Home Blog Page 5

Lembah Kesedihan: Ketika Ideologi Memisahkan Aku, Kau dan Kekasih Kita

0
The Lowland Books

Judul Buku: The Lowland
Penulis : Jhumpa Lahiri
Terbitan : Bloomsbury Publishing, Great Britain
2013 – 339 pages

Ini hanya sebuah catatan setelah membaca novel ‘The Lowland’ yang menghanyutkan, menghanyutkan saya menjadi tidak punya rasa. Ya, novel ini memang mengisahkan tokoh-tokohnya yang mematikan rasa agar bisa bertahan hidup, tidak saja oleh karena penderitaan fisik, tetapi juga karena penderitaan bathin.

Buku ini berkisah tentang 2 bersaudara yaitu Udayan dan Subash, yang tinggal bersama keluarganya di wilayah sub-urban di Kalkuta. Umur mereka tidak terpaut jauh, membuat keduanya menjadi sahabat, bersekolah bersama dan bertualang ala anak kecil bersama. Bab pertama diawali dengan ingatan Subash, sang adik tentang masa kecil mereka ketika menyeludup ke dalam sebuah klub mewah di Kalkuta untuk memungut bola-bola golf yang ditinggalkan bule-bule Inggris di lapangan golf club itu. Hanya bule-bule Inggris dan warga Kalkuta kelas atas yang diijinkan menjadi member club.

Ayah mereka adalah pegawai jawatan kereta api dengan penghasilan pas-pasan, sedikit di atas rata-rata warga Kalkuta lainnya. Walaupun begitu, orangtua mereka punya semangat yang luar biasa untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga ke universitas. Mereka berhasil masuk universitas dan termasuk mahasiswa yang pandai. Namun, universitas jualah yang mengubah jalan hidup mereka sekeluarga. Universitaslah awal takdir hidup yang dijalani hingga mati bagi setiap tokoh.

Udayan, seorang pemuda yang berkharisma dan selalu dituntun oleh perasaannya. Di masa kuliah dia berkenalan dengan gerakan komunis India yang dikenal dengan Gerakan Naxalite, gerakan yang menuntut pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan sosial dan kemiskinan. Aktifitasnya di gerakan ini membuat dia terseret jauh dan terlibat dalam. Ketika Udayan menyelesaikan kuliahnya dia memilih hidup sederhana menjadi guru agar bisa tétap aktif dalam organisasi, pilihan yang membuat orangtuanya kecewa karena seharusnya Udayan dapat menghasilkan banyak uang dengan memilih pekerjaan lain dan membantu menaikkan taraf hidup keluarga.

Jhumpa Lahiri, penulis novel The Lowland.

Subash adalah tipikal pemuda yang tenang dan pandai mengendalikan diri. Ketika kakaknya memilih menjadi guru, dia bertekad keluar dari India dan bersekolah di Amerika. Dia berhasil mendapatkan beasiswa dan diterima di sebuah universitas di Rhode Island. Subash berusaha menyadarkan Udayan, bahwa masa depan akan lebih baik jika mereka bersekolah ke luar India. Tapi, Udayan menuduhnya sebagai manusia yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli kepada sesama saudara sebangsa yang ditindas dan menderita. Dalam hati Subash merasa kalah dengan keberanian kakaknya yang berani memilih jalan hidup yang tidak populer di kalangan masyarakat India saat itu.

Merekapun berpisah, memilih jalan sendiri-sendiri. Tinggal berjarak beribu mil, belum ada telepon. Hampir tidak pernah berkomunikasi, hingga kemudian suatu hari Udayan mengabarkan lewat surat tentang pernikahannya dengan gadis pilihannya sendiri. Lagi-lagi tidak seperti lelaki India umumnya, dimana ibu mereka akan memilihkan perempuan dan menjodohkan mereka.Pilihannya adalah seorang gadis independen, pintar dan hobi membaca, intelektual dan sarjana filsafat. Subash merasa kalah sekali lagi dengan kakaknya yang berani melawan tatanan sosial.

Dua tahun di Rhode Island, akhirnya Subash pulang ke Kalkuta karena sebuah telegram yang dikirimkan ayahnya yang mengabarkan tentang kematian Udayan. Perjalanan sendu, tidak seperti yang dibayangkannya. Subash merasa suasana rumah mereka berbeda. Ayah dan Ibu yang tidak menyambutnya dengan gembira, kakak ipar yang lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu membaca buku dan yang paling menyakitkan tidak seorangpun yang berbicara kepadanya tentang kematian Udayan. Subash tidak tahan lagi, dia menanyakan langsung kepada Gauri, istri Udayan. Dalam remang subuh, Gauri menceritakan kematian Udayan yang tragis. Polisi yang sudah lama mencurigainya berperan di banyak kegiatan propaganda Gerakan Naxalite, mereka mencarinya kemana-mana. Polisi menangkap Udayan di rumah orang tua mereka dan menggiringnya keluar. Lalu, di lembah di depan sana, di seberang rumah, beberapa peluru menghabisinya di depan Gauri, Ibu dan Ayah.

Dalam beberapa hari, Subash menangkap ketidaksukaan orangtuanya terhadap Gauri yang tengah mengandung anak Udayan. Dia ingin menyelamatkan Gauri. Subash menikahi Gauri dan membawanya ke Amerika. Gauri melahirkan Bela, tetapi tidak bisa mencintai Subash dan Bela sebagaimana seharusnya seorang istri, seorang ibu. Gauri meninggalkan mereka dan menempuh karir sebagai professor filsafat di Amerika. Subash merawat dan membesarkan Bela sendirian. Mereka tidak bercerai, tetapi juga tidak bersama hingga ajal menjemput.

Secara umum, konflik antara Udayan dan Subash seolah mewakili konflik ideologi komunis dan liberal. Mereka abang dan adik, mereka bersaudara. Penganut ideologi komunis dan liberal adalah bersaudara, mereka berdua adalah rakyat India. Bukankah hal yang sama juga jamak dalam masyarakat lain di dunia, di sekitar kita?

Tetapi, yang membuat konflik dalam buku ini menjadi menarik adalah kehadiran tokoh Gauri. Perempuan yang awalnya terpesona dengan kharisma Udayan yang revolusioner, ternyata akhirnya membawanya kembali ke dalam rumah, seperti perempuan-perempuan lain di India. Pendidikan ilmu filsafat yang dijiwainya dengan kemerdekaan memilih, menjadi diri sendiri, mentah di tangan laki-laki yang dicintainya. Dalam beberapa bab dikisahkan, bagaimana Gauri dimanfaatkan untuk melancarkan gerakan bawah tanah kaum Naxalite, tanpa dia sendiri menyadari apa yang sedang dia lakukan.

Ketika Subash membawanya ke Amerika, dia hanya berpikir mengurangi beban keluarga mertuanya, bukan karena mencintai Subash. Justru di Amerika dia bergaul kembali dengan ilmu filsafat dan akhirnya menemukan jalannya sendiri, yaitu memilih menjadi feminist dan mengembangkan karirnya menjadi pengajar filsafat. Dia meninggalkan anak dan suaminya tanpa merasa bersalah sedikitpun, berjuang terus hingga di puncak karirnya.

Bela kemudian membenci ibunya, Gauri. Seperti ibunya dia juga tidak mau mencari kabar keberadaan ibunya. Bela pessimist dengan institusi rumah tangga, memilih melahirkan anaknya tanpa suami, memilih membesarkan anaknya sendiri.

Jhumpa Lahiri dan The Lowland

Konflik kelompok masyarakat selalu di dua sisi, hitam putih, komunis liberal, atheis religius dlsb. Umumnya kedua kelompok ini selalu dalam bayangan gambar maskulin. Perempuan hanya menjadi penari latar panggung untuk membuat dekorasi pertunjukan pertarungan menjadi lebih menarik. Tetapi, Jhumpa Lahiri dalam novel ini menampilkan Gauri, sebagai metafor kelompok perempuan yang kemudian menyadari bahwa dia juga punya pilihan ingin menjalani hidup seperti yang diinginkannya. Secara individu Gauri bersalah karena meninggalkan keluarganya demi hidup yang dicta-citakannya, tetapi secara kelompok Gauri juga berhak menentukan pilihan sendiri seperti 2 kelompok maskulin tadi, tanpa harus bergabung di salah satu kelompok yang terus bertarung.

Membaca novel ini, saya larut dalam kepedihan hidup para tokoh, mereka lawan pedih dengan menjalani pilihan hidup dengan ikhlas. Saya bergetar ketika di ujung hidupnya, tatkala Udayan menatap wajah Gauri sebelum dibawa polisi, tiba-tiba dia menyadari bahwa sesungguhnya dia lebih membutuhkan Gauri daripada sebaliknya. Saya layu, ketika Subash memilih tidak menikah lagi dan membesarkan Bela semampunya seperti anaknya sendiri, dan menjadi lelaki yang dingin. Kita bisa merasakan penderitaan Gauri bertahun-tahun ketika tidak bisa memilih melakukan apa yang dia sukai, lalu merdeka mendapatkan apa yang dia mau tetapi harus mengorbankan keluarganya.

Pada akhirnya kehidupan mereka timpang, karena seorang Gauri, seorang perempuan, seorang ibu, seorang kekasih. Seandainya saya bisa mengatur jalan cerita, barangkali, ya barangkali, Gauri masih bersama mereka ketika dia diberi kebebasan mengerjakan cita-citanya, hal-hal yang disukainya, ketika dia diberi peran turut memberikan warna pentas pertunjukan kehidupan, bukan sekedar penari latar yang muncul sesekali sesuai tuntutan skenario.

Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.3 – Habis)

0

Kemarin, ada berita di Sora Sirulo tentang seorang anak kecil yang ditabrak oleh sebuah mobil pick up. Anak itu tidak lihat kiri-kanan, langsung menyeberang dan terjadilah peristiwa mengenaskan itu. Secara hukum, biarkanlah polisi yang menyelidiki dan pengadilan yang menentukan siapa salah atau mungkin menempuh cara perdamaian. Tapi, saya pribadi menyesalkan ayahnya yang tidak mengenali karakter anaknya (katanya periang) dan tidak berusaha sedini mungkin menuntunnya menyeberang.

Perbedaan antara seorang anak dengan seorang dewasa dalam menyeberang jalan adalah bahwa seorang anak belum punya bayangan jelas apa itu jalan raya. Dia sering melihat orang lari menyeberang maka dia pun melakukan hal yang sama tanpa menyadari mengapa orang berlari saat menyeberang.

Orang dewasa menjadi paham lalulintas dalam kaitannya dengan penyeberangan melalui berbagai pengalaman. Selain pengalaman menyeberang dituntun, ada pengalaman menumpang kenderaan, berkenderaan sendiri, mendengar keterangan/nasehat dari orang lain/guru, dan lain sebagainya. Termasuk juga dengan berjalannya usia yang membuat otak kita bisa membayangkan lingkaran 360 derajat meski mata kita tidak melihatnya semua dalam sekali pandang.

Banyak pemusik tradisional Karo yang muda-muda sangat piawai memainkan satu atau beberapa alat musik tradisional dan bahkan beberapa alat musik modern termasuk kibot. Namun, wawasan mereka tentang seni pertunjukan sebatas pengalaman mereka tampil di lingkungan Karo atau dapat pesanan dari jawatan pemerintahan.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri sebagai perancang utama pertunjukan-pertunjukan Sanggar Seni Sirulo, saya menyimpulkan adik-adik tidak punya konsep sama sekali tentang seni pertunjukan atau seni panggung. Mereka hanya tahu memainkan alat musik tertentu. Mereka tahu bahwa mereka bisa bermain dengan bagus sekali. Tapi, saya harus banyak berceramah mengenai pertunjukan secara tim kepada adik-adik. Selain ceramah, saya meminta Ita Apulina Silangit memimpin meditasi agar uraian saya tidak hanya sebagai pengetahuan tapi sekalian sebagai peresapan.

Meski tidak kuliah di Jurusan Etnomusikologi, bertahun-tahun saya melakukan penelitian lapangan mengenai musik, tari dan lagu tradisional Karo serta ritual-ritualnya. Saya sering jalan dengan etnomusikolog Philip Yampolsky dan Endo Suwanda, berdiskusi mengenai seni pertunjukan tradisional. Begitu juga melalui pertemanan saya dengan para mahasiswa Etnomusikologi di USU. Saya juga telah mengunjungi berbagai tempat lain di Indonesia untuk menikmati seni pertunjukan tradisional setempat, dibeberapa negara Asia Tenggara dan beberapa negara Eropah.

Suatu waktu, saya diminta menjadi dosen tamu ke Universitas Arhus (Denmark) yang salah satu mata kuliahnya adalah Etnomusikologi Sumatera Utara. Sejak itu, saya mulai merasa tertantang untuk membentuk Kelompok Tari dan Musik TARTAR BINTANG di Belanda. Di sinilah saya bereksperimen dan mengasah kemampuan saya sendiri merancang pertunjukan-pertunjukan untuk publik internasional. Ketika beberapa tahun berada di Indonesia, saya bentuk lagi Sanggar Najati dan kemudian Sanggar Seni Sirulo.

Isi ringkas dari kisah pribadi saya itu adalah bahwa saya mempelajari seni pertunjukan tidak lewat pendidikan formal, tapi berangkat dari ketertarikan untuk mengembangkan seni tradisi Karo. Untuk itu, langkah-langkah yang saya lakukan adalah:
1. Mempelajari seni tradisi Karo di lapangan (bukan hanya yang dipertontonkan tapi juga di ritual-ritual seperti erpangir, petampeken jenujung, raleng tendi, dlsb.)
2. Bergaul dengan para dosen dan mahasiswa Etnomusikologi USU serta para musisi Karo
3. Membantu para peneliti musik dari luar negeri dan sekalian berdiskusi dengan mereka
4. Menonton berbagai pertunjukan seni daerah-daerah lain di Indonesia dan Asia Tenggara
5. Menonton berbagai pertunjukan seni tradisi di Belanda dari negara-negara lain
6. Membaca tulisan-tulisan terkait seni pertunjukan tradisional
7. Menonton berbagai pertunjukan seni tradisional dari seluruh dunia di youtube
8. Mengadakan pertunjukan Karo di Belanda dan Indonesia

Salah satu hasil yang saya petik adalah undangan sebagai dosen tamu ke Denmark untuk memberi kuliah mengenai musik-musik tradisi Sumatera Utara (kebetulan saya punya banyak rekaman video untuk dipertontonkan kepada mahasiswa). Hasil lainnya adalah berhasilnya saya mengadakan pertunjukan seni tradisi Karo yang menurut orang-orang sangat “mendekati aslinya” padahal sebelum saya ciptakan itu tidak pernah ada di dalam tradisi Karo.

Keinginan untuk belajar ternyata sangat minim di pemusik tradisi Karo. Mengapa saya sering menggunakan clip dari Jacky Raju Sembiring untuk berita-berita Sora Sirulo? Karena saya merasa grup ini sangat, sangat dan sangat paham apa itu PERFORMING ART. Bila semua pemusik muda Karo memahami dan berwawasan PERTUNJUKAN or performance seperti Jacky Raju Sembiring dan bukan show (berjingkrak-jingkrak sambil niup surdam), saya yakin seni pertunjukan Karo segera dalam waktu singkat akan MEMBAHANA KE TINGKAT DUNIA.

Secara teknik bermain, Jacky Raju Sembiring dkk bukanlah pemusik kelas nomor 1 di Karo, tapi secara wawasan performance art, mereka adalah seperti Jeruk Madu dari Liang Melas, numero uno. Kualitas bermain para pemusik muda Karo, saya angkat tangan dan kagum sekagum-kagumnya. Tapi, untuk wawasan maju, saya takut mereka seperti anak kecil korban tabrak itu, tanpa dituntun mereka merasa sudah sangat paham tapi tetap akan lari di tempat.

Inilah kesan saya menanggapi apa kata pecatur Belanda itu mengenai pecatur Karo Merlep Ginting. Belajarlah sendiri untuk modal mengembangkan diri. Hasilnya untuk Karo akan kita petik bersama. Salam Mejuah-juah, Merdeka NKRI.

Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.2)

0

Pecatur Belanda itu memuji Hutagalung, Arovach Bachtiar, dan Merlep Ginting, tapi dia mengatakan Merlep Ginting tidak akan bisa mengembangkan karirnya ke dunia internasional. Padahal, Prins, menang melawan Hutagalung dan Arovach Bachtiar, sedangkan dengan Merlep dia remis (draw). Setelah tinggal di Belanda dan banyak bergaul dengan orang-orang Belanda (di kegiatan-kegiatan akademik, seni, olahraga, dan sosial), saya sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Prins tentang keterbatasan Merlep.

Saya sudah beberapa kali mengikuti seminar internasional maupun menjadi dosen tamu di berbagai negara. Untuk itu, saya berangkat sendirian dan pulang sendirian. Bayangkan berapa banyak yang harus saya urus sendiri tanpa bantuan orang lain:
1. Keberangkatan dan ketibaan di bandara internasional yang berbeda-beda
2. Berbahasa Inggris
3. Check in dan check out hotel
4. Memperhitungkan waktu transit dan bagaimana menemukan kendaraan transit itu (pesawat udara, kereta api, atau bus)
5. Berkomunikasi dengan tuan rumah (pegawai, panitia, atau entah siapa)

Bertanding catur bagi Merlep Ginting tidak masalah karena itu memang dunianya, seperti saya mempresentasekan makalah atau memberi kuliah. Tapi, kam akan merasakan sendiri betapa dunia ini tiba-tiba tidak bersahabat dengan kam bila kam harus mengurusnya sendiri.

Sekarang perkenankan saya menceritakan suasana di Sanggar Seni Sirulo beberapa tahun lalu saat hendak manggung di Pelataran STMIK Neumann. Para artis yang sekitar 20 orang itu rata-rata usianya setingkat mahasiswa atau sarjana baru tamat. Jangankan mengurus peralatan musik tanpa dikomando, mengurus diri mereka sendiri pun tak becus. Bukan tidak bisa, kebanyakan koyok hingga ketika saatnya mendesak, sudah bertabrakan di kamar mandi sehingga harus antri. Waktu yang begitu banyak jadi terbuang, lalu terburu-buru hingga akhirnya terlambat dan pertunjukan molor waktu.

Saya sama sekali tidak tahan menghadapi situasi begitu. Soalnya, sejak kecil saya sudah terbiasa mengorganisir diri sendiri setelah menyesuaikannya dengan program organisasi/bersama. Tapi, itu bukan pengalaman saya yang pertama. Semasa SMP dan SMA saya pernah menjadi komandan Pramuka. Gawatnya, anak buah saya rata-rata anak-anak Karo pula.

Apa yang sangat mencolok bila anak buah anda orang Karo? Positipnya orang Karo itu memang egaliter, tapi kebablasan. Anak buah bisa berlomba mengatur komandan. Bagenda min bandu, kam la kin diatendu enda dan lain sebagainya…

Sewaktu Jamnas 1977 di Sibolangit, anak buah saya “ngepek” cewek semua ke tenda perempuan. Atas dasar rasa tanggungjawab, saya memasak sendirian di perkemahan pria. Lalu, seorang cewek dari tenda perempuan melapor bahwa anak buah saya bilang, mereka punya tukang masak yang maksudnya adalah saya. Langsung saya tendang semua kudin belanga dan saya ajak cewek itu jalan-jalan.

