Home Blog Page 5

Festival Budaya Hong Kong: Tari Naga Api Tai Hang, tradisi tahunan yang masih mengikat warga dari semua generasi

0

ANG SAN MEI. HONG KONG. Tai Hang dahulu hanyalah sebuah perkampungan masyarakat Cina Hakka, yang kebanyakan mencari nafkah sebagai petani atau nelayan. Pada akhir abad ke-19, sebuah wabah penyakit yang mematikan menyerang perkampungan ini dan mengambil nyawa banyak penduduk desa. Menurut cerita rakyat yang beredar, Buddha berkata kepada ketua adat desa untuk melakukan Tari Naga Api (Fire Dragon Dance) dan membakar petasan untuk menghentikan wabah tersebut.

Berita Foto: GUBSU DIKELILINGI GADIS-GADIS NIAS CANTIK

0

ADINDA DINDA. TELUK DALAM. Ada yang menarik dalam rangkaian puncak acara Hari Keluarga Nasional Tingkat Provinsi Sumut yang dilaksanakan di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan [Rabu 13/9: Sore]. Di sela-sela acara yang dihadiri langsung oleh Gubsu (T. Erry Nuradi) itu diisi penampilan hiburan paduan suara dan atraksi lompat batu yang mengundang decak kagum hadirin.

Kunjungan ke Desa Bunga, Madirsa

0

Oleh: Bastanta Permana Meliala

 

Madirsan adalah salah satu pusat pembibitan dan pasar (penjualan) bibit tanaman baik bunga maupun buah di Sumatera Utara. Kawasan yang tepatnya terletak di Gang Madirsan, Desa Bangunsari (Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang) ini cocok untuk dikunjungi bagi Anda penyuka tanaman bunga maupun buah, karena Madirsan merupakan surganya tanaman bunga dan buah di Sumut.

Mendaki Puncak Gunung Papandayan

0

Oleh: Emmy Flora Purba

 

Hari ini [Sabtu 2/9], saya memilih Kota Garut sebagai tempat tujuan wisata di long weekend ini. Sudah sejak lama saya penasaran dengan kawah Papandayan yang saya dengar dari cerita keluarga dan teman-teman yang sudah pernah ke sana.

Gurukinayan Sekian Tahun Lalu (Kenangan Kaki Sinabung)

0

Oleh: Ita Apulina Tarigan

 

Suatu senja di kaki Gunung Sinabung, Desa Gurkinayan (Kecamatan Payung, Kabupaten Karo) di bulan Oktober 10, 2010. Mereka masih tersenyum walau abu Sinabung kerap menerpa. Masih tertawa walau ladang, tanaman dan ternak tidak lagi menghasilkan seperti dulu.

Persoalan Harga Jeruk Karo

0

Oleh: ITA APULINA TARIGAN

 

Tiga hari lalu [Rabu 16/8], saya pergi ke sebuah retail yang khusus menjual buah dan sayur-sayuran di Tangerang. Retail ini biasa saya kunjungi karena buka sampai malam. Buat pekerja yang berangkat pagi pulang malam adanya retail ini cukup membantu.

Deli, Antara Mitos Dengan Fakta Ilmiah – Bag. 1

0

Ada beberapa persepsi mengenai Deli serta hubungan Melayu dengan Karo di Deli yang sangat didasarkan pada mitos dan propaganda kolonial yang tidak pernah diuji keabsahannya secara ilmiah. Salah satu diantaranya adalah persepsi bahwa Karo pendatang di Deli dari Dataran Tinggi sehingga terasa logis bahwa Karo itu adalah memang betul Batak yang menyebar ke Dataran Rendah. Kalau memang itu benar, sejak kapan itu terjadi?

