Home Blog Page 7

Cuaca Buruk Hempaskan Seekor Rusa di Dataran Tinggi Karo

0

Hujan diiringi angin kencang sejak akhir tahun lalu membuat akses jalan sulit dilalui di beberapa daerah di Dataran Tinggi Karo. Banyak jalan longsor, pohon besar tumpang menutupi badan jalan. Peristiwa ini juga terjadi di daerah Kecamatan Kuta Buluh Simole (Kabupaten Karo). Jalan ke Desa Amburidi (Kecamatan Kuta Buluh Simole) sangat sulit dilalui.  Kendaraan roda empat tidak bisa melewati jalan.

Warga kesulitan ke pekan untuk membeli kebutuhan pokok dan menjual hasil bumi, yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh ke pekan atau kecamatan. Dalam keadaan kondisi cuaca yang baik, Kutabuluh – Amburidi dapat ditempuh antara 45 menit hingga 1 jam dengan sepeda motor. Namun, dengan keadaan jalan yang kurang baik dan peristiwa alam yang tidak bersahabat, jalan ini sangat sulit dilalui. Waktu tempuh bertambah, bisa sampai 1.5 jam atau bahkan 2 jam.

Mobil angkutan pedesaan jumlahnya tidak terlalu banyak. Rombongan kami terpaksa memakai jasa RBT atau ojek. Jalan licin, longsor kanan dan kiri membuat sepeda motor berjalan sangat lambat dan berhati-hati. Berkali-kali saya harus turun dari boncengan di tempat yang sulit dilalui sepeda motor dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Tepat di perbatasan perladangan antara kampung Kuta Male dan Amburidi, terlihat 2 orang di badan jalan terduduk bersama seekor rusa yang cukup besar tergeletak di jalan. Melihat peristiwa yang cukup unik dan sebelumnya tidak pernah saya temui tentu membuat saya terheran-heran dan menyuruh ojek untuk berhenti sebentar. Setelah saya tanya mengapa rusa ini berada di badan jalan dan mati, jawab mereka rusa ini terjatuh dari bukit atau tebing.


Wah…. sekali lagi saya terkejut dan langsung mendekati rusa, mengamati badan rusa dan bekas luka. Saya beranggapan, jika rusa ini hasil buruan tentu bekas luka sangat jelas terlihat. Bak seorang dokter hewan, dari kaki hingga badan saya perhatikan keadaan rusa. Tak ada bekas luka. Hanya bagian muncung hingga di kepala ada memar, yang menurut mereka bekas luka terjatuh dari tebing terkena bebatuan, hingga jatuh ke tepi jalan.

“Sayang sekali,” kataku. Rusa ini sudah mati, jenis rusa ini dilindungi dan mereka juga tahu itu. Lantas, jika keadaan seperti ini, tentu tidak ada yang bisa disalahkan. Mereka yang menemukan rusa rencananya akan pergi ke pekan untuk belanja kebutuhan pokok, tanpa sengaja menemukan rusa itu.

Sepanjang perjalanan saya terus terheran-heran, hingga akhirnya sampai di perkampungan Desa Amburidi, saya selalu mengulangi percakapan yang sama, tentang rusa itu. Menurut pengakuan warga, di beberapa perbukitan kampung mereka ada banyak rusa seperti itu. Masyarakat pengerajin keranjang dari rotan sering menemukan keberadaan rusa di hutan saat mereka mencari rotan bahan keranjang khas Karo.

Harimau juga masih ada. Ada kemungkinan rusa yang mati itu dikejar harimau, rusa berlari menghindar hingga terjatuh, diperparah lagi dengan keadaan tanah longsor. “Wow…” kataku lagi mendengar asumsi warga desa tentang kemungkinan sebab-sebab kematian sang rusa.

Populasi keberadaan rusa masih terjaga dan cukup banyak jumlahnya, hanya sebagian kecil yang mengalami kesialan mati dan terjatuh. Hebatnya, warga sudah tidak memburunya lagi sekarang ini. Warga lebih terpusat ke pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Jalan Medan – Berastagi: Macet Tragis

0
Longsor Sibolangit Km.37 [2/1]

Di Medan, libur tahun baru biasanya berkaitan erat dengan hari Natal. Dua event besar ini adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga, silaturahmi dan pulang kampung alias mudik. Orang-orang Karo yang asalnya dari Gugung pasti akan pulang kampung lewat jalur Medan-Berastagi ini. Tidak hanya orang Karo, tetapi juga mereka yang berasal dari Dairi, Pakpak Bharat dan Aceh Tenggara. Bisa dibayangkan seperti apa padatnya lalu lintas di jalan propinsi ini.

Tiap tahun selalu saja terjadi macet yang luar biasa di jalur ini. Medan – Berastagi dalam kondisi lalu lintas normal bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit. Dalam kepadatan hari raya seperti Natal dan Tahun Baru waktu dibutuhkan bisa mencapai 5-8 jam. Bayangkan!

Kemacetan ini selain karena padatnya lalu lintas juga disebabkan oleh pengendara yang seenaknya sendiri, serobot sana sini, tidak mengindahkan marka jalan. Kelakuan pengemudi yang tidak taat aturan akan mengakibatkan semakin semrawutnya situasi jalan.

Keparahan situasi jalan ini sepertinya semakin meningkat setiap tahun. Kejadian terhangat adalah kemacetan tragis di tanggal 2 Januari 2017 yang baru lalu. Ada pengguna jalan yang menghabiskan waktu dijalur ini hingga 20 jam.