Ketika kakak pembina nantinya mau makan dan tidak ada makan malam, saya berkata (di depan anak buah saya): “Aku dengar kita punya tukang masak.” Semua diam dan menjadi kelaparan di malam itu, sedangkan saya sudah makan dengan cewek tadi di Bandar Baru (makan, bukan masuk hotel lho ya..)

Apa inti masalah dalam soal masak itu? Tidak ada penghargaan terhadap tanggungjawab yang tinggi dari pemimpin. Pemimpin itu adalah orang yang “nunjuk-nunjuk” dan memerintah saja kerjanya. Tapi awas, bila kam melakukan itu dan gagal, maka yang salah adalah pemimpin itu sendiri.

Untuk prestasi tingkat lokal, tingkah polah seperti itu tidak kelihatan sebagai sebuah handicap. Lihat saja bila seniman-seniman Karo bertemu dalam sebuah pertunjukan: Sok ramah satu sama lain, koyok dan ketawa-ketawa, sok acuh terhadap peralatan musik yang dipegangnya (seolah-olah tekirkenna saja kari dung kerina). Kalau koordinator mengingatkan agar para artis mempersiapkan peralatannya, para artis berlagak seolah-seolah si koordinator terlalu mencemaskan hal-hal yang tidak perlu dicemaskan.

Ujung-ujungnya, pertunjukan tidak pernah maximal dan optimal. Untuk tingkat lokal bolehlah, karena tidak ada pilihan lain. Sideban pe kari bage kang. Tapi, untuk ke tingkat lebih luas apalagi di luar Karo? Ini pesan saya: Ubah sifat ingin DILAYANI menjadi sifat ingin MELAYANI.

(Bersambung ke Bagian 3)

Masa Depan Karo Di Mata Pecatur Belanda (Bag.1)

0

Setelah Edi Sembiring mengirim lengkap artikel dari potongan koran Harian Leiden di atas (koran ini masih terbit hingga hari ini), saya tercenung oleh tanggapan Prins mengenai masa depan catur Indonesia, khususnya mengenai Merlep Ginting. Tanggapannya persis sama dengan apa yang saya sering utarakan mengenai Karo di Milis Tanah Karo (yahoogroups) dan Jamburta Merga Silima (Facebook group), termasuk di dalam beberapa kolom saya di Tabloid Sora Sirulo.

Pertama, Prins mengatakan, kalau dipertandingkan pecatur Belanda dengan pecatur Indonesia 10 lawan 10, maka Belanda yang akan memenangkan pertarungan. Akan tetapi, kalau 100 pecatur lawan 100 pecatur, maka Indonesia yang akan memenangkannya.

Saya pernah bercerita bahwa saya disegani sebagai pecatur ulung di Leiden. Baik di kalangan Indonesia maupun orang-orang Belanda, selalu terkagum melihat permainan catur saya. Padahal, di Padangbulan sana saya sama sekali tidak dianggap sebagai pemain catur.

Apakah orang-orang Belanda kalah hebat dengan orang Indonesia dalam bermain catur? Hoooo ….. Jangan lupa, Dr. Max Euwe adalah Juara Dunia Catur FIDE sebelum Boris Spasky. Dia adalah Profesor matematika di Universitas Tillburg sebelum terpilih menjadi Presiden FIDE. Max Euwe remis dengan Pa Kantur Purba sebelum menjadi juara dunia, sehingga Pa Kantur disegani sebagai nativistic leader di Karo atau gerakannya dalam antropologi disebut ‘mesianic movement’ (gerakan Ratu Adil).

Setelah Euwe, ada Jan Timman yang menjadi langganan partai laga dengan Korchnoi dan Karpov dalam penentuan finalis kejuaraan dunia. Bisa dikatakan, setelah Rusia dan India, Belanda adalah negara terbaik dalam catur dunia. Namun, hanya orang-orang tertentu di Belanda yang bermain catur secara serius. Beda dengan di Karo, hampir semua lelaki bisa main catur dan lumayan hebat-hebat. Bedanya lagi dengan Belanda, para pecatur serius punya sarana lengkap, selengkap-lengkapnya dan negara mendukung dengan menyokong kehidupan mereka. Dengan begitu beberapa pecatur dapat mencapai prestasi di tingkat dunia. Itulah latar belakang pernyataan Prins tentang pandangannya soal masa depan catur Indonesia ataupun Karo di atas.

Saya sangat setuju dengan Prins. Demikian pula dalam sepakbola. Untuk anak-anak, Indonesia bisa dikatakan mampu bertarung di kelas dunia, tapi untuk tingkat junior dan senior, Indonesia tidak ada apa-apanya. Di mana salah benangnya? Secara umum, saya kira terkait hal-hal berikut ini:
1. Pembinaan (seleksi, pembelajaran dan latihan)
2. Kompetisi (perlu ditingkatkan jumlah dan kualitas kompetisi)
3. Ekonomi (Sokongan finansial untuk keluarga pemain, baik oleh negara maupun swasta serta kesempatan komersil, menjadi bintang iklan misalnya).

Tidak adanya faktor pendukung seperti di atas adalah alasan Prins meramalkan Merlep Ginting tidak akan pernah menjadi pemain dunia, walaupun dari segi kecerdasan, Merlep tidak kalah dengan pemain dunia lainnya.

Prins terkejut melihat permainan Merlep Ginting yang hebat. Tetapi kepada wartawan dia katakan, susah membawa Merlep ke tingkat internasional. Dengan bahasa yang halus dan sopan, dia menyiratkan adanya hal-hal lain di luar kemampuan bermain catur yang menentukan apakah seseorang itu akan sukses atau tidak dalam jenjang karir lebih tinggi. Prins tidak menjelaskan apa saja itu, tapi persilahkan saya menafsirkan kata-katanya karena kebetulan pula saya mengenal sedikit Merlep Ginting semasa hidupnya.

Pada tahun 1980, Merlep Ginting menjadi Juara 1 Catur se Kabupaten Karo. Saya pernah bertemu dia di Tiga Pancur (Kecamatan Simpang Empat). Saat itu dia berpakaian hitam (seperti pakaian silat dan tetap makan sirih).

Ramalan Prins benar. Dia tidak lebih daripada pecatur “kampungan”. Sudah pernah berhadapan dengan seorang pecatur kelas dunia seperti Prins, tapi masih mau juga mengikuti kompetisi tingkat “kampung”. Kesalahan memang tidak bisa kita letakkan hanya di pundak Merlep Ginting. Soalnya, orang seperti Cerdas Barus saja bisa mencapai Grand Master padahal dia punya beberapa kelemahan fisik maupun kejiwaan. Itu bisa tertutupi karena dampingan Percasi yang kebetulan Sibayak Sarinembah pula ketuanya.

Tapi, bagaimana dengan Monang Sinulingga? Walaupun dia jauh lebih dahulu bermain di kancah nasional dan internasional daripada Cerdas Barus, dia tetap tidak berhasil meraih Grand Master. Padahal, saya kira dia sangat mampu. Mengapa pula menjelang akhir hidupnya dia bermain catur dengan wisatawan asing di Berastagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berakting seolah-olah dia hanyalah seorang lelaki lokal, hingga akhirnya ada seorang turis yang mengenalinya sebagai pecatur internasional dan turis itu menjadi marah sekali.

Salah satu kelemahan orang-orang Karo secara umum adalah kurangnya kemampuan dalam pergaulan nasional maupun internasional. Penguasaan bahasa adalah syarat utama dalam pergaulan. Tapi, pergaulan adalah juga masalah sikap dan inisiatif. Hanya dalam pertemuan atau perkenalan pertama orang-orang rela membantu kita serta bertoleransi dengan kelemahan-kelemahan kita.

Jangan lupa, setiap orang punya urusan dan masalah sendiri-sendiri. Mbue urusen kalak, anakna pe enterem. Labo kam ngenca urusen kalak. Umunya orang Karo terlalu mengharapkan orang lain memaklumi kelemahannya dan berkutat terus di kelebihannya. Orang Karo yang sudah merantau atau melakukan kunjungan resmi ke luar negeri pasti sangat mengerti maksud saya.

Sebagai contoh, pengalaman saya sewaktu dipanggil berdiskusi ke sebuah universitas di Jerman oleh seorang profesor. Memang kunjungan saya itu didanai, tapi saya tidak membayangkan bahwa semua kebutuhan seperti halnya penginapan harus saya urus sendiri. Saya ketok pintu kamar kerja profesor itu. Sekretarisnya membuka pintu dan dia tetap berada di hadapan komputernya.
“Selamat datang,” katanya sambil berdiri menyambut salamku.
“Sudah dapat kamar penginapan?” katanya bertanya.

Akupun tersentak karena tidak memikir sedikitpun ke arah sana. Untung saja sekretarisnya mengambil inisiatif (sekretarisnya adalah mahasiswi dan pernah mengikuti kuliahku di sana). Dia meraih satu tasku yang paling ringan dan mengajakku mengikutinya. Lalu dia kontak seseorang dan dengan orang itu aku berjalan menuju penginapanku. Mengapa aku dengan mudahnya mengatasi masalah? Semua yang membantuku itu adalah bekas mahasiswiku dan sekaligus menjadi teman-temanku (di Jerman mahasiswa bisa bekerja mendapat gaji di universitasnya).