Rethinking Nangkih – Bagian 2

0

Orang Karo hidup di dalam 2 dunia dengan sistim sosial yang berbeda satu sama lain. Dalam ERDEMU BAYU maka terjadi sebuah pergerakan seorang LAKI-LAKI ASING dari luar KUTA memasuki kuta untuk diintegrasikan menjadi ANAK KUTA lewat sebuah RUMAH. Perhatikan siapa saja yang menerima TUKUR dari erdemu bayu (DASAR):
1. Batang Unjuken (ibu si perempuan) sebut saja M (Mother)
2. Singalo bere-bere (mami si perempuan) sebut saja MBW (Mother’s Brother’s Wife)
3. Sirembah Kulau (bibi turang bapa si perempuan) sebut saja FZ (Father’s Sister)
4. Singalo perbibin (bibi senina nande si perempuan) sebut saja MZ (Mother’s Sister)
Catatan:
1= Indung Sukut Sembuyak Sinereh
2= Indung Kalimbubu Sinereh
3= Indung Anak Beru Sinereh
4= Indung Senina Sinereh
Kesimpulan: Singalo tukur yang empat itu adalah sangkep nggeluh sinereh atau disebut juga batang daging dari jabu pengantin.
—————————
5. Singalo Perkempun (ibu dari ibu si perempuan) sebut saja MM (Mother’s Mother)
6. Singalo Perninin (ibu dari ayah si perempuan) sebut saja FM (Father’s Mother).
Catatan: Keenam ibu-ibu ini adalah yang menerima KAMPIL KEHAMATEN. Nomor 5 disebut juga SOLER (oler= aliran) dan nomor 6 BINUANG (yang menuangkan cairan logam/ cimpa ke cetakan/ belanga)
—————————
7. Singalo Ulu Emas (turang dari ibu si pria) sebut saja MB (Mother’s Brother).

Ini yang saya tampilkan adalah bentuk dasar. Di Karo Jahe masih ada lagi Perbapatuan dan Perbapangudan, Perseninan dan lain-lain. Tapi semuanya dapat ditarik ke bentuk dasar itu.

Mari kita kaji secara perlahan. Nomor 1 – 6 adalah semuanya dari pihak perempuan dan keenamnya perempuan, sedangkan nomor 7 adalah dari pihak laki-laki dan dia sendiri adalah laki-laki.

Hubungan pengantin dengan nomor 1 – 4 adalah hubungan antara mereka dengan sebuah Rumah Si Empat Jabu yang masing-masing “dikuasai” oleh seorang perempuan. Rumah ini adalah rumah perempuan. Erdemu Bayu adalah mengintegrasikan jabu dari pengantin ke kuta perempuan melalui sebuah rumah adat yang kalau di Taneh Pinem disebut juga perkawinan Arah Rumah. Erdemu Bayu dus adalah UXORILOCAL (tinggal bersama lokalitas perempuan).

Mari kita periksa nomor 7. Hubungan terpenting adalah antara ibu dari pengantin laki-laki dengan turangna (mama pengantin laki-laki). Maka kita dapat hubungan antara ANAK DILAKI dengan ANAK DIBERU dari sebuah keluarga yang berasal dari SADA MBUYAK. Dalam hubungan ini, semua ANAK (terserah dilaki atau diberu) adalah SEMBUYAK, tapi satu diantara perempuan yang sedang erkerja dianggap sebagai BERU (tunas/ kecambah) yang membawa pertumbuhan baru untuk SEMBUYAK.

Organisasi sosial yang terbatas pada hubungan antara SEMBUYAK dengan ANAK BERU hanya kita dapati di BARUNG-BARUNG, bukan di KUTA yang mewajibkan kehadiran dari keempat SANGKEP NGGELUH. Lewat NANGKIH maka perempuan diintegrasikan ke dalam BARUNG pihak si laki-laki. Maka pekawinan NANGKIH adalah VIRILOCAL (tinggal di tempat laki-laki).