Keluarga Girsang yang terjebak macet parah pada tanggal 2 Januari itu mengatakan,”Kami berangkat dari Kabanjahe pukul 4 sore, sejak pukul 7 malam kami sudah tidak bergerak lagi di Sibolangit. Kami dengan 3 anak kecil harus bermalam di jalan tanpa bekal makanan. Akhirnya, pukul 5 pagi, kami sudah mulai bergerak merayap pelan-pelan, hingga akhirnya sampai di Medan pukul 9 pagi.”

Bayangkan betapa repotnya terjebak macet di tengah malam dengan anak 3 orang. ketika saya tanyakan bagaimana mereka mengatasi lapar, mereka beli apa saja yang dijual warga di sepanjang jalan yang bisa mereka temui.

Dari foto-foto yang beredar di medsos, yang diumumnya diupload para pengguna jalan, terlihat lokasi sumber macet longsor, jalan dipenuhi Batu dan pohon-pohon. Petugas semakin sulit membersihkan jalan karena tidak memungkinkan untuk membawa masuk alat berat ke lokasi. Seiring waktu, jumlah kenderaan semakin banyak dari kedua arah.

Sementara itu, Hesron Girsang Sekcam Sibolangit saya lihat tidak henti-hentinya aktif di media sosial menyampaikan situasi terkini jalan raya. Dia berada di lokasi. Hingga jam 3 pagi, saya masih lihat beliau berkomunikasi lewat medsos dan menjawab dengan sabar pertanyaan orang-orang yang disampaikan lewat kolom komentar. Berkali-kali dia mengingatkan, bahwa jalan sudah dibuka dengan sistem buka tutup, tetapi sebaiknya ditunda dulu perjalanan menuju Medan atau Kabanjahe. Alasannya, petugas perlu menguraikan kemacetan yang sudah berlangsung lebih dari 6 jam.

Tetapi sepertinya, peringatan Pak Sekcam tidak ditanggapi serius oleh pengguna jalan. Masih saja ada yang nekad mencoba menuju Kabanjahe pada tanggal 3 dinihari. Alhasil, mereka memang sampai di rumah dengan selamat tetapi membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam.

Muspika Sibolangit memang tidak main-main soal peringatan terhadap pengguna jalan. Mereka memasang peringatan berbentuk spanduk yang bertuliskan himbauan agar para pengendara tidak saling menyalip. “Sepertinya mereka tidak peduli. Perkiraan kami, jika tidak ada yang saling mendahuli walau pelan merayap Medan-Berastagi bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Tetapi ketika pengendara saling berlomba, 6 jam sampai di Berastagi ya, wajar saja,” ungkap Hesron.

Peringatan yang disampaikan Muspika ini tidak hanya untuk kenyamanan para pengguna jalan tetapi juga terkait dengan aktifitas sehari-hari warga Kecamatan Sibolangit. Kini, banyak warga yang mengeluh setiap ada libur akhir pekan dan hari besar terkait dengan padatnya arus lalu lintas. Mereka tidak bisa pergi ke laçant, ke pasar, sekolah dan melakukan kegiatan lainnya. “Ada yang berkata, dikala macet warga Siboangit beruntung karena dagangan mereka laku, tetapi berapa persenkah warga yang melakukan aktifitas dagang di pinggir jalan raya? Sama sekali tidak sebanding dengan kerugian yang kita dapat,”jelas Hesron lagi.

Longsor yang terjadi di Km 37 Desa Sibolangit, Senin[2/1] lagi-lagi melibatkan warga untuk membereskannya. Muspika bersama warga menyingkirkan kayu dan memindahkan batu dengan tambang, sampai kemudian sepeda motor dapat lewat. Setelah sepeda motor dapat lewat, polisi dan Muspika melakukan sistem buka tutup untuk mengurai kemacetan. Setelah itu, baru kemudian alat berat masuk untuk membersihkan longsoran. Bukan hanya itu, panjangnya kemacetan yang mencapai hampir 20 Km membuat sampah di sepanjang jalan berserakan. Mulai dari bungkus mie instant hinge kemasan air mineral. “Yah..mau bagaimana lagi, kita bersihkanlah,” ungkap Muspika Sibolangit.

Hujan akhir tahun yang terus menerus mengguyur kawasan Sibolangit diduga menjadi penyebab longsor ini. Kayu-kayu yang jatuh turut serta membawa batu-batu tebing turun ke jalan. Jalan Jamin Ginting adalah jalan propinsi dan kiri kanan jalan avalan kawasan huyan lindung sehingga dibutuhkan kerjasama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Sumut untuk memantau pohon yang rawan longsor. “Di kawasan hutan lindung kita tidak boleh menebang kayu sembarangan. Kayu longsor yang sudah kita potong juga tidak boleh dibawa pulang, karenanya perlu sekali keterlibatan Dinas Kehutanan di sini,” terang Hesron lagi.

Ketika Lidah, Paru dan Hati Bersatu di Jo Andah

0

Salah satu kuliner khas Medan itu adalah sate padang. Biar merupakan masakan khas Padang, tetapi di kota Medan bertaburan pedagang sate padang. Dimanapun di sudut kota ini tidaklah susah menemukan masakan Padang yang satu ini.