Sering sekali orang-orang Karo langsung gelap mata bila menghadapi hal-hal seperti itu karena tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Penyebabnya adalah karena rendahnya kemampuan bergaul. Takut dianggap salah, takut terlihat bodoh, dan lain sebagainya. Padahal, pergaulan internasional itu adalah biasa-biasa saja. Asal berpakaian rapi dan bertutur bahasa sewajarnya, di mana saja kam tak perlu takut lagi untuk bertanya dan bercakap-cakap dengan siapa saja.

Perhatikanlah sekali lagi foto Merlep Ginting. Maka kam pun akan mengerti apa yang dimaksud oleh Prins dalam meramalkan masa depan karir Merlep Ginting dalam catur. Kelemahan dalam bergaul itu jugalah yang membuat orang-orang Karo PERMENEK dan suka CEKURAK. Dua karakter ini sangat kuat terdapat pada orang yang lemah bergaul.

“Ieteh kalak min aku jago,” atena tapi la pernah cidahkenna ia jago. Uga ning kalak metehsa? Adi enggo ieteh kalak ia jago, ia ka me atena mis irajaken? La kalak sempat.

(Bersambung ke Bagian 2)

Mengukur Jalan di Kuala Lumpur

0
[foto/itaapulina]

Hayyyy…. Assalamu’alaikum.
Aku ingin bercerita sedikit tentang suka duka ketika liburan di Negara Si Upin Ipin, yuuuuups Malaysia. Ini adalah liburan pertama ku ke luar negara tercinta Indonesia Raya. Saya pergi ke sana tidak sendirian yach, saya bersama teman kantor 2 orang. Jadi kami bertiga. Salah satu teman saya adalah orang yang udah melalang buana ke beberapa negara jadi beliau sebagai pemandunya yang super duper sabar dan salah satu teman saya juga baru pertama ke luar negara, bareng juga pas buat pasportnya. Kami liburan kesana tanggal 9-12 Desember 2016.

Berangkat jam 2 siang dari Surabaya dan sampe di bandara Kuala Lumpur kira-kira jam 8:00 malam waktu Malaysia. Kami langsung pergi ke Kuala Lumpur naik kereta KLI Express, yang wuuuusssss secepat kilat dan nyamaaan banget (sambil nglamun andai saja kereta api di Indonesia juga kaya gini, aku ogah dah naik motor). Stop.. sampe sini aja nglamunnya jangan di terusin. Ok… akhirnya kita sampe ketujuan yakni terminal …….

Stasion Kuala Lumpur, istirahat sejenak [foto/itaapulina]

Perjalanan belum selesai yach, masih harus naik kereta lagi, di sini kita harus nyari lagi kereta tujuan Pasar Seni. Tidak ada petugas loket yach. Self service, beli tiket nya semacam beli minuman, kita masukin duitnya keluarlah minumanya, tapi karena kami beli tiket jadi keluarnya tiket ya bukan minuman. Ketika tiket nya keluar dari mesin nya *sambil garuk2 kapala, ini tiket apa tutup botol aqua???*

Bentuknya bulat pipih semacam uang koin 500-an (di Indonesia). Karena udah dapet tiketnya kita langsung cuuuus dech ke stasiun Pasar Seni. Dari stasiun pasar seni kita jalan menuju China Town. China Town adalah surga belanja dan makanan. Banyak banget barang-barang dan makanan/ minuman yang dijajakan di sana. Tinggal pilih aja, harga??? Jangan khawatir, sangat bersahabat kok dengan kantong-kantong backpaker kaya’ kami.

Kebetulan kita udah booking penginapan di sekitar sana, kebayang ‘kan kalo lapar tinggal keluar trus disambut sama para penjual makanan, serasa semua makanan itu melambaikan tangan ke arah kami minta di beli *lebay dech*.

China Town di waktu malam dengan lampion merahnya [foto/itaapulina]

Sesampai di penginapan langsung dech cuci muka dan mandi, terus kami keluar lagi untuk hunting makanan. Rasanya semua makanan mau di beli, eits.. tentunya yang halal yach karena saya moslem. Tenang ajah.. penjual makanan disana akan kasih tau kalo makanan yang dijualnya halal atau tidak. Disitulah saya merasa bahagia tak perlu tanya karena kostum saya berhijab si penjualnya langsung bilang “tak halal”. Dalam hati saya bersyukur pedagangnya bersikap jujur dan sangat peduli meskipun dengan orang yang tidak dikenal.
Setelah puas makan kami kembali ke penginapan, melihat kasur rasanya bahagia banget karena tidak ada yang paling dibutuhkan tubuh ini kecuali bantal dan kasur.

Sabtu, 10 Desember 2016 kami jadwalkan untuk mengunjungi Masjid Negara Malaysia (National Mosque Malaysia) & ke Museum Kesenian Islam Malaysia (Islamic Art Moseum Malaysia). Tujuan pertama kami adalah ke Nasional Mosque Malaysia, kami keluar dari penginapan jam 8:00 waktu Malaysia ya, bukan waktu Indonesia. Sebelum pergi ke Nasional Mosque Malaysia kami harus mengisi bahan bakar dulu buat nih badan biar kuat *kuat menghadapi kenyataan hidup*..hehehe. Yang saya maksud adalah sarapan pagi, daaaaaaan… eng.. ing.. eng.. kita makan di foodcourt China Town. Menu yang saya pesan adalah nasi lemak goreng, nasinya ayam gorengnya rasanya enak pake banget dach, dan satu hal semua makanan disini porsi nya jumbo, bikin klenger.. *nulis sambil ngiler kebayang rasa nasi lemak goreng*.

Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan ke National Mosque Malaysia, dengan jalan kaki, iyyyaaaa jalan kaki. Tapi, setelah jalan kaki beberapa meter kita ketemu abang-abang yang juga orang Indonesia yang berbaik hati memesankan grab buat kami bertiga *dalam hati berterimakasih kepada Allah karena telah mengirim abang-abang baik hati* supaya si anak emak ini gak capek jalan.

Ruangan utama Mesjid Negara [foto/itaapulina]

O EM JI ongkos grab nya murah pake bingit cuma 3 ringgit doang, udah nyampe depan National Mosque Malaysia. Gak afdhol ya seorang gila kamera kaya saya tidak ambil gambar yang bertuliskan “National Mosque Malaysia” Ok.. hayyuuk langsung masuk aja ke masjidnya, eits.. tunggu dulu ada panitia penjaga masjid pemirsa. Harus menghadap dulu sama panitianya. Tenang aja, bukan untuk beli karcis (tiket masuk) karena masuk masjid negara ini gratis tis tis kok, cuma ngisi data pengunjung dan ditanya muslim or non muslim?

Sama dipinjami baju muslim semacam gamis (baju longgar) beserta khimar nya untuk wanita. Jadi, kalo mau masuk masjid negara harus menutup aurat sesuai syariat Islam. karena aku udah menggunakan gamis (baju longgar) jadi aku tidak perlu menggunakan baju yang disediakan oleh panitia masjid. Bajunya juga ada 2 warna yakni ungu muda (seperti lavender) untuk non muslim dan ungu tua untuk muslim. Pasti bertanya-tanya kenapa beda??? Ini untuk membedakan mana yang muslim dan mana yang non muslim, karena yang non muslim hanya boleh diserambi masjid saja sedangkan yang muslim boleh masuk ke dalam ruang utama. Ruang utama ini sangat luas mungkin bisa menampung ribuan jemaah.

Masjid negara ini banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara seperti Australia, Perancis, Spanyol dan negara-negara lain nya. Masjid Negara dan makam Pahlawan juga didaftarkan sebagai Warisan Kebangsaan di Kementrian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia. Desain dinding-dinding masjid yang begitu indah dengan ukiran-ukiran kaligrafi bernuansa biru hitam dan emas, dan dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang cantik serta karpet dengan warna merah bata yang cocok sehingga terlihat matching dan modern.

Masjid Negara dilengkapi dengan perpustakaan di dalamnya, ruang pertemuan (untuk tamu negara), ruang rapat dan makam pahlawan serta dikelilingi taman yang tertata rapi dan indah. Terdapat pula menara setinggi 75 meter yang puncaknya berbentuk seperti payung tertutup. Jadi cocok banget kan buat wisata religi dengan biaya yang super duper murah.

Kubah biru Mesjid Negara [foto/itaapulina]

Setelah puas muter-muter dan jeprat jepret di masjid *gak salat ya karena belum waktu nya salat*, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Art Malaysia yang jaraknya cuma beberapa meter dari masjid negara. Masuk museumnya kali ini tidak gratis, tiketnya seharga 45RM untuk 3 orang sekitar 15RM untuk 1 orangnya. Museum nya gedeeee banget ada 3 lantai, koleksinya buuuanyak banget. Namanya juga museum ya, pastinya isinya barang antik dan barang yang tua-tua banget. Koleksinya kereeeeen banget, pokoknya kalo travelling ke Malaysia wajib mengunjungi museum ini.

Kaki anak emak rasanya mau lepas kecapekan muter-muter museum, tapi belum pengen keluar dari sana. 1 hari pun sepertinya gak cukup buat muterin museumnya. Akhirnya kita keluar dari museum dan melanjutkan perjalanan kami ke Central Market. Kami menuju ke Central Market naik sepatu alias jalan kaki. Jadi, setiap ada tempat yang menarik kami berhenti hanya untuk mengabadikan gambar, apalagi aku sangat senang digambar oleh kamera.