Pertanyaan, mengapa setelah erdemu bayu kedua pengantin ke tempat orangtua si laki-laki dan di sana diadakan acara AMAK DABUHEN? Pergerakan ini bukan mengeluarkan kedua pengantin dari KUTA si perempuan karena barung silaki-laki sudah dianggap berada di DALAM wilayah KUTA siperempuan. Itulah dia fungsi dari pelunasan ULU EMAS. Pihak pengantin perempuanlah yang keberatan bila tidak dilunasi ULU EMAS karena itu artinya, barung-barung pihak si laki-laki belum menjadi bagian dari KUTA pihak perempuan.

NANGKIH adalah perjabun VIRILOCAL dan ERDEMU BAYU adalah DOUBLE LOCALITY: uxorilocal + virilocal.
Hubungan dasar di Barung adalah TURANG, makanya nangkih si perempuan di bawa ke rumah bibi turang bapa.
Oleh karena itu, Karo mengenal 2 jenis tradisi: TRADISI BARUNG dan TRADISI RUMAH. Di masa pre kolonial ada 2 pengulu: Pengulu Silebe merdang (pengulu barung) dan Pengulu Kuta. Belanda hanya menetapkan Pengulu Kuta dan mengabaikan Pengulu Silebe Merdang yang mengurus pertanian dan Buahuta-uta (Keramat kuta).
MEJUAH-JUAH MAKESA. (Habis)

*Tulisan ini ditulis pertama sekali ditayangkankan di Facebook group Jamburta Merga Silima, 25 February 2017

Rethinking Nangkih – Bagian 1

0

Jika orang di luar bertanya kepada seorang Karo: apa itu NANGKIH? Biasanya dijawab dengan singkat NANGKIH = KAWIN LARI. Padahal di Karo yang disebut kawin lari itu biasanya dikatakan KIAMKEN. Jadi, apa sebenarnya nangkih ini?

Menurut Rita S. Kipp dalam desertasinya The Ideology of Karo Kinship (1976), nangkih adalah pre wedding. Benarkah demikian halnya? Mari kita periksa satu per satu realitasnya dari beberapa pernyataan di bawah ini. Pernyataan ini saya cuplik dari komentar-komentar member di facebook group JAMBURTA MERGA SILIMA.

Jusim Goera mengatakan: Biasana kalak erjabu nangkih lebe perbahan lit salah sada pihak la senang ibas perjabun e. Adi radu-radu senang biasana la pe nangkih banci nge, adi radu senang, maka i kataken ercakap cakap, guna i bahan perjabun.

Pernyataan Jusim Goera menunjukkan bahwa NANGKIH bukan pre wedding.

Rony Roman Riquelme Itings: Nangkih ningen ei, ibabaken. Adi nggo babaken ningen go banci bebeken, ei maka anak beru je si ngerungguisa.

Satu poin penting dari pernyataan ke dua adalah bahwa, dengan NANGKIH, sepasang kekasih (lovers) sudah bisa melakukan hubungan suami istri dan seterusnya hidup bersama anak-anak mereka.

Nangkih tidak sama dengan KAWIN LARI. Ada syarat-syarat yang harus dilakukan untuk melakukan nangkih:

1. Si perempuan harus meletakkan sehelai daun sirih di atas beras yang akan dipergunakan oleh ibunya untuk memasak di pagi hari. Bila ibunya menemukan daun sirih ini, maka dia sudah tahu seorang putrinya melakukan nangkih. Terkadang orangtua sendiri yang menganjurkan putrinya untuk melakukan nangkih bila dianggap si laki-laki belum mampu mengadakan kerja erdemu bayu.

2. Sesaat kedua kekasih tiba di rumah bibina, serta memberitahukan ke bibi bahwa mereka mengadakan nangkih, maka anak beru senina pihak laki-laki berangkat ke rumah orangtua pihak perempuan dan menyatakan telah mengakui/menjamin kedua kekasih mengadakan nangkih. Senang atau tidak senang, tidak ada alasan pihak perempuan menyerang pihak laki-laki kecuali dia tidak takut akan terjadinya perang antar kuta.