Kuahnya yang kental menguning emas, bawang goreng yang semakin harum ketika ditaburi di atas kuah panas berasap. Seperti sore ini, hujan-hujan dan mendung, saya dan Rini singgah ke Sate Padang Jo Andah di Jalan Setiabudi. Kebetulan rumah sobat saya ini persis bersebelahan dengan Jo Andah. Dulunya, saya sebut dulu sekitar 10 tahún yang lalu, Jo Andah belum mempunyai kedai seperti sekarang. Adanya di depan ruko yang lokasinya berseberangan dengan kedai yang sekarang. Pakai tenda dan selalu ramai pembeli.

Kuah sate Padang yang selalu berasap karena tetap dipanasi dengan arang

Kedai yang sekarang juga masih rame. Sepertinya menunya semakin banyak. Dulu favorit kami adalah sate lidah lembu yang lembut empuk. Sekarang, selain lidah ada sate paru, jantung dan usus. Kalau daging lembu dan ayam sudah wajib hukumnya. Setelah sekitar 3 tahun tidak merasai sate Jo Andah, hari ini kami mampir untuk memuaskan hasrat. Pesanan: sate lidah dan sate usus.

Bermacam-macam sate yang tersedia di Jo Andah, ada lidah, paru, jantung dan tentu saja ayam dan daging

Karena kami datang pukul 4 sore, pengunjung masih sepi, jadi kami bisa bercanda dan bertanya-tanya kepada para abang sate yang berseragam batik merah. Api menyala di tumpukan arang, panci stainless ukuran 10 liter langsung menempel di arang yang menyala-nyala, sepertinya ini cara menjaga agar kuah sate tetap hangat. Di sebelahnya, panci dengan ukuran yang sama penuh berisi irisan bawang goreng yang harumnya tidak terkira.

Pesanan kami mulai dijejer di atas perapian, kipas-kipas, kemudian diolesi minyak. Tetesan minyak membuat asap makin tebal dan bau sate menguar memenuhi udara sore yang basah. Kemudian sate dengan kuah berasap tersaji di atas piring beralas daun pisang. Taburan bawang goreng seolah menjadi sayuran di atas kuah. Hemmm…sate lidahnya masih seperti yang dulu, lezat! Saya coba sate usus, ternyata empuk juga. Biasanya, usus agak alot dan susah dikunyah, tetapi di Jo Andah sate ususnya benar-benar empuk.

Sepiring sate lidah Jo Andah, mari bersantap!

Buat kalian yang penasaran dengan sate Padang Jo Andah, silahkan datang ke Jalan Setiabudi No.229A. Kalau ingin mencicipi sate lidah jangat terlalu sore, pengalaman kami di atas pukul 7 malam biasanya sudah habis.

Ziarah Mpu Kameswara ke Ranu Kumbolo

0

Pagi itu [Sabtu 2/7], kami tiba di base camp Ranupani dalam pendakian ke puncak Gunung Semeru. Masih Pukul 07.00 Wib. Kantor TNBTS belum buka. Kami mondar-mandir kedinginan sambil membaca segala macam pengumuman di dinding depan kantor. Menjelang Pukul 08.00, seorang lelaki menghampiri kami menanyakan apakah kami berencana mendaki Semeru. Serentak kami jawab: “Ya!”
“Silahkan masuk ke ruang briefing di sebelah sana ya,” katanya menunjuk tangga turun di belakang pos tiket.
Di ruang, briefing seorang voluntir sudah menunggu dengan sarung terkalung di leher dan sandal jepit. Ternyata penjelasannya canggih, jelas dan terperinci untuk menjaga keselamatan, jalur pendakian, apa yang tidak boleh, petunjuk-petunjuk yang harus diperhatikan, dlsb. Salut buat kaka voluntir yang keterangannya sangat bermanfaat dan membuka wawasan kita.

Semeru 3Salah satu penjelasannya yang menarik adalah tentang Ranu Kumbolo, danau suci umat Hindu dan Buddha. Sang Voluntir menjelaskan, di Ranu Kumbolo dilarang mandi, mencuci peralatan, berenang dan membuang sampah. Jika membutuhkan air untuk kegiatan cuci mencuci, bahkan gosok gigi, ambil airnya bawa menjauh paling tidak 10 m sebelum melakukan kegiatan mencuci.
“Air yang digunakan umat beragama untuk kegiatan upacara keagamaan sangat tidak elok kita perlakukan dengan seenaknya. Silahkan kembalikan kepada diri saudara-saudara sekalian, jika misalnya hal yang demikian dilakukan kepada anda,” katanya tegas.

Esoknya, Pukul 05.30 saya terbangun. Semalam kami mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Saya tidak menyadari kalau tenda kami dekat dengan batu prasasti Tirtahayatra. Pagi itu, saya keluar tenda menikmati cahaya matahari yang mulai bersinar lembut. Tidak jauh dari tempat saya berdiri seorang lelaki muda mengenakan sarung batik dan mulai menyalakan hio. Tanpa ragu-ragu dia duduk di atas rumput berembun, melipat tangan dan mulai mendoa. Bibirnya bergerak pelan seolah mendaraskan mantera. Saya terpukau menyaksikan kekhusukannya, tidak kurang dari 20 menit. Setelah dia berlalu, saya mendekati batu berlilit kain kuning, yang ternyata adalah prasasti Tirtahayatra.