Sepanjang perjalanan saya tidak berhenti mengomel karena kecapekan. Setelah sampai didepan Central Market kami disambut pengamen jalanan yang sedang live show disana. Menurut saya cukup menghiburlah. Central Market ini menjual bermacam-macam barang, cocok banget untuk oleh-oleh mulai dari kerajinan tangan, tas, perhiasan, baju, sandal, sepatu, cemilan, semua ada di sana. Harganya?? Tenang, tidak sampai merobek-robek dompet backpaker. Apalagi kalau pandai menawar akan dapat harga murmer (harga jongkok) alias super murah.
Setelah kami puas muter-muter untuk berburu dan telah menemukan pujaan hati.. eh salah, oleh-oleh maksudnya kami keluar dan kembali ke penginapan.

Mesjid Negara di Jalan Perdana [foto/itaapulina]

Bayangkan seorang anak emak yang hobynya tidur, nonton film India & drama Korea harus berjalan berkilo-kilo rasanya sesuatu banget. Tidak ada yang saya butuhkan malam ini kecuali salonpas dan kasur. Jangan remehkan salonpas, saya bukan endorse tapi itu sangat amatlah penting untuk dibawa ketika traveling.

Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang saya jalani dihari itu. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya pribadi, menjadi hari yang begitu indah dan menyenangkan. Saya belum bisa move on sampai sekarang dengan perjalanan mengukur jalanan kuala lumpur. Dan semoga bisa kesana kembali. Udah segitu aja ceritanya.
Wassalamualaikum.

Manipulasi Babi Panggang

0
Babi panggang Karo yang dipanggang dengan cara tradisional [foto/istimewa]

Bangun pagi, lihat di wall facebook saya, ada sebuah kiriman dari Longgena Ginting dengan judul Documenter “De Aardappeleters: Batak”.

Agak heran saya membaca judul itu karena saya tahu Longgena sangat tahu bahwa saya berada di posisi KBB (Karo Bukan Batak). Lalu, saya menonton lebih lanjut video yang dikirimnya itu. Makin heran pula saya karena itu adalah acara TV Belanda bernama De Aardappeleters (Pemakan Kentang). Saya tidak pernah menonton acara ini karena memang sangat jarang menonton TV. Itupun hanya berita sore dan sesekali film lama yang diulangi.

Video mulai dengan obrolan pembawa acara mengenai Babi Panggang. Perlu diketahui, kata Babi Panggang sudah lama populer di Belanda, diperkenalkan oleh restauran China yang berasal dari Medan. Bisa juga diketahui bahwa Babi Panggang Medan yang buatan orang-orang China Medan sudah lama terkenal sebelum merebaknya BPK (Babi Panggang Karo). Nah, orang-orang di Belanda mengasosiasikan Babi Panggang dengan Chinese Restaurant, walaupun pernah ada iklan saus babi panggang di TV yang menunjukan wilayah persawahan di Ubud, Bali.

Selanjutnya di video ini, pembawa acara pergi ke sebuah Restauran China. Pemilik restauran itu berkisah, ketika dia kuliah di China (berangkat dari Belanda), sekali waktu ibunya datang berkunjung. Dia pesan Babi Panggang karena di China dia tidak bisa temukan. “Bayangkan, saya memesan kepada ibu untuk membawa Chinese Babi Panggang dari Belanda ke China,” kata pemilik restauran itu sambil tertawa. Singkat cerita, obrolan tiba pada pembicaraan bahwa, menurut pemilik restauran itu, Babi Panggang aslinya dari Indonesia, Sumut.

Pembawa acara mengontak seorang perempuan Indonesia yang mengatakan oomnya bisa membuat Babi Panggang. “Namanya Oom Kumis. Dia tinggal di Berastagi, Kutarayat. Dia menjadi muslim sejak kawin dengan tanteku. Tapi, menurut ibu, dia masih makan babi panggang secara sembunyi-sembunyi,” kata perempuan itu tertawa.

Pembawa acara pergi ke Taneh Karo. Nampak dia berada di sebuah perladangan. Ada Oom Kumis di sana yang memotong-motong daging babi, menusuknya dengan temper dan kemudian memanggangnya di api. Oom Kumis lalu meracik “getah” dan memasaknya di api (getah adalah saos sambal uituk babi panggang Karo yang dibuat dari darah babi yang diberi bumbu dan rempah). Mereka menyantapnya dengan ceria. Bisa didengar Oom Kumis berkata BABI PANGGANG KARO. Kadang dia berbicara Inggris sepenggal-sepenggal dan kadang berbahasa Karo.

Setelah itu, pembawa acara mengunjungi Gereja Inkulturasi Berastagi dan mewawancarai Pastor Joosten. Setelah episode itu, pembawa acara pergi menemui seorang pemuda Batak yang katanya keturunan langsung penemu Babi Panggang. Dia sangat lancar berbahasa Inggris dengan tubuh penuh tattoo. Dari kata-katanya dia sangat kenal sudut-sudut Jakarta dan Pulau Jawa. Tapi, jujur saya mulai muak mendengar ucapannya.

Dia membuka kata: “Babi Panggang adalah icon Keluarga Batak.” Lalu dia cerita tentang Dalihan Natolu, kosmologi Batak yang dia kaitkan dengan tempat memasak Babi Panggang.
“Adakah resepnya Babi Panggang ini,” kata pembawa acara.
“Ada. Di Pustaha semuanya ada, mengenai apa saja. Obat-obatan, sejarah, dan apa saja, termasuk resep Babi Panggang. Itu adalah Kitab Injil Batak,” katanya berkoar-koar.
Dia mengaku keturunan langsung penemu Babi Panggang (walaupun maksudnya semua Batak adalah keturunan Siraja Batak si penemu Babi Panggang).
“Di mana saya bisa peroleh kitab itu?”
“Hai, men. In your own country. Tropen Museum,” katanya semakin petengtengan.

Di video nampak pembawa acara nantinya berkunjung ke Museum Tropen dan kurator museum itu menunjukkan sebuah kitab tanpa mereka ketahui apakah itu Pustaha atau Pustaka. Terlihat sekali bagaimana seorang Batak mengambil alih kebanggaan Karo menjadi kebanggaan Batak. Padahal, setahu saya, orang-orang Batak baru akhir-akhir ini mempunyai usaha Babi Panggang. Itupun jelas sekali rasanya sangat lain dengan BPK. Dulu mereka hanya mengenal saksang dan babi goreng. Sampai tahun 1990an, tak pernah tersedia babi panggang di rumah makanpun yang diusahai oleh orang Batak.
* * *

Dia berbuat begitu tidak akan mendapat kritik dari teman-teman sesukunya. Kalau Karo MEMBUAL seperti dia itu, sudah pasti erdengek gurungna e rambasi sesama Karo. Jangan-jangan, dengan tulisanku ini pun aku akan ditunjangi oleh sesama orang Karo.

Cuma, dia lupa terjebak oleh bualannya sendiri. Pustaha itu ditulis oleh para datu, bukan? Datu Batak berpantang makan daging babi. Konon pula menulis resep babi panggang di pustaha.
Hahahah …. ketahuan si pemuda bertato membual.

Tana Toraja: Tanah Perayaan Kematian

0
[foto/itaapulina]

Trip kali ini aku bersama dua orang teman menuju Pulau Sulawesi. Perjalanan dimulai dengan naik pesawat dari bandara Juanda Surabaya menuju ke bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Dari bandara Sultan Hasanuddin, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju terminal bus. Sesampai di terminal sudah malam, untungnya masih sempat kebagian bus. Kami naik bus terakhir yang menuju Tana Toraja. Jam 10 malam bis mulai bergerak.

Perjalanan Makasar-Tana Toraja memakan waktu antara 7-8 jam. Bus yang kami tumpangi sangat nyaman, dengan dudukan dan sandaran yang empuk, ada sandaran kaki juga. Cukup nyaman untuk melakukan perjalanan jauh. Karena sudah malam dan kelelahan, kami tertidur sampai pagi. Sekitar jam lima pagi sampai di Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara. Lalu kami menyewa mobil untuk keliling sehari di Tana Toraja. Pemilik mobil, namanya Robi adalah penduduk asli Rante Pao. Lumayan sekalian dapat guide gratis.

Karena tidak ada rencana menginap, kami minta Robi untuk mengantar kami mandi di masjid terdekat. Setelah mandi baru terasa lapar, mencari makan pagi karena sejak malam perut kami belum terisi makanan. Keesokan harinya pas mau pulang aku tersadar kalau di Rantepao ini jarang sekali tempat makan. Jadinya kami makan pagi, siang dan makan malam, dan makan pagi keesokan harinya di tempat yang sama dan dengan menu yang sama. Hahaha…

Peti-peti mati yang lapuk dan tengkorak yang sudah berusia ratusan tahun di Kete Kesu [foto/itaapulina]

Setelah mengisi perut, kami dibawa oleh Robi ke Desa Kete Kesu yang berjarak sekitar 5 km dari Kota Rantepao. Pertama kali masuk, terhampar pemandangan persawahan yang sejuk, mungkin juga karena kami datang di tempat ini terlalu pagi. Masuk ke Kete Kesu disambut dengan deretan rumah adat masyarakat Toraja, mereka menyebutnya Tongkonan.

Tongkonan dihiasi dengan ukiran yang indah disisi bagian luarnya dan berdampingan dengan lumbung padi. Di sisi depan terlihat menjulang tanduk kerbau berpasangan, semakin banyak tanduk ke kerbau yang tersusun, konon semakin tinggi status sosial pemilik rumah tersebut. Semakin banyak mempunyai kerbau, semakin kaya seseorang. Ini salah satu penyebab, mengapa harga kerbau sangat tinggi di Toraja, antara 30 juta sampai 1 M.

Kami terus berjalan menuju kuburan batu, di bagian belakang deretan Tongkonan. Sebelum menaiki tangga menuju kuburan batu, ada banyak bangunan kuburan dengan bentuk yang indah-indah. Di depan kuburan ada patung yang wujudnya menyerupai wujud asli mereka yang dimakamkan. Terbuat dari kayu, diberi pakaian yang indah dan raut wajah mereka sangat mirip dengan foto yang terpasang. Persis aslinya. Menurut Robi, harga satu patung bisa mencapai belasan juta.