Dari sebuah survei yang saya lakukan di tahun 1989, ternyata lebih 80% pasangan suami istri yang “kawin” di tahun 1930 – 1960 hanya melalui NANGKIH. Di tahun 1970an – 1980an banyak yang NDUNGI KERJANA/ ADATNA melalui sebuah ritual yang berjudul NGELEGI PEREMBAH MAN KALIMBUBU. Belakangan, ritual-ritual seperti ini semakin menyusut dan sekarang sudah mulai langka sekali. Ngelegi perembah/ bayang-bayang memang masih banyak dilakukan, tapi bukan lagi sebagai alasan untuk NDUNGI UTANG PERJABUN.

Artinya, terjadi peningkatan jumlah perkawinan yang langsung IDUNGI ADATNA alias LUNAS atau TUNTAS yang di dalam surat undangan biasanya disebut ERDEMU BAYU. Mengapa kecenderungan ini terjadi? Dulu tidak dianggap penting sekali ndungi adat perkawinan.

Setelah saya amati secara cermat, memang lebih menguntungkan tidak usah dibayar lunas dulu utang perjabun. Itu bisa dilunasi nanti saat anak pertama mereka menikah atau mengket rumah atau saat kematian dan bahkan ada yang dilunasi melalui NGAMPEKEN TULAN-TULAN. Jadi, menghemat biaya kerja. Ini sama dengan punya kartu kredit atau ATM yang kam bisa pakai terus menerus walaupun khas kosong alias ngutang ke bank.

Maka, saya menarik kesimpulan bahwa NDUNGI UTANG PERJABUN itu lebih banyak desakan agama daripada desakan adat. Dalam pandangan modern serta agama-agama dari luar, NANGKIH belum sepenuhnya sah. Apalagi di dalam Kristen, belum IPASU-PASU di gereja dianggap belum direstui Dibata, sedangkan untuk pasu-pasu itu rasanya janggal kalau bukan sekalian NDUNGI ADATNA.

Mungkin sidang pembaca melihat lain penyebabnya, tapi untuk sementara saya berpikiran begitu. Mengapa orang-orang dulu merasa tidak sangat terdesak untuk melakukan perkawinan erdemu bayu?

(Bersambung ke Bagian 2)

Lembah Kesedihan: Ketika Ideologi Memisahkan Aku, Kau dan Kekasih Kita

0
The Lowland Books

Judul Buku: The Lowland
Penulis : Jhumpa Lahiri
Terbitan : Bloomsbury Publishing, Great Britain
2013 – 339 pages

Ini hanya sebuah catatan setelah membaca novel ‘The Lowland’ yang menghanyutkan, menghanyutkan saya menjadi tidak punya rasa. Ya, novel ini memang mengisahkan tokoh-tokohnya yang mematikan rasa agar bisa bertahan hidup, tidak saja oleh karena penderitaan fisik, tetapi juga karena penderitaan bathin.

Buku ini berkisah tentang 2 bersaudara yaitu Udayan dan Subash, yang tinggal bersama keluarganya di wilayah sub-urban di Kalkuta. Umur mereka tidak terpaut jauh, membuat keduanya menjadi sahabat, bersekolah bersama dan bertualang ala anak kecil bersama. Bab pertama diawali dengan ingatan Subash, sang adik tentang masa kecil mereka ketika menyeludup ke dalam sebuah klub mewah di Kalkuta untuk memungut bola-bola golf yang ditinggalkan bule-bule Inggris di lapangan golf club itu. Hanya bule-bule Inggris dan warga Kalkuta kelas atas yang diijinkan menjadi member club.

Ayah mereka adalah pegawai jawatan kereta api dengan penghasilan pas-pasan, sedikit di atas rata-rata warga Kalkuta lainnya. Walaupun begitu, orangtua mereka punya semangat yang luar biasa untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga ke universitas. Mereka berhasil masuk universitas dan termasuk mahasiswa yang pandai. Namun, universitas jualah yang mengubah jalan hidup mereka sekeluarga. Universitaslah awal takdir hidup yang dijalani hingga mati bagi setiap tokoh.