Di depan prasasti yang dipagari kawat, saya lihat banyak sesajen yang mulai mengering. Hio anak muda tadi masih mengeluarkan asap yang wangi. Dari website Ekspedisi Cincin Api, saya mendapatkan bunyi prasasti itu: ‘Ling deva mpu Kameswara tirthayatra’ yang artinya seorang mpu yaitu bernama Kameswara pernah melakukan tirthayatra (ziarah suci) ke Gunung Semeru. Tafsir menyebutkan prasasti ini berasal dari masa kerajaan Kadiri (1182 M) karena Kameswara adalah raja di kerajaan tersebut. Namun tafsir lain mengatakan bahwa kata deva dan mpu adalah tokoh spiritual bukan raja dan dari hurup di prasasti lebih bergaya Jawa Tengah yang digunakan masa Majapahit.

Ternyata, nenek moyang kita sudah sejak lama mengenal yang namanya hiking. Hiking yang mereka lakukan bukan sekedar olahraga atau berwisata tetapi sekaligus juga dengan perjalanan ziarah.
Memang kawasan TN Bromo Tengger Semeru ini dikenal sebagai kawasan suci untuk umat Hindu khususnya suku Tengger dan Buddha. Kearifan spiritual mereka tidak hanya terkait dengan upacara keagamaan tetapi juga dengan kelestarian lingkungan. Setelah Ranu Kumbolo, ada beberapa pos yang harus dilewati sebelum sampai di Kalimati. Di setiap pos camping, ada beberapa pohon yang diikat kain putih. Kain putih ini menandakan dilarang mendirikan tenda di bawah pohon tersebut, karena mereka meyakini ada makhluk dunia lain yang berdiam di situ. Bahkan, setiap tahun ada saja kegiatan kegamaan yang dilakukan oleh Suku Tengger di beberapa titik di TNBTS.

Mestinya, dengan melihat kawasan TNBTS yang sudah merupakan kawasan suci sejak jaman dahulu, para pengunjung dapat lebih sadar diri dalam menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan. Seperti kata voluntir di sesi briefing: Semeru tidak butuh manusia, manusia yang butuh Semeru!

Takut kolestrol? Enda cibet, kadih!

0

Cibet adalah makanan khas Karo yang mungkin agak aneh bagi orang bukan Karo. Cibet merupakan larva yang akan tumbuh menjadi capung. Cibet senang bermain di sawah dan rawa-rawa. Di sana mereka tumbuh menjadi capung.
Di beberapa daerah Karo yang penghasilan utamanya bertanam padi sawah, sang cibet bagaikan sahabat di kala suka dan duka. Cibet kaya protein dan paling enak digulai seperti nurung ikerahi. Tak heran, sesekali petani juga doyan mengkonsumsi cibet. Kalau sekedar dimakan sendiri, tidak sulit memperolehnya.

Tapi… Tunggu dulu. Itu dulu. Beberapa dasa warsa silam. Sekarang ini, bukan main sulitnya mendapatkan cibet. Jumlahnya menurun drastis sejak gencarnya pestisida campur tangan di sawah. Bukan berarti cibet tidak ada lagi, tetapi perlu waktu dan tenaga ekstra mendapatkannya.

Ada segelintir orang yang terus berusaha agar cibet tetap masuk dalam daftar menu orang Karo. Mereka mencari, menggulainya dan, kemudian, mereka jual. Pencarian cibet biasanya dilakukan para keluarga terdekat, terutama anak-anak. Cibet dimasak kerah dan kemudian siap dikonsumsi.

Pemasaran cibet masih tradisional. Mereka bawa ke pasar dengan kukusan aluminium. Gelas kecil sebagai takaran. Satu gelas berharga 5 ribu rupiah. Ini tak sulit ditemui pada wari tiga. Bagaimana dengan hari-hari biasa? Nah… Ini salah satu terobosan pasar. Mereka menjajakan dagangannya dari jambur ke jambur. Tamu-tamu di jambur mereka kelilingi satu per satu. Banyak tamu jambur membelinya karena alasan kesehatan. Terutama yang punya masalah dengan kolesterol, darah tinggi dan penyakit makmur lainnya.

“Kari daging kang bengkaunta. Pangenlah cibet enda sipan. La lit lemakna,” begitu sebagian pembeli bertukas. Kebetulan Sora Sirulo bertemu seorang penjaja cibet. Dialah yang pertama kali menjajakan cibet dari jambur ke jambur. Kini, banyak orang mengikuti jejaknya. “Adi kerja si maté-maté, la aku pang erbinaga, nak, la kuakap cocok. Kalak ngandung, kita cari makan ka jé,” ujarnya kepada Sora Sirulo saat ditanya mengapa dia muncul hanya pada acara perkawinan.
“Aku labo Batukarang nari, kadih. Ula kari akapndu aku anak jah,” sanggahnya ketika Sora Sirulo menanyakan sejak kapan Batukarang memproduksi cibet.
“Tapi, jah nari cibetndu é,” timpal Sora Sirulo.
“Jah rumahku. Jah anakta. Ban anak jah impalta, ah. Aku anak Jahé-jahé nge. Kempak Bukit Lawang ah. É kap maka marénda usur aku tokohi kalak jah. Anak Jahé-jahé la ergumbar, nina. Ih….mis nge kupantik,” urainya menggebu.
“Uga bandu mantiksa?”
“Iyak…pokokna enggo kutuduhken man anak kuta maka aku rajin ras beluh. Enggo kutukur rumahku. Kutukur sabahku sada panggung. Enggo ka kutama lau ku rumah. Lit ka kuban gundari kamar mandiku,” jawabnya bangga.