Lubang-lubang di tebing batu yang sudah ditutup. Di dalamnya tersimpan peti mati berisi jenasah [foto/itaapulina]

Upacara kematian di Toraja membutuhkan biaya yang cukup besar. Mereka menyebut upacara itu dengan ‘Rambu Solo’. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal dan belum punya biaya untuk mengadakan Rambu Solo’, mereka menyimpan jenasah yang sudah diawetkan dengan ramuan tradisional di dalam rumah. Jenasah diperlakukan layaknya orang hidup. Tetap diberi makanan dan minuman, diberi pakaian. Bisa sampai bertahun-tahun, hingga keluarga yang meninggal merasa sudah mendapat waktu yang tepat dan punya biaya yang cukup untuk mengadakan upacara ‘Rambu Solo’ dan menghantarkan yang mati ke kehidupan baru.

Kuburan batu di Kete Kesu, dipenuhi tengkorak kepala dan tulang rangka manusia. Tulang belulang itu terletak di sejumlah titik. Sepanjang tangga dipenuhi tengkorak-tengkorak manusia, hingga menuju gua dan tebing batu tersebut. Tulang belulang itu dibiarkan dan terkumpul di pinggiran anak tangga. Peti mati yang terbuat dari kayu lapuk dimakan waktu.

Tengkorak dan tulang belulang itu umurnya sudah ratusan tahun. Sampai di ujung kuburan batu, ada sebuah gua yang digunakan untuk menguburkan mayat. Agar peti-peti yang ada di dalam gua dapat terlihat, diperlukan penerangan. Banyak anak kecil yang menyewakan senter untuk para pengunjung yang ingin masuk ke dalam gua. Kami hanya masuk separuh jalan, tidak tahan pengap. Udara di dalam sangat lembab dan lantai gua sangat licin.

Deretan patung kayu di depan kuburan batu di Londa [foto/itaapulina]

Puas mengelilingi kuburan batu Kete’ Kesu, kami menuju ke Gua Londa yang terletak di perbatasan antara Makale dan Rantepao, tepatnya berada di sebuah desa kecil bernama Sandan Uai. Gua Londa merupakan kompleks pemakaman kubur batu, gua ini menjadi tempat penyimpanan jenasah yang dikhususkan bagi mereka keturunan langsung leluhur asli dari desa itu. Dari gapura kompleks pekuburan, kami menaiki beberapa anak tangga hingga sampai ke kuburan batu.

Di setiap sudut banyak dijumpai peti jenazah yang memang sengaja diletakkan secara bertumpuk, karena area gua tidak cukup lagi menampung peti-peti mati yang terus bertambah. Di tebing batu banyak lubang untuk menyimpan peti-peti. Juga diperlukan lampu penerangan jika ingin masuk sampai ke ujung gua. Banyak warga sekitar yang menyewakan lampu minyak. Kesan mistis sangat terasa, tetapi dibalik itu semua pemandangan alam yang ada akan membuat kita terhipnotis dan ingin berlama-lama menikmatinya.

Keberuntungan kali ini berpihak pada kami, karena bisa melihat langsung upacara adat kematian yang disebut Rambu Solo. Upacara Rambu Solo biasanya dilakukan sekitar bulan Juni, Juli, atau Desember. Kami menyaksikan para penjagal melakukan penyembelihan puluhan babi dan kerbau secara massal. Melihat keunikan serta sakralnya budaya, adat istiadat dari Tana Toraja. Menurut keyakinan dari masyarakat Toraja hewan – hewan tersebut merupakan sarana transportasi menuju kehidupan baru bagi para arwah manusia yang meninggal dunia.

Masih menurut Robi, semakin tinggi status sosial orang yang meninggal tersebut, maka babi dan kerbau yang diterima akan semakin banyak jumlahnya. Uniknya, setiap kerbau dan babi yang disumbangkan dalam upacara besar ini biasanya dikenakan pajak potong hewan sesuai dengan perda Kab. Toraja Utara. Walaupun sebagian masyarakat masih berbeda pendapat soal pajak hewan dalam upacara adat, terlihat tétap dilakukan penghitungan nilai pajak yang harus dibayar untuk hewan-hewan yang terkumpul.

Prosesi dalam upacara Rambu Solo [foto/itaapulina]

Di depan kami jumlah babi sudah tak terhitung. Mungkin mencapai angka ratusan. Tanah merah karena darah. Udara penuh dengan bau darah. Babi dan kerbau mulai bergelimpangan. Semakin matahari meninggi, semakin banyak hewan yang berdatangan. Selain babi dan kerbau yang datang dari pihak keluarga, babi dan kerbau juga berasal dari sumbangan kerabat. Saling memberikan bantuan berupa babi atau kerbau sudah menjadi kebiasaan orang Toraja. Kerbau dibalas Kerbau, babi dibalas babi atau kerbau. Pengembalian biasanya selalu lebih besar dari yang sudah diterima.

Daging kerbau dan babi ada yang langsung dimasak untuk dimakan para tamu, dan ada juga yang setelah disembelih dan dikuliti lalu dibagikan ke desa di sekitar tempat upacara adat berlangsung. Kami bertiga ternganga melihat begitu megahnya pesta kematian ini diadakan. Mereka merayakan kehidupan baru yang akan dimasuki setelah kematian. Lebih besar dan meriah dari pesta pernikahan. Biaya yang dikeluarkan untuk pesta ini mencapai ratusan juta. Pesta biasanya digelar satu malam atau bahkan sampai tujuh malam tergantung dari kemampuan keluarga.

Bunyi-bunyian yang dimainkan dengan alu dan lesung mengiringi prosesi [foto/itaapulina]

Untuk menyemarakkan upacara dan membuat betah para tamu, biasanya dilakukan acara sabung ayam. Yang bermain di arena memasang taruhan yang cukup besar. Kadang hewan ternak, bahkan ada juga yang mempertaruhkan kendaraan. Acara sabung ayam dalam upacara adat dilegalkan di Tana Toraja, karena merupakan bagian dari adat itu sendiri. Penyelenggara upacara cukup melapor kepada polisi setempat. Jangan coba-coba melakukan judi sabung ayam di luar upacara adat, kecuali anda siap menanggung resikonya.

Mengenal Peradaban Islam Lewat Kesenian

0

Setelah mengunjungi Masjid Negara atau National Mosque di Jalan Perdana, Kuala Lumpur, aku dan kedua temanku mengunjungi Muzium Kesenian Islam Malaysia (Islamic Arts Museum Malaysia). Museum ini merupakan museum Islam yang terbesar se-Asia Tenggara. In adalah kunjungan pertama kami ke museum kebanggaan Malaysia ini.

Malam sebelumnya kami menginap di China Town. Sebenarnya untuk sampai ke museum, kita cukup berjalan kaki tidak sampai 5 km. Menyusuri jalan dan mengikuti petunjuk arah saja sudah bisa sampai, tapi kemudian kami bertiga kebingungan mencari arah. Nasib baik ketemu sama orang Indonesia yang kerja di Malaysia. Kami dipesankan grab taxi dengan biaya yang amat sangat murah, cuma 3RM (dan aku melongo dibuatnya karena saking murahnya).

Sebenarnya akses terdekat ke sana adalah dengan menaiki KTM dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Dari stasiun bisa menyeberang jalan melalui terowongan. Setelah itu tinggal berjalan kaki menyusuri jalan sampai ketemu Masjid Negara. Tidak susah menemukan museum ini, karena terletak di belakang Masjid Negara. Masih di satu lokasi. Jadi cukup berjalan kaki beberapa ratus meter saja sudah sampai di museum.

Tiket masuk ke museum ini 15RM. Kita akan diberi tiket dan semacam brosur yang menunjukkan denah dalam museum beserta koleksi-koleksi di dalamnya. Museum ini mempunyai tiga lantai.

Doa sehari-hari, bacaan di hari Kamis [foto/itaapulina]

Masuk ke galeri pertama, merupakan ruang pameran periodik. Kebetulan saat itu ada pameran surat Al-Qur’an yang merupakan doa harian dan Al-Qur’an dari abad ke-16 sampai ke-19. Di sini terpampang lembaran dengan tulisan doa harian. Ada juga Al-Quran mulai dari abad 16, dari negara China, India, dan masih banyak lagi. Koleksi Al-quran ada yang dalam ukuran kecil sampai ukuran besar. Al-Quran tersebut disimpan di dalam kotak kaca dan dilengkapi dengan pengukur suhu dan kelembaban. Terlihat di display pengukur, suhu dalam setiap kotak kaca yang berbeda-beda. Tertulis peringatan dilarang menyentuh koleksi dan mengambil foto dengan menggunakan flash.

Kitab Al-Mawlid Al-Nabawi dari Mekah, 1633SM [foto/itaapulina]

Keluar dari galeri, kami berjalan menaiki tangga dan subhanallah, ternganga melihat arsitektur kubah di dalam museum yang sangat indah. Masuk ke galeri selanjutnya juga mempunyai kubah yang indah. Setiap ruang mempunyai kubah yang berbeda-beda dan sangat indah. Ada berbagai macam karya seni dan produk budaya Islam dari berbagai masa dan wilayah yang terdapat di dalam museum ini.

