berlalu pergi setelah membayar.

Di parkiran dia tampak kasak-kusuk mencari sesuatu. Melihat itu seorang petugas parkir pun menghampirinya.

“Abang cari kunci, ya?” tanya petugas parkir itu.

“Iya,” jawab Topan datar.

“Ini,” Kata petugas parkir menyodorkannya ke arah Topan.

“Tadi saya lihat tergantung di keretandu (ndu: (ka-) mu, anda). Takut aku diambil orang makanya kuamankan,” kata si petugas parkir.

“Oh, maksih, pal (impal),” jawab Topan.

Kemudian dia mengengkol keretanya dan pergi dari tempat itu.

*****

Sesampainya di kamar kosan, Topan langsung membuka bungkus belanjaannya dan mengambil tisue serta cairan pembersih, lalu membersihkan luka di tangan Elsa dan kemudian mebalutnya.

“Sudah!” kata Topan kepada Elsa, pacarnya.

“Tadi pun kan sudah kubilang tidak usah. Eh kam bandel, pake acara mau masak, siapin sarapan segala,” omel Topan.

Elsa hanya terdiam. Rona wajahnya biasa saja menatap peria dengan perawakan tinggi kurus serta warna kulit agak gelap itu sedang mengomelinya. Sepertinya hal ini sudah biasa baginya.

Kam itu sama seperti mendiang (almarhum) bapakku. Suka ngomel. Tapi manis,” balas Elsa dengan candaan sedikit meledek Topan.

“Iya… iya.. iya..” jawab Topan.

“Hari ini kam masuk kuliah?” tanya Topan kepada Elsa sembari menyelesaikan membalut luka di tangan Elsa.

“Iya lah. Aku ‘nggak seperti kam yang perkara hujan rintik saja bolos kuliah,” jawab Elsa, dan kemali meledek kebiasaan buruk Topan.

Elsa merupakan seorang mahasiswi Fakultas Hukum di salah satu universitas negeri di Kota Medan. Kampusnya tidak jauh dari tempat kosnya. Sedangkan Topan sendiri adalah mahasiswa Teknik Elektro di salah satu perguruan tinggi swasta yang juga tidak begitu jauh dari tempat kos mereka, sehingga setiap hari dia bisa antar jemput Elsa.

“Sabtu ini kita jalan-jalan?” tanya Topan kepada Elsa. Sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.

“Sabtu ini aku ‘nggak bisa, sayang.”

“Kenapa? Kam ada masuk mata kuliah?”

“Bukan itu.” Jawab Elsa.

“Jadi, apa?” tanya Topan.




“Sabtu ini aku mau ke rumah mama (paman, saudara lak-laki dari ibu, ayah istri, dsb) yang di Binjai. Dia baru saja pulang naik haji, makanya nandé (ibu) suruh aku ke sana karena dia tidak bisa.”

“Memangnya mami (istri mama, ibu dari istri/ibu mertua, dsb) kenapa? Kok tidak bisa?” lagi, tanya Topan.

“Iya, kondisi kesehatannya belum pulih betul. Terus, katanya kemarin pas kutelephone dia ada kerjaan penting ke Bogor.”

“Oh, begitu ya,” Topan mengangguk-angguk.

“Apa perlu kuantar?”

“Tidak usah. Makasih,” jawab Elsa.

*****

Sabtu, sekira pukul 16.15 wib.

Dari tadi Topan mencoba menghubungi Elsa, tetapi tidak diangkat. Saat Topan mengunjungi kosannya juga Elsa belum ada pulang sejak pagi tadi, demikian kata tetangga kamar sebelah.

Topan mencoba menghubungi beberapa teman yang biasa bersama Elsa, juga teman sekelasnya. Hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu diman posisi Elsa saat ini. Mau menghubungi ke mamanya yang di Binjai pun nomornya tidak ada, juga memang belum saling kenal.

Tiba-tiba HP Topan berdering. Panggilan dari Elsa kekasihnya.

“Iya sayang. Kam di mana sekarang?”

“Aku sudah sampai di kos. Maaf baru nelphone kam,” jawab Elsa dengan suara agak serak. Seperti baru habis menangis.

Topan pun langsung meluncur ke kosnya Elsa dan mendapati Elsa sedang menangis di kamarnya.

“Kenapa kam, Ting? (Panggilan (disingkat) untuk beru/merga Ginting),” tanya Topan menghampiri Elsa.



Nandé mau kawin (nikah, red) lagi!”

“Trus apa masalahnya?” tanya Topan lugu.

“Itu ibuku, tahu?!!!” jawab Elsa meninggikan nadanya.

“Iya, iya. Aku tahu,” kata Topan menjawab dan memeluk Elsa.

Kam mau cerita?” tanya Topan setelah beberapa saat tadi saling membisu.

“Enggak!” jawabnya dengan nada membentak. Seperti gadis kecil yang sedang jengkel.

“Iya. Nggak apa-apa kalau kam belum mau cerita.”

Sempai malam pun tiba. Hingga larut mereka berdua hanya membisu. Bahkan hingga Topan meninggalkan kamar itu, Elsa belum mengeluarkan sepatah katapun. Tidak juga menjawab saat Topan pamit pulang.

Bersambung….