Usaha sederhana ini ternyata membuka lapangan kerja bagi orang lain. Dia mengerahkan anak-anak remaja di kampung mencari cibet. Untuk segelas kecil cibet dia bayar seribu rupiah. “Tiap wari lit sinaruhken cibet ku rumah,” ungkapnya.
Kebetulan, cibet masakan beru Tarigan ini sudah lumayan terkenal. Suatu ketika dalam acara perayaan Paskah Moria yang diadakan di Jambur Halilintar Medan, dihadiri ribuan Moria, dia diundang panitia membawa cibetnya. Tidak tanggung-tanggung, dia bawa 5 kukusan sekaligus. “Licin tandas,” katanya.

Tidak selalu cibetnya habis. Tetapi ini tidak mengurangi semangatnya. “Bagé kin adi erbinaga. Maun keri, maun lang. Émaka kuban kang cinaku ras kusuan pagé, gelah ula putus uang masuk é,” katanya berfalsafah. Kerja kerasnya tak sia-sia. Satu rumah sederhana dan sepetak sawah dia miliki. Bangga dia cerita tentang anak-anaknya. “Telu anakku, teluna sekolah. Kerina juara. Merhat kal aku seh pagi sekolahna kerina. Sekalak anakku gundari sekolah i Magelang, i SMA Taruna,” tuturnya bangga.
Ibu yang mengaku cepat yatim piatu ini bilang tidak pernah malu berdagang cibet dari jambur ke jambur. Selain mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, dia sudah beri warna baru dalam khasanah masakan Karo. Inikah pelestarian tradisi yang sesungguhnya? Atau inikah yang disebut berhanyut bersama kekinian?

Cerita Rakyat Karo: Beru Rengga Kuning

0

Lereng Gunung Sinabung jauh di sana selalu berwarna merah menyala. Kegarangan Sinabung tertutup oleh lembayung yang menyelimuti pepohonan dan rekahan di lereng gunung. Jika senja semakin gelap dan cahaya semakin merah, orang tua di desa ini selalu bergegas menyuruh anak-anak segera masuk ke dalam rumah. Katanya, jangan mencari masalah. Masalah bisa datang dalam bentuk apa saja di senja merah.

Seorang perempuan terlihat menyunggi tabung bambu berisi air dari kejauhan. Bayang-bayang tubuhnya menjadi panjang disorot cahaya surya. Dia bergegas meninggalkan rombongan perempuan di belakangnya. Hatinya panas dan sedih. Setetes air bergulir di sudut matanya, dadanya sesak menahan rasa. Langkahnya makin cepat dan panjang. Perasaannya diletupkan dengan membanting pintu rumah dan membanting pantat tabung air di lantai kayu. Nande yang sedang sibuk di depan perhatian memandanginya heran.
“Apa kamu sedemikian gusarnya sehingga mengagetkan kami?” tanya Nande pelan.
“Aku sudah tidak tahan lagi, Nande. Orang-orang desa ini semakin keterlaluan, mereka bicara tanpa pikir,” isak Rengga Kuning tertahan.
“Sedari dulu juga begitu. Mengapa harus risau?”
“Berhentilah berpura-pura, Nande, aku tahu kam juga gusar dan bingung memikirkan Abang.”
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Tunggu dan sabar, nanti Abangmu akan kembali juga. Kerjakan tugasmu, bukan tugasmu atau urusan mereka mencampuri pekerjaan lelaki,” sahut Nande dingin.
Rengga Kuning semakin kesal. Brukk.. Si Hitam anjingnya sampai mengkeret di sudut rumah. Kakinya menghentak lantai kayu, lalu menghempaskan badannya ke pembaringan. Air matanya berderai-derai. Tidak mudah baginya beradu kata dengan perempuan-perempuan di pemandian. Dia tidak biasa berdebat, mulutnya tajam, tidak bisa berbasa-basi. Mereka tahu betul itu, sehingga sering menyindir Rengga Kuning di keramaian. Ya, di keramaian, tidak hanya di pemandian juga di acara-acara kuta lainnya. Mereka akan memanfaatkan kesempatan menghempaskan Beru Rengga Kuning yang mereka anggap tingkahnya tidak lazim untuk ukuran perempuan Karo. Si Belang kucingnya seolah paham kedukaan Rengga menyusukan kepalanya ke pundak tuannya dan mengeong pelan.
Perempuan-perempuan Kuta itu juga tidak bisa disalahkan. Rengga Kuning memang suka melakukan yang aneh-aneh. Coba, mana ada perempuan di kuta mereka, bahkan di kuta lainnya yang mengendarai kuda seperti orang kesurupan. Waktu itu wari tiga di Tiga Pancur. Namanya wari tiga suasana ramai, dari jualan sayur mayur sampai emas dan perak, dari kain tenun sampai tukang obat, dari sirih pinang hingga terasi. Belum lagi orang-orang yang belanja dan yang sekedar melihat-lihat. Ramai sekali. Anak-anak sampai nenek-nenek, semua bersukaria, maklum hanya seminggu sekali.