Karya-karya seni dan budaya tersebut dikelompokkan ke berdasarkan jenisnya. Ada galeri arsitektur, perhiasan (jewellery), tekstil, logam, koin, kayu, keramik, perlengkapan perang, dan kitab Al-Qur’an yang ditulis pada masa lampau. Banyak sekali barang yang dipamerkan. Perlengkapan perang lengkap dari baju yang terbuat dari besi, penutup kepala, pelindung lengan, pelindung lutut sampai senjata yang digunakan untuk perang. Selain itu ada juga baju adat, hiasan kalung dan gelang untuk wanita, sisir rambut dan sisir jenggot. Bahkan alat untuk pengusir lalat pada jaman dulu pun ada. Semua barang itu dipajang didalam kotak kaca dan disimpan pada suhu dan kelembaban tertentu untuk menjaga agar barang-barang tersebut tidak mudah rusak.

Hampir di seluruh dinding di dalam museum ada papan penjelasan mengenai sejarah Islam, bagaimana kesenian dalam Islam terbentuk, dan masih banyak lainnya. Jadi dapat dipastikan akan banyak sekali pengetahuan yang bisa kita peroleh di sini. Ada juga lukisan-lukisan dan juga barang-barang dari keramik porselen yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari yang berasal dari abad 16. Selain itu ada juga sketsa perencanaan untuk membangun masjid-masjid yang dibuat oleh arsitek. Galeri yang belum sempat kami lihat adalah galeri koleksi miniatur masjid dari berbagai belahan dunia. Karena sudah terlalu capek. Museum ini terlalu besar buat kami jelajahi setengah hari. Seharusnya butuh waktu satu hari untuk berada di museum ini saja.

Senjata tumbuk lada yang dipergunakan perempuan Melayu [foto/itaapulina]

Di museum ini juga ada toko suvenir yang terletak di lantai dasar. Suvenirnya pun bervariasi dari kerajinan kayu dengan tulisan Arab hingga buku-buku dan juga pernak pernik aksesoris yang cantik-cantik. Apabila lapar, kita juga bisa singgah ke museum restoran yang ada di lantai dasar. Sayangnya kami tidak makan di tempat ini, lebih tergiur mencicipi jajanan yang ada di depan Masjid Negara.

Bagi Anda pecinta seni, budaya, atau sejarah, terutama yang berkaitan dengan Islam, museum ini harus masuk ke dalam list yang harus Anda kunjungi. Banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan di sini. Tempatnya nyaman banget dan adem. Dan ketika berada di museum, kami tidak bertemu satupun orang Indonesia bahkan kebanyakan bule yang notabene bukan orang muslim, tapi cinta akan sejarah. Ke Malaysia ga cuma harus ke mall ataupun berfoto di Petronas, itu terlalu mainstream.

Menyenangkan sekali berkeliling di dalam museum. Melihat begitu beragamnya koleksi yang dipajang di sana benar-benar terlihat begitu kayanya seni dan budaya dalam peradaban Islam yang terbentang berabad-abad lamanya. Tak hanya di Tanah Arab saja, tetapi juga dari belahan dunia lainnya.

Mengenang Pelajaran Sejarah di Kota Tua Melaka

0
Menatap Melaka dari benteng [foto/itaapulina]

Ini pengalamanku yang pertama dan seorang teman pergi ke Malaka. Seorang temanku yang lain sudah beberapa kali berkunjung ke Malaka. Pagi itu, 11 Desember 2016 kami bergegas bersiap. Dua malam sebelumnya kami bertiga menginap di homestay di daerah China Town. Kami berjalan menuju stasiun kereta KL Sentral.

Sesampai di stasiun, kami membeli tiket KTM Line (commuter) untuk menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan. Sampai di sini, rasa kagumku ga habisnya dengan model pelayanan self service. Dari mulai beli tiket dengan pelayanan mesin otomatis yang entah apa nama mesinnya, sampai jalanan di dalam stasiun yang amat sangat bersih (mungkin di sini aku terlalu lebay mendefinisikan). Tapi temanku juga merasakan, sepatu putih yang dipakai tetap putih bersih. Aku jadi mikir, aku yang ketinggalan jaman apa negaraku yang terlalu jauh tertinggal soal model transportasi umum, kebersihan, dan juga pelayanan umumnya. Kasihan sekali aku.

Perjalanan dari KL Sentral ke Bandar Tasik Selatan tidak memakan waktu lama. Belum sampai satu jam kami sudah sampai ke tempat tujuan kami. Dari stasiun kami berjalan menyusuri koridor menuju ke terminal bus karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh. Sampai di terminal, aku dibuat kagum oleh negara ini. Terminalnya hampir sama dengan bandara yang ada di kotaku. Tidak ada calo di sini. Setelah antri yang cukup lama (karena long weekend), kami bertiga menuju ke ruang tunggu bus. Akses menuju ke ruang tunggu bus udah kayak di bandara ajah. Pas waktu nunggu bus, aku memperhatikan jalanan yang disapu dan dipel sama petugas kebersihan. Itulah mungkin yang membuat sepatu kami bersih. Semua orang sadar akan kebersihan. Membuat semua tempat di sini terasa nyaman.

Perjalanan menuju Malaka kami tempuh sekitar 1,5-2 jam. Kami turun dari bus di daerah Bangunan Merah atau Staadthuys. Kami berjalan kaki sekitar kurang lebih satu kilometer menuju homestay. Sesampai di homestay, kami merebahkan diri sejenak kemudian membersihkan badan dan bersiap untuk menikmati malam dan kuliner malam di Malaka.

Kami berjalan melewati sisi Sungai Malaka menuju Jonker Walk Street (JWS). Karena kebetulan malam minggu, jadi semacam pasar malam di jalan itu. Di JWS banyak becak yang dihias warna warni dan beragam thema, ada yang dihias hello kitty, doraemon, frozen, dan masih banyak lagi. Dan becak tersebut memutar lagu dangdut (kebanyakan lagu dangdut Indonesia sih), menambah keriuhan malam. Banyak penjual cinderamata, makanan, minuman dan aku ngerasa semua di jual di sini. Padat banget pengunjung, sampai untuk berjalan kakipun kami mengalami kemacetan.

Welcome to Malacca, tertulis di jembatan yang menuju Jonker Walk

Kami direkomendasikan teman untuk mencoba makan di restoran Pak Putra khas India-Pakistan, tepatnya di Jalan Laksmana 4 Melaka. Kami berjalan terus menyusuri tepi sungai untuk sampai ketempat makan tersebut. Ditemani gerimis kecil kami terus berjalan sekitar kurang lebih 2-3 kilometer. Sampai di tempat yang dituju, masyaallah bikin lapar ini hilang. Seketika langsung badmood. Gimana ga badmood. Antrinya ngeriiiii. Banyak meja di luar resto full. Belum lagi yang berdiri menunggu meja kosong. Tapi, entah Pak Putra atau anaknya menghampiri kami, dengan sopannya beliau meminta kita untuk sabar dan segera menempati meja yang kosong kalau ada pengunjung yang sudah menyelesaikan makannya.

Sekitar 15-30 menit kami berdiri, akhirnya ada juga meja yang kosong. Kami memilih beberapa menu makanan dan minuman. Kami menunggu makanan dengan ditemani gerimis kecil (karena meja yang disediakan langsung beratapkan langit) dan juga pengamen jalanan bersuara merdu. Tak lama pesanan kamipun datang. Nasi briyani dengan kari ikan, kari ikannya beneran top rasanya. Roti naan cheese, roti gandum dengan keju lezat. Ayam tandoori, ayam panggang versi India yang rasanya menancap di lidah. Restoran Pak Putra recomended banget. Rasa badmood terbayar sudah dengan makanan yang ada di sini. Dengan rasa yang sampai detik ini belum terlupakan, dan harga yang murah banget. Akhirnya, kami kembali berjalan pulang dengan perut kenyang dan hati yang riang dan puas.

Pagi sekali di reruntuhan gereja St. Paul

Keesokan paginya, selepas subuh kami langsung berjalan ke Bangunan Merah untuk menikmati pemandangan di daerah ini. Yang pertama kami lihat adalah gereja Christ Church Melaka. Sebuah gereja besar dengan sebuah jam besar dan air mancur di depannya. Kami terus berjalan menaiki bukit dan anak tangga yang membuat kaki sedikit capek. Tapi sesampai di atas, kami disambut dengan pemandangan indah kota Malaka dari atas bukit dan reruntuhan gereja beserta patung St. Paul, nama seorang rasul dalam Injil. Begitu masuk ke gereja, kami langsung disambut dengan batu nisan yang gede-gede banget, yang ga horor sama sekali malah artistik menurutku. Batu nisan ini berdiri kokoh di dinding gereja.

Di bagian dalam gereja di sebelah tengah, ada tempat persemayaman sebelum jenazah St.Francis Xavier dibawa dan dimakamkan di India. Bangunan gereja ini masih berdiri kokoh. Puas menjelajah gereja, kamipun kembali berjalan turun. Di bawah, kami melihat ada beberapa makam orang Belanda yang punya kedudukan penting pada waktu itu. Kami melanjutkan jalan turun sampai pada akhirnya ketemu dengan benteng A’Famosa. Ketika memasuki pagar pembatas maka akan terlihat beberapa meriam yang merupakan peninggalan tentara Spanyol. Ketika memasuki benteng, seolah memasuki lorong waktu. Kami melewati kembali gereja Christ Church Melaka. Di depan gereja ada bangunan benteng dengan beberapa meriam tua yang ukurannya sangat besar. Dari dalam benteng bisa terlihat pemandangan sekitar sungai Malaka.

Menjelajah Malaka mengingatkanku dengan pelajaran sejarah ketika masih jaman sekolah, pelajaran yang sangat ga’ aku suka. Tapi dengan melihat langsung peninggalan yang ada di sini, membangkitkan sedikit memori teori sejarah yang didapat dulu. Tentang perdagangan dengan melewati sungai dan juga tentang pedagang dari Cina ataupun Gujarat. Di sisi tepi sungai ada sebuah crane untuk memindahkan barang yang dibawa oleh kapal untuk diangkut ke daratan.