Udayan, seorang pemuda yang berkharisma dan selalu dituntun oleh perasaannya. Di masa kuliah dia berkenalan dengan gerakan komunis India yang dikenal dengan Gerakan Naxalite, gerakan yang menuntut pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan sosial dan kemiskinan. Aktifitasnya di gerakan ini membuat dia terseret jauh dan terlibat dalam. Ketika Udayan menyelesaikan kuliahnya dia memilih hidup sederhana menjadi guru agar bisa tétap aktif dalam organisasi, pilihan yang membuat orangtuanya kecewa karena seharusnya Udayan dapat menghasilkan banyak uang dengan memilih pekerjaan lain dan membantu menaikkan taraf hidup keluarga.

Jhumpa Lahiri, penulis novel The Lowland.

Subash adalah tipikal pemuda yang tenang dan pandai mengendalikan diri. Ketika kakaknya memilih menjadi guru, dia bertekad keluar dari India dan bersekolah di Amerika. Dia berhasil mendapatkan beasiswa dan diterima di sebuah universitas di Rhode Island. Subash berusaha menyadarkan Udayan, bahwa masa depan akan lebih baik jika mereka bersekolah ke luar India. Tapi, Udayan menuduhnya sebagai manusia yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli kepada sesama saudara sebangsa yang ditindas dan menderita. Dalam hati Subash merasa kalah dengan keberanian kakaknya yang berani memilih jalan hidup yang tidak populer di kalangan masyarakat India saat itu.

Merekapun berpisah, memilih jalan sendiri-sendiri. Tinggal berjarak beribu mil, belum ada telepon. Hampir tidak pernah berkomunikasi, hingga kemudian suatu hari Udayan mengabarkan lewat surat tentang pernikahannya dengan gadis pilihannya sendiri. Lagi-lagi tidak seperti lelaki India umumnya, dimana ibu mereka akan memilihkan perempuan dan menjodohkan mereka.Pilihannya adalah seorang gadis independen, pintar dan hobi membaca, intelektual dan sarjana filsafat. Subash merasa kalah sekali lagi dengan kakaknya yang berani melawan tatanan sosial.

Dua tahun di Rhode Island, akhirnya Subash pulang ke Kalkuta karena sebuah telegram yang dikirimkan ayahnya yang mengabarkan tentang kematian Udayan. Perjalanan sendu, tidak seperti yang dibayangkannya. Subash merasa suasana rumah mereka berbeda. Ayah dan Ibu yang tidak menyambutnya dengan gembira, kakak ipar yang lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu membaca buku dan yang paling menyakitkan tidak seorangpun yang berbicara kepadanya tentang kematian Udayan. Subash tidak tahan lagi, dia menanyakan langsung kepada Gauri, istri Udayan. Dalam remang subuh, Gauri menceritakan kematian Udayan yang tragis. Polisi yang sudah lama mencurigainya berperan di banyak kegiatan propaganda Gerakan Naxalite, mereka mencarinya kemana-mana. Polisi menangkap Udayan di rumah orang tua mereka dan menggiringnya keluar. Lalu, di lembah di depan sana, di seberang rumah, beberapa peluru menghabisinya di depan Gauri, Ibu dan Ayah.

Dalam beberapa hari, Subash menangkap ketidaksukaan orangtuanya terhadap Gauri yang tengah mengandung anak Udayan. Dia ingin menyelamatkan Gauri. Subash menikahi Gauri dan membawanya ke Amerika. Gauri melahirkan Bela, tetapi tidak bisa mencintai Subash dan Bela sebagaimana seharusnya seorang istri, seorang ibu. Gauri meninggalkan mereka dan menempuh karir sebagai professor filsafat di Amerika. Subash merawat dan membesarkan Bela sendirian. Mereka tidak bercerai, tetapi juga tidak bersama hingga ajal menjemput.