13009711_1110823855605262_1516239466_o

Siang terik yang ramai itu tiba-tiba buyar karena suara kuda yang berderap menuju pasar. Terdengar juga gonggongan anjing mengiringi kelajuan kuda. Penunggang dengan rambut berkibar-kibar dengan saluar kuning mengkilap terlihat kewalahan mengendalikan kuda. Setiap dia menarik kekang, kuda meringkik dan penunggang itu terus berusaha mengendalikan kudanya. Kuda jantan coklat bersurai gelap itu semakin menjadi. Berputar-putar mengangkat kaki di seputaran pasar. Wajah penunggang kuda itu terlihat tegang, tetapi tegas. Dengan sekali hentakan keras, akhirnya kuda itu berhenti tepat di depan penjual ikan mas. Si penunggang menyeringai puas, senyum menghias wajahnya yang hitam karena debu. Si Hitam menyalak gembira melihat kehebatan tuannya. Ekornya tiada hentinya berkibar dan kakinya melompat-lompat riang.
Lalu, mulai terdengar teriakan protes, sebagian makian karena dagangan mereka hancur lebur. Penghulu akhirnya turun tangan sebelum si penunggang dikerumuni orang-orang sepasar. Malam itu, Nande membayar kerusakan dan kerugian yang diakibatkan Rengga Kuning dan kuda barunya. “Perempuan itu di rumah, ladang atau pemandian, bukan menunggang kuda,” gerutu mereka sambil berlalu.

Soal kuda mengacau pasar sebenarnya sudah dimaafkan sejak nande mengganti semua kerugian. Ada kejadian lain yang membuat banyak orang kuta tidak menyukai Rengga Kuning dan Abangnya. Masih soal hal-hal yang menurut mereka tidak pantas dikerjakan seorang perempuan. Waktu itu Bapa mereka masih hidup. Bapa yang hebat, yang selalu mendorong Rengga Kuning belajar dan belajar. Bapa bilang, hanya dengan belajar dapat mengikuti perubahan jaman, suatu saat engkau akan sendiri. Bapa dan Nande tidak akan selamanya bersamamu, katanya. Rengga Kuning belajar menulis pada Guru Si Meteh Wari Mehuli. Dia sangat maju dan haus ilmu. Surat-surat di kulit kayu dapat dibacanya, bahkan curahan hati para lelaki di batang bambu. Abangnya kalah jauh soal kepandaian membaca ini.

Mereka juga pergi belajar ndikkar kepada Guru Perteguhen. Sudah adatnya Rengga Kuning setiap belajar tidakpernah setengah hati. Jurus dan langkah kaki dimainkannya bak penari ulung, tetapi pukulan tangan dan tendangan kakinya mematikan. Urusan belajar ndikkar inilah yang membuat suasana di kuta berubah. Menurut Abangnya, Rengga dapat dengan mudah mematahkan lawan sekalipun lelaki. Ndaram tidak sekedar berbual, soalnya beberapa kali Rengga membuatnya terkapar dan minta ampun. Di kedai kopipun tak habis-habisnya Ndaram menceritakan kehebatan Rengga.

Lopiga yang diam-diam menaruh hati pada Rengga selalu mendengarkan bualan Ndaram. Walau tak sepatah kata terucap dari bibirnya, hati dan pikirannya mencatat baik-baik semua yang diucapkan Ndaram. Selain menaruh hati, Lopiga juga merasa pernah dipermalukan Rengga di depan sahabat-sahabatnya. Menurutnya, Rengga sangat menyepelekan perasaan suka yang ditunjukkannya. Bagaimana tidak, Rengga hanya menganggapnya anak manja yang selalu mengandalkan orang tua, mau menang sendiri dan tidak bisa menghargai perempuan. Bagi Lopiga itu bukan alas an, lelaki sudahlah seharusnya menjadi raja, dihormati dan dilayani. Apalagi dia bukan anak orang sembarangan.

Senja itu mengawali segalanya. Meski rajin belajar, Rengga tidak pernah lupa tugasnya mengambil air dengan tabung bambunya. Jalan ke pemandian tidaklah rata. Menurun, jalan setapak yang kiri kanannya ditumbuhi lalang dan hutan kuta. Lalang yang setinggi orang dewasa menjadi tempat persembunyian burung dan binatang-binatang kecil lainnya. Umumnya perempuan-perempuan kuta selalu berombongan ke tapin dan pulangnya juga demikian. Rengga yang selalu disibukkan dengan bermacam pelajaran dan pekerjaan, selalu terlihat terburu-buru dan bergegas sendiri. Kebiasaannya ini rupanya sudah diperhatikan Lopiga. Lopiga lalu merencanakan waktu yang tepat untuk menyergap Rengga dan akan memaksanya menerima cintanya. Tiga orang kawannya bersedia membantu.

Senja itu matahari merah terpancar dari lereng Sinabung. Burung-burung bernyanyi di sela-sela ilalang, angin sepoi-sepoi. Rengga bergegas menjunjung tabung bambu buluh belinnya. Suara gemerisik di sela ilalang membuatnya menelengkan kepala sejenak, tak peduli langkahnya semakin panjang. Si Hitam yang selalu setia mengiringinya terdengar menggeram. Haapp…. Tabung bambu jatuh, dunia menjadi gelap. Tidak kurang dari 3 orang menyergapnya dan menyeretnya memasuki belantara ilalang. Nafasnya sesak satu-satu, penyergap itu ketat sekali mencengkeram lehernya. Terdengar si Hitam bertarung dengan si penyergap. Ribut sekali. Tiba-tiba….LEPASKAN! Terdengar suara keras tegas, suara yang tidak asing. Pelukan di leher mengendur. Bug. Rengga menghajar perut si pemeluk dengan sikunya. Lepas. Demikian juga kain penutup kepala. Abang Ndaram!
Tidak usah diceritakan bagaimana dua bersaudara ini menghajar Lopiga dan kedua temannya. Terkapar berdarah, kecut hitam merah. Tanpa ampun. Senja jatuh ke malam ketika mereka berdua sampai di rumah. Dan sungguh, kemudaan dan semangat mereka tidak menduga pertarungan sore itu akan merubah jalan hidup mereka sekeluarga. Peristiwa ini kemudian menjadi catatan berbekas di hati dan kepala Rengga seumur hidupnya dan menjadi alasan utamanya mendahulukan keluarga kapan saja.

