Puisi: HUJAN

0
10

Oleh: Siska Veronika beru Tarigan (Tanjung Merawa)

 

Malam ini terasa begitu mencekam..
Rembulan menyembunyikan sinarnya…
Bintang pun enggan untuk menemani…

Air bening yang sudah berapa bulan terakhir sangat nyaman dan bahagia berlindung di peraduannya, karena ada payung teduh yang selalu menemaninya
Sang hujan menghampiri pun, air bening itu enggan untuk bermain bersama karena ada payung yang selalu bersamanya
Saat hujan datang, dia lebih suka berlindung bersma payungnya daripada bermain bersama sang hujan…







Malam ini, dia sangat merindukan tetesan hujan… Ingin rasanya menjerit sambil berlarian bersama derasnya hujan…
Ingin rasanya menghilang dibawa arus derasnya ombak…

Karena payung rumahnya tlah pergi dan berpindah haluan…
Payung tempatnya berlindung tlah berubah menjadi batu…
Payung yang begitu hangat tlah berubah menjadi dingin…

Si air bening selalu gelisah, dan bertanya dalam hati…
Seakan tidak percaya apa yang terjadi pada payungnya…
Apakah salahku? Mungkinkah aku begitu membosankan? Salahkah aku ingin berlindung padanya? Salahkah aku menaruh kasih padanya?
Mungkinkah… Dan mungkinkah…

Tak ada yang bisa dilakukan air bening kecuali meratapi nasibnya…
Hanya bisa berharap payungnya kembali padanya..
Untuk saat ini, dia hanya butuh sang hujan menemani hari-harinya…
Hujan memang tak dapat menghibur, tapi dia dapat menenangkan jiwa air bening walau hanya sebentar saja…

Hujan… Oohh hujan…
Mungkin kah besok dia akan hadir?
Air bening ingin bermain bersama, karena dia sudah tidak betah lagi tinggal di rumahnya…

FOTO HEADER: Sebuah tempat camping di Silalahi, tepi Danau Toba saat penulis menatap dari atas bukit.