Secara umum, konflik antara Udayan dan Subash seolah mewakili konflik ideologi komunis dan liberal. Mereka abang dan adik, mereka bersaudara. Penganut ideologi komunis dan liberal adalah bersaudara, mereka berdua adalah rakyat India. Bukankah hal yang sama juga jamak dalam masyarakat lain di dunia, di sekitar kita?

Tetapi, yang membuat konflik dalam buku ini menjadi menarik adalah kehadiran tokoh Gauri. Perempuan yang awalnya terpesona dengan kharisma Udayan yang revolusioner, ternyata akhirnya membawanya kembali ke dalam rumah, seperti perempuan-perempuan lain di India. Pendidikan ilmu filsafat yang dijiwainya dengan kemerdekaan memilih, menjadi diri sendiri, mentah di tangan laki-laki yang dicintainya. Dalam beberapa bab dikisahkan, bagaimana Gauri dimanfaatkan untuk melancarkan gerakan bawah tanah kaum Naxalite, tanpa dia sendiri menyadari apa yang sedang dia lakukan.

Ketika Subash membawanya ke Amerika, dia hanya berpikir mengurangi beban keluarga mertuanya, bukan karena mencintai Subash. Justru di Amerika dia bergaul kembali dengan ilmu filsafat dan akhirnya menemukan jalannya sendiri, yaitu memilih menjadi feminist dan mengembangkan karirnya menjadi pengajar filsafat. Dia meninggalkan anak dan suaminya tanpa merasa bersalah sedikitpun, berjuang terus hingga di puncak karirnya.

Bela kemudian membenci ibunya, Gauri. Seperti ibunya dia juga tidak mau mencari kabar keberadaan ibunya. Bela pessimist dengan institusi rumah tangga, memilih melahirkan anaknya tanpa suami, memilih membesarkan anaknya sendiri.

Jhumpa Lahiri dan The Lowland

Konflik kelompok masyarakat selalu di dua sisi, hitam putih, komunis liberal, atheis religius dlsb. Umumnya kedua kelompok ini selalu dalam bayangan gambar maskulin. Perempuan hanya menjadi penari latar panggung untuk membuat dekorasi pertunjukan pertarungan menjadi lebih menarik. Tetapi, Jhumpa Lahiri dalam novel ini menampilkan Gauri, sebagai metafor kelompok perempuan yang kemudian menyadari bahwa dia juga punya pilihan ingin menjalani hidup seperti yang diinginkannya. Secara individu Gauri bersalah karena meninggalkan keluarganya demi hidup yang dicta-citakannya, tetapi secara kelompok Gauri juga berhak menentukan pilihan sendiri seperti 2 kelompok maskulin tadi, tanpa harus bergabung di salah satu kelompok yang terus bertarung.

Membaca novel ini, saya larut dalam kepedihan hidup para tokoh, mereka lawan pedih dengan menjalani pilihan hidup dengan ikhlas. Saya bergetar ketika di ujung hidupnya, tatkala Udayan menatap wajah Gauri sebelum dibawa polisi, tiba-tiba dia menyadari bahwa sesungguhnya dia lebih membutuhkan Gauri daripada sebaliknya. Saya layu, ketika Subash memilih tidak menikah lagi dan membesarkan Bela semampunya seperti anaknya sendiri, dan menjadi lelaki yang dingin. Kita bisa merasakan penderitaan Gauri bertahun-tahun ketika tidak bisa memilih melakukan apa yang dia sukai, lalu merdeka mendapatkan apa yang dia mau tetapi harus mengorbankan keluarganya.

Pada akhirnya kehidupan mereka timpang, karena seorang Gauri, seorang perempuan, seorang ibu, seorang kekasih. Seandainya saya bisa mengatur jalan cerita, barangkali, ya barangkali, Gauri masih bersama mereka ketika dia diberi kebebasan mengerjakan cita-citanya, hal-hal yang disukainya, ketika dia diberi peran turut memberikan warna pentas pertunjukan kehidupan, bukan sekedar penari latar yang muncul sesekali sesuai tuntutan skenario.