SRI BERU KARO. BATAM. Cuaca di langit Batam lumayan cerah kemarin pagi [Rabu 6/12]. Di Pasar Pagi, ada kejadian yang membuat reporter anda teringat pada 3 sahabat yang sudah pergi meninggalkan Batam. Sekitar 3 tahun lalu, mereka pergi dari Batam karena sudah bosan di sini tidak ketemu jodoh, kata mereka.

Benar saja, begitu pergi dari Batam, setahun kemudian, salah seorang dari ketiga sahabat itu ketemu jodoh. Dulu kita sahabat berempat sering pergi bersama ke mana-mana, ya ke mall, pantai, keliling Batam tengah malam, karaokean, ke Pasar Jodoh, dan sering ribut jadi perhatian sekitar.

Keempat sahabat ini punya selera masing-masing. Begitu juga dalam memilih sayuran. Ada yang suka sayur ini, ada yang suka sayur itu. Jadi ribut dan sampai di mobil juga terkadang masih ribut. Makanya setiap reporter anda mengunjungi Pasar Jodoh jadi rada-rada sedih karena sekarang tinggal sendiri.







Dulu pernah kejadian, ketika kita berempat lagi keliling pasar dan sudah beli buah, sayur banyak, tapi emang teman yang bernama Novi paling ga tahan melihat sayuran segar. Saya tidak tahu namanya, biasanya orang Jawa yang suka memakannya tapi orang Karo tidak begitu suka dengan sayuran itu.

“Mba, berapa seiket?” Novi nanya sambil bongkar-bongkar tumpukan sayur itu.

Sambil menjawab si penjual langsung merapikan lagi sayuran yang sudah dibongkar si Novi. Kami bertiga hanya menatap diam kelakuan dua orang ini, yang saling bongkar susun. Akhirnya Novi ngomong dengan ketusnya.




“Mba ini gimana sich, saya kan mau pilih ko langsung disusun aja sich. Ya sudah ga jadi beli.”

Si pedagang hanya diam, dan seorang laki-laki langsung nimbrung, entah suami atau abang sipedagang.

“Maaf mba, ya. Sudah, pilih saja, mba,” dengan senyum siabang memepersilahkan Novi memilih dengan bebas.

Nah, pagi ini, kejadian hampir sama saya alami dengan abang penjual pepaya. Ketika saya lagi memilih-milih pepaya barsama 2 ibu yang lain, kebetulan tangan kami bertiga beradu karena ingin memilih pepaya yang sama. Kemudia si abang pedagang ngomong: “Aduh, jangan berebut dong, bu. Entar pepayanya rusak.” (Saya tahu kalau abangnya bercanda).

Tapi, dengan sedikit drama saya pergi sambil bilang: “Ya sudah dech, saya ga jadi beli.”

Eh, si abangnya setengah mengejar saya, menarik tangan saya dan bilang: “Aduh, mba, maaf. Saya hanya bercanda. lho. Mari pilih aja, mba. Jangan suka marah gitu entar cepat tua.”