Menyusuri tepi Sungai Melaka diwaktu pagi, sepi dan tenang

Karena kawasan ini memiliki banyak cerita tentang sejarah kota Melaka dimasa lalu dan sebagai salah satu kawasan tertua yang masih dihuni dan bangunannya dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia, maka kawasan ini pun diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (Malacca World Heritage).

Yang membuat Melaka menjadi salah satu tujuan wisata favorit buat turis adalah ke mana-mana dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jalan kaki menuju kemana aja, bakal ketemu tempat menarik. Cocok untuk orang yang suka hunting foto atau suka berfoto biar sekedar bisa upload foto di medsosnya. Selain dengan berjalan kaki, kita bisa menjelajah Malaka dengan menyewa sepeda. Sayangnya kami hanya sehari semalam di Malaka, jadi ga sempet puter-puter Malaka pakai sepeda. Keterbatasan waktu yang kami punya, tidak bisa masuk ke museum yang ada. Karena kami jalan-jalan masih pagi banget dan museum baru akan buka sekitar jam delapan pagi.

Puas menjelajah, kami berjalan kembali ke homestay dan bersiap pulang ke Indonesia. Di persimpangan jalan di dekat homestay, tepatnya di depan public bank, banyak banget burung merpati yg berkeliaran bebas. Seperti di film-film Hollywood yang ada di televisi. Ada seorang lelaki paruh baya berjalan kearah merpati dan menebarkan jagung. Semua merpati terbang mengerumuni lelaki tadi. Pemandangan indah yang luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Setelah berfoto, kami berjalan menuju homestay untuk mengambil peralatan yang tertinggal. Setelah itu kami berjalan kembali ke bangunan merah untuk menunggu bus yang akan membawa kami ke terminal bus. Sesampai di terminal, kami menuju bus yang akan langsung menuju ke Bandara Kuala Lumpur karena tiket sudah dibeli sehari sebelumnya. Bus yang kami tumpangi, cuma berisi kurang dari sepuluh orang. Herannya bus terus berjalan tepat sesuai jadwal meskipun dengan isi beberapa orang saja. Salut sama negara ini yang masyarakatnya menghargai waktu, menghargai turis, dan juga kebersihan yang membuat kita nyaman dimanapun di sudut negara ini.

Subuh-subuh di halaman gereja Kristus (Christ Church)

Oom, Tante… Antri Dong… Oom, Tante!

0
Tulisan di depan toilet di kedatangan di KNIA

Beberapa kali bepergian dengan berbagai moda transportasi hal-hal yang berkaitan dengan etiket penumpang atau pengguna transportasi sering menjadi amatan yang menarik. Di semua terminal baik udara maupun darat selalu saja bertemu dengan tingkah penumpang yang mampu membuat terpana tidak percaya.

Saya akan ceritakan 5 hal yang paling sering terjadi dan ini semua benar-benar saya alami atau saksikan sendiri.

1. Antri
Pengalaman terbaru saya soal antri ini terjadi di Bandara Klia Kuala Lumpur. Waktu itu setelah turun dari pesawat, saya dan teman-teman bergegas menuju imigrasi untuk mendapatkan cap di paspor. Anda tahu sendiri, antrian imigrasi di KLIA bukan main padatnya, sehingga jika ingin dapat antrian di depan harus setengah berlari menuju counter imigrasi. Demikianlah yang kami lakukan. Beruntung, kami mendapat antrian di barisan pada urutan pertama, tidak perlu menunggu segera antrian di belakang mengular.

Di tengah antrian yang sudah panjang, tiba-tiba seorang bapak setengah baya bersama 2 orang perempuan berdiri di sebelah saya dan berusaha memasuki barisan. Spontan saya berteriak,” Excuse me! I believe you cut the line!” Dia tidak peduli, untung petugas di area itu mendengar teriakan saya, lalu menarik si bapak dan 2 perempuan itu di baris belakang. Belakangan, ternyata sesama warga Indonesia. Duh!

Pernah juga terjadi di Bandara Kuala Namo. Para penumpang diminta bersiap untuk boarding ke pesawat, sayapun berdiri seperti penumpang lainnya lalu masuk ke barisan untuk pemeriksaan boarding pas. Dua orang perempuan muda, tiba-tiba saja hendak mendesakkan dirinya langsung menuju petugas pemeriksa. lalu saya tegur halus,”Dek, antri dong!” “Iyaaaa…iyaaa….duluan, duluan, takut kalipun,”kata mereka sambil mundur dengan mulut merengut.

Apa tidak malu sama diri sendiri, menyerobot antrian orang lain? Bagaimana kalau antrian kamu misalnya diserobot?

2. Sopan santun
Di semua moda angkutan selalu ada beberapa ptugas yang membantu kelancaran perjalanan. Mulai dari counter hingga pramugari dan pramugara. Di beberapa transportasi, para petugas ini juga melayani kebutuhan makan dan minum penumpang. Mereka berkeliling menawarkan atau membagikan.

Beberapa kali saya saksikan penumpang yang bersikap dan bertutur kata kepada para petugas ini jauh dari konsep kesetaraan. Seolah-olah para petugas ini adalah asisten mereka. Bahkan, paling sering lagi jarang sekali saya mendengar ucapan terima kasih setelah petugas melakukan sesuatu sesuai permintaan penumpang.

Apa tidak malu sama diri sendiri, situ berlagak bossy sama orang yang melakukan tugasnya dengan baik? Coba kalau misalnya atasan anda di tempat kerja atau dimana saja juga melakukan hal yang sama pada anda…

3. Tidak peduli
Beberapa kali pulang ke Medan tepat pada hari besar seperti Lebaran dan Natal, biasanya selalu ada kejadian dimana penumpang tidak memikirkan sesama penumpang lainnya.

Contoh sederhana: bagasi kabin di pesawat. Entah karena memang budaya oleh-oleh begitu melekat pada bangsa ini, sehingga ketika membawa buah tangan kadang-kadang kita lupa bahwa penumpang lainnya juga mempunyai hak yang sama dalam menggunakan bagasi kabin. Sering saya lihat, penumpang yang hanya membawa satu tas sampai tidak punya tempat untuk menyimpan tasnya di kabin karena sudah kehabisan tempat, kalah dengan kotak-kotak bolu dan bika.

Belum lagi, ada penumpang yang dengan sangarnya tanpa merasa bersalah menimpa bagasi orang lain yang berukuran kecil. Padahal, bisa saja isi bagasinya adalah sesuatu barang yang tidak boleh ditimpa.

Apa tidak malu sama diri sendiri, mengambil hak orang lain? Coba kalau misalnya hak anda juga diambil begitu saja oleh orang lain, bagaimana perasaan anda?

4. Tidak beradab di toilet umum
Tahu kan ya, kalau toilet umum di terminal atau bandara dipakai bersama. Di dalam toilet umumnya sudah dilengkapi dengan tempat sampah, kadang ada juga pembersih toilet dan tissue. Ada juga petugas yang membantu menjaga kebersihan dan menyediakan kebutuhan toilet.

Mengapakah para pengguna masih saja tidak mampu membuang kertas tissue ke dalam tong sampah? Apakah kira-kira yang menjadi kendala sehingga begitu sulitnya untuk membuang sampah anda sendiri, bukan sampah orang lain. Bahkan, ada yang tega tidak menekan tombol flush toilet, meninggalkan jejak dan dengan santainya melenggang keluar dari kamar toilet. Apa anda tidak kasihan kepada petugas kebersihan toilet yang mesti digaji untuk menjaga kebersihan, tetapi bukan digaji untuk membereskan kotoran anda?

Saya malu membaca notice di Bandara Kuala Namo yang berbunyi: Terimakasih Inang, sudah menjaga kebersihan toilet! Sebab, sudahpun dipajang besar-besar begitu, tetap saja jorok. Ayolah kawan, mengapa tidak bisa maju selangkah untuk menjaga kepentingan bersama?

5. Seenaknya sendiri
Di semua terminal selalu disediakan ruangan tunggu yang dilengkapi dengan kursi ataupun tempat duduk. Artinya, ruang itu memang disediakan agar penumpang dapat nyaman menunggu giliran keberangkatan.

Tetapi, seringkali ada penumpang yang ingin nyaman tetapi tidak bertanggung jawab. Kursi yang seyogianya bisa untuk berempat hanya bisa untuk satu orang karena yang satu orang tersebut tidur dengan nyamannya. Ada juga yang memborong sekaligus 2 atau 3 kursi karena menempatkan barang bawaannya di atas kursi, tidak perduli kalau masih ada penumpang lainnya yang tidak kebagian kursi.

Belum lagi, ketika selama menunggu si penumpang melakukan aktifitas makan dan minum. Biasanya sampah bungkus makanan dan minuman ataupun sisa makanan dengan riang ditinggalkan begitu saja, padahal setelah itu akan ada orang lain lagi yang menggunakan tempat itu.

Apa tidak malu sama diri sendiri, ketika anda berlaku seenaknya tetapi disisi lain ada orang yang lain yang harus menanggung akibatnya?

******

Saya hanya ingin menggugah kesadaran kita soal hal-hal yang sering kita anggap sepele. hal-hal sepele di atas jika kita lakukan bersama akan memberi dampak yang besar untuk kesejahteraan bersama pula. Please, jangan sungkan memberikan kepedulian dan mengikuti peraturan, yakinlah anda sendiri akan merasa nyaman ketika tidak perlu memikirkan strategi untuk mendapatkan keuntungan sendiri di atas kepentingan umum.