Jelang tengah malam, sekelompok orang berbicara pada Bapa di dalam rumah. Mereka mengatakan Lopiga terluka parah dan kakinya patah tebu di dua tempat. Belum lagi kawan-kawannya. Mereka tidak bisa bilang apa yang akan terjadi pada Ndaram. Bapa dan Ndaram diminta bersiap untuk siding di Balai 2 hari lagi. Sidang ini akan melibatkan Sibayak. Ketika para tamu sudah berlalu, Bapa tepekur bersila. Tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Wajahnya semakin legam, kerutnya seakan bertambah. Rengga meletakkan kepalanya di pangkuan Nande, buliran air mata jatuh di pipinya. Ndaram pucat, keringat dingin terbit di dahi dan punggungnya. “Sudah, sekarang semua istirahat. Besok kita bicara lagi,” Bapa bangkit sambil menepuk bahu Ndaram.

Bulan bersinar terang. Bintang-bintang masih malu berkelap-kelip. Puncak Sinabung menghembuskan asap tipis, seperti pria tua yang sedang merenung dengan rokok daunnya. Langit cerah terlihat biru gelap. Masih terngiang kata-kata Nande sebelum berangkat tidur tadi: Apapun dapat berlaku di dunia ini dan bumi tidak pernah membedakan kebaikan dan kejahatan, dimanapun engkau berdiri lakukan sebaik-baiknya. Rengga menutup jendela sambil melantunkan doa pada Sinabung.

Balai kuta entah mengapa selalu suram kalau sudah masuk perkara pertimbangan hukuman. Tiang-tiang kayunya serasa semakin hitam, kokoh menahan langit-langit. Jerjak kayu di jendelanya walau kurus tampak kuat, seolah menyedot wajah-wajah yang menempel di situ. Muka mereka seakan hendak terbelah. Bapa dan Ndaram sudah sedari tadi di dalam. Nande dan Rengga berdiri berdua di luar menanti mereka. Warga Kuta yang lain berbisik-bisik. Menanti juga, menanti kabar baik yang tak baik selalu mendebarkan mereka. Gadis-gadis berbalut kain indigo sesekali melirik kepada Rengga, tanpa pernah menyapa. Warga meramalkan Ndaram akan dijatuhi hukuman berat, karena Sibayak pasti akan membela Lopiga, bere-berenya.

Udara semakin panas. Nun jauh di sana Sinabung masih menghembus asap tipis-tipis. Sekali ini tidak seperti lelaki tua yang sedang merenung dengan rokok nipah, tetapi serupa Nande yang sedang memasak makanan kesukaan anaknya. Rengga menarik nafas tertahan, para lelaki mulai keluar dari Balai Kuta satu-persatu. Abang dan Bapa berjalan pelan, Bapa memegang bahu Ndaram. Dengan kuda-kuda yang teguh, Bapa berkata-kata di tengah halaman Balai. “Anakku Ndaram akan memikul tanggung jawabnya sebagai lelaki. Lelaki yang sudah berusaha mempertahankan kehormatan adiknya, membela keluarganya. Anakku akan menjalankan hukuman tanpa melawan, tanah tumpah darah ini menjadi saksiku dan anakku, pembelaan tidak mesti dengan melawan,” dengan kuda-kuda yang teguh Bapa mengucapkan sumpahnya. Warga menyisi memberi jalan kepada Bapa dan Abang, Rengga dan nande mengikutkan mereka dari belakang. Senyap. Angin Sinabung dingin menyapu wajah dan pundak mereka, ada yang menggigil. Senja mulai turun, walau belum merah. Esoknya, subuh jauh sebelum matahari terbit, Bapa, Nande dan Rengga menghantar Ndaram ke gerbang kuta. Bapa memberikan semua tabungannya pada anak lelaki kebanggaannya, Nande berkali-kali mengusap wajahnya yang berair. Tanpa kata, pergilah si sulung, buah cinta perdana mereka.

Begitulah hidup. Waktu dan jalan nasib seakan ingin memainkan manusia hingga peran terdalam dan tersakit. Kesusahan selalu diikuti kesusahen lainnya, masalah selalu menggandeng masalah lainnya, ada pula yang sedang berbahagia bertambah-tambah bahagiannya. Setelah Ndaram pergi, Bapa memburuk kesehatannya. Ketegaran Bapa ternyata hanya diluar saja, di dalam jiwanya remuk redam, bathinnya hancur lebur. Walau terlihat teguh kokoh menyusuri ladang dengan Nande, tetapi tubuhnya kalah dengan kegelapan hatinya. Suatu malam gembura yang dingin, Bapa berangkat tidur dan tidakpernah bangun lagi. Adakah hari-hari lebih gelap dari hari ini? Demikian bathin Rengga teremas-remas oleh duka.
****

Air matanya semakin berderai membasahi bantal. Hidungnya tersumbat. Sudah 2 tahun sejak kepergian Ndaram dan 1 tahun kepergian Bapa. Burung-burung tidak hentinya bernyanyi, tidak di pemandian tidak di kesain, semuanya berkabar hampir mirip. Akan lain rasanya jika kabar burung disampaian atau ditanyakan kepadanya. Bukan seperti beberapa bulan belakangan ini. Mereka berkabar seolah-olah Rengga dan Nandenya tidak ada. Mereka seperti sengaja menyetel suara seolah pelan tetapi tetap terdengar. Kabar burung semakin berbumbu. Tadi sore di pemandian ada burung yang bernyanyi:
Apa guna wajah cantik, tetapi lupa diri
Apa guna kaya harta, tetapi saudara terpasung

Burung itu berkali-kali bernyanyi. Rengga tidak berani mendekati kawanan burung, tidak tahu burung yang mana membawa kabar. Lalu, orang-orang di pemandian berkasak-kusuk.
Sudah dua minggu ini Rengga memohon kepada Nande agar mengijinkannya pergi mencari Abang Ndaram, yang konon katanya terpasung di bawah sebuah pohon. Manusia terpasung adalah serendah-rendahnya manusia. Terpasung karena tidak dapat membayar kewajiban, tidak dapat menebus kebebasan. Tidak mungkin orang sebijak dan sepintar Ndaram dapat terjebak dalam permainan utang dan terpasung. Rengga mencium ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang harus dia cari tahu sendiri.

Nande tidak pernah menjawab Rengga dengan ijin, melarang juga tidak. Dia hanya mengusap kepala anak perempuannya, matanya dalam menatap, tatapan sayang ibu kepada anaknya, tatapan duka ibu kepada anaknya, tatapan rindu istri kepada suaminya. Diam-diam Rengga mulai mengumpulkan pakaian Bapa dan beberapa pisau dan pedang di lemari rahasia. Dia memilih yang cocok untuknya. Selagi bekerja di ladang, Rengga melatih dirinya dengan segala senjata. Si Hitam dan Si Belang duduk berjejer menatap Rengga jumpalitan, bermandi abu, jatuh bangun. Nande hanya memandangnya dari kejauhan sambil menyiangi sayuran. Dia tahu sekali, anaknya adalah keturunan suaminya, keras hati dan pantang menyerah pada sesuatu yang diyakininya benar. Perasaan seorang Ibu selalu tepat. Nande sudah merasa, Rengga tidak lama lagi akan meninggalkannya untuk mencari Ndaram. Diam-diam Nande memberikan persembahan sirih di tengah ladang, lalu mengucapkan doa selamat untuk putri yang dikasihinya.
Senja merah cerah. Lereng Sinabung bercampur warna merah dan emas. Asapnya tipis saja, seolah Sinabung tua sedang bermain-main dengan angin. Malam ini akan cerah agaknya. Nande mengajak Rengga pulang awal hari ini. “Ladang masih dapat menunggu besok, tetapi doa baik tidak dapat ditunda,” kata Nande.
Senja itu asap dapu mengepul, aroma ayam lemang-lemang memenuhi rumah. Batu gilingan merebak aroma tuba dan cabe rawit. Darah matang ayam turut digilas batu, lalu kemudian ditetesi air jeruk nipis. Nande menata hidangan lezat, lalu memanggil Rengga ke belakang rumah. Tanpa kata, Nande melolosi pakaian Rengga, lalu hanya dengan selembar kain dia menuntuk anak perempuannya ke halaman belakang. Aroma jeruk purut dan bunga menguar udara senja temaram. Nande mendoa lalu membasahi kepala Rengga, perlahan sehingga seluruh tubuhnya basah. Demikian berulang-ulang sampai air doa dan mantra habis dihamburkan. Si Hitam dan Si Belang duduk berjejer menyaksikan upacara cinta ibu kepada anaknya. Malam itu, tidak hanya Rengga makan enak, si Hitam dan Si Belang juga dapat porsi istimewa. Malampun jatuh, semua senang, semua kenyang. Kembali Rengga membuka jendela kamarnya dan melayangkan mata ke Gunung Sinabung. Langit cerah. Ah…tiga bintang di atas Sinabung seolah membentuk segitiga. Ketiganya cerah cemerlang, berkerlip gemilang. Ini jarang terjadi.
Rengga tersentak, tersadar dari pesona indah. Ya! Inilah saatnya menunaikan tugas. Nande ternyata tajam membaca tanda alam, hari ini dia menunaikan tugasnya sebagai Ibu, membekali anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Rengga bergegas menyusun pakaian dan senjata Bapa yang sudah dikumpulkannya. Si Hitam mengekorinya dari belakang kemana saja langkah Rengga dalam rumah. Sekali lagi, Rengga menyapukan matanya ke seluruh rumah, lalu menatap gurat halus di wajah Nande, dia melangkahkan kaki ke istal kudanya, si Jago. Pelana dan semua bekal sudah terpasang di punggung kuda.
****
Malam itu bintang bertabur, angin bertiup pelan. Malam itu Sinabung merokok dengan asap tipis mengepul, menatap dengan senyum simpul menyaksikan Beru Rengga Kuning menuntun kudanya menyusuri jalan berbatu. Entah sampai kapan dapat kembali lagi melawat